Arcandra Tahar, miris sekali Pak!

“Kalau di Indonesia, apalagi yang harus saya selesaikan? Tetapi kalau kembali ke Amerika, saya tidak lagi punya paspor Amerika. Benar, saya tidak lagi punya paspor Amerika,” Itulah yang di ucapkan oleh Pak Arcandra Tahar, Mantan Mentri ESDM, yang saya kutip dari tribunnews.com.

Miris sekali ketika banyak orang memperdebatkan statusnya yang memiliki dua kewarganegaraan. Indonesia dan Amerika. Isu ini baru merebak setelah ia membuat keputusan yang memotong beberapa triliun anggaran “projek” yang menurutnya membuang uang Negara.
Sepertinya ada pihak yang tidak senang dengannya. Ada pihak yang akan banyak sekali dievaluasinya sehingga pihak-pihak politik tersebut menyebarkan rumor ini dan menimbulkan kegelisahan masyarakat.

Tapi menurut saya, lelaki kelahiran Padang ini telah membuat keputusan bijak. Demi membantu Negara Indonesia yang sangat banyak masalah, dia telah menerima tawaran presiden untuk menjadi menteri yang akan bertugas menyelesaikannya. Sekarang hanya karena “hal sepele” menurut saya, ia malah dipecat. Sangat disayangkan. Padahal jika memang pun dulu dia memiliki dua kewarganegaraan, toh dia kan telah melepas status kewarganegaan amerikanya.

Bukankah begitu?

Dia telah kembali demi membangun negeri, yang dulu mengabdi di negeri orang sebagai presiden Petroneering di Houston, negara bagian Texas,  sejak tahun 2013 hingga 2016.

Kini dia kembali karena sebuah panggilan. Kini dia kembali untuk memenuhi nurani untuk membangun negeri. Tapi dia tercampakkan.

Ah. Saya heran, banyak orang pintar yang tersingkir karena politik. Pak Habibie contoh sebelumnya. Sekarang giliran Pak Arcandra. Sabar ya Pak.

image

Kisah ketabahan wanita paruh baya yang bisa menampar kita jika membacanya

Beberapa bulan yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang pegawai RS yang baru saja sakit. Bukan ‘baru sakit’ rupanya. Ternyata ibu yang saya prediksi berumur hampir empat puluh tahun ini sudah mengidap penyakit “ini” selama dua tahun.

Kunjungan ini berawal dari pulang acara halal bihalal yang kemudian dilanjutkan melancong ke rumah ibu ini.

Awal kedatangan kami, beliau langsung menyuguhkan kue dan minuman. Padahal kami ingin menjenguknya, bukan ingin merepotkannya.

Begini, dari cerita yang saya dengar, penyakit ‘ini’ yang saya maksud di paragraf pertama bukanlah penyakit berbahaya. Tapi penyakit ini cukup menganiaya.

Apa pasal?

Kalau dalam bahasa awamnya, sakit ibu ini adalah tidak bisa kencing. Bahasa medisnya urinary incontinence. Hasrat ingin buang air kecil ada, tapi si air kencingnya malah tidak bisa keluar. Hanya menetes sedikit demi sedikit dengan rasa sakit yang luar biasa.

Walaupun hidupnya pas-pasan, bukan berarti dia tidak berobat. Mulai dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya telah ia kunjungi. Ke dokter spesialis pun Ibu ini sudah bolak balik pergi. Namun hasilnya nihil juga.

Katanya rasa sesak hilang hanya sesaat setelah air kencing dikeluarkan melalui kateter (alat kesehatan penampung urin yang selangnya dimasukkan kesaluran kencing). Namun sampai di rumah obat yang diberi dokter seperti tak bermanfaat.

Hilang akal dengan obat medis, maka dicoba pula obat kampung. Berbagai macam ramuan pun telah dicobanya. Namun tetap sama. Hasilnya nihil juga.

” Aku sudah bolak balik berdoa sama Allah, minta kesembuhan. Dan aku juga sudah berdoa, jika penyakitku tak bisa sembuh juga, aku ikhlas jika Dia mengambil nyawaku” itu ucap beliau.

Mendengarnya berkata seperti itu, kami hanya menguatkan.

Ia pun kembali bercerita, karena penyakit yang ini tak kunjung sembuh, sesak kencing tak henti-henti, maka beliaupun selalu memakai “alat penampung kencing”. Bahkan meski beliau sedang bekerja.

” Ya mau gimana lagikan, dah diobati tapi tak sembuh-sembuh juga. Terpaksalah pakai kateter terus.” Ucapnya sambil tersenyum.

Saya kaget. Dasyat sekali ibu ini. Memakai kateter kemana-mana.

” Saya ikatkan kesini” ucapnya menunjuk ke bagian pinggang. Mungkin diikat pakai tali.

” Tiap setenngah jam saya ke kamar mandi untuk membuangnya” Tambahnya kemudian.

” Waduh Bu. Ga nyilu Bu?” Ucap saya mengernyitkan kening yang dari tadi hanya diam menyimak.

“Ya adalah Dek. Lebih hati-hati saja.”

Saya angguk-angguk. Saya berguman dalam hati, begitu kuat ibu ini. Meski dalam keadaan sakit, tapi beliau masih tetap bekerja. Padahal ibu ini kerjanya di rumah sakit bukanlah dibagian administrasi atau keuangan yang hanya duduk-duduk. Melainkan kerjanya bergerak sana sini. Mencuci.

Ya, sungguh hebat. Beliau bekerja dibagian laundry. Mengambil pakaian yang kotor, seprai yang kotor. Dari lantai satu ke lantai lima. Kemudian di cuci. Diantar lagi. Tentu banya gerak ini membuat potensi datangnya ngilu dibagian yang dipasang kateter itu akan semakin besar, bukan?

Ya Allah. Demikian hebat ujianMu, beliau masih tetap tersenyum seperti tak terjadi apa-apa saat beberapa lalu aku berpapasannya dengannya.

Saya merasa tertampar. Segera bersyukur atas nikmat kesehatan yang masih diberikan Allah kepada saya.

Begitupun Anda seharusnya kawan. Bersyukur jugalah atas kesehatan yang masih melekat di badan🙂

Kebiasaan Orang Besar

Menulis adalah kebiasaan orang besar.

Saya tersentak saat petama kali membaca kalimat ini, sekitar dua minggu yang lalu dalam sebuah buku. Saya akui, meski saat ini belum menjadi orang besar, setidaknya saat muda inilah kita harus berlatih mengasah kemampuan agar tajam.  Tapi kadang rutinitas yang menyibukkan,membuat kita tak sempat menoreh sepatah dua kata di blog yang memang telah usang.

Tapi lagi dan lagi, mungkin menulis itu belum menjadi kebutuhan, membuat kita lalai. Yang tidak sibuk, membuat alasan untuk sibuk. Padahal sesibuk apapun itu, Jika kita mau, kita akan bisa melakukannya. Ah, sepertinya saya sedang menampar pipi sendiri. Tidak apalah, biar kita sama-sama sadar. Apapun yang kita lakukan itu adalah pilihan. Tentang niat. Mau atau tidak. Disempatkan atau tidak.
Sebegitu mudah sebenarnya prinsipnya.

Kita ambil contoh,  jikalau kawan memiliki seorang teman -red: pacar (dilarang pacaran, ops!), maka jika ia tak memberi kabar kepada Anda dengan alasan sibuk, maka ketahuilah, sebenarnya niat untuk memberi kabar itulah yang tidak ada. Waktu sehari kan ada 24 jam. Mau berapa jam doi bekerja? Oke katakanlah super sibuk kerjanya 12 jam. Lalu apakah dia tidak punya waktu lima menit untuk menghubungi Anda? Kalau tidak, mungkin niatnya yang tidak ada, hingga terlupa.  Karena itu bukanlah suatu kepentingan atau keperluan bagi dirinya.

Begitupunlah sebenarnya menulis. Sesibuk apapun kita, jika tak berniat mengerjakannya, tak menjadi sebuah kepentingan dan kebutuhan bagi kita, maka alamak terlupakanlah ia.
Betulkah menulis itu kebiasaan orang besar?

Untuk pertanyaan itu, mari kita rasakan sendiri. Kita punya Handphone bukan? Punya facebook? Punya whatApp? Nah, begitu banyak tulisan-tulisan yang kita baca. Bukankah setelah kita membaca tulisan tersebut membuat kita kagum terhadap penulisnya? Kagum akan idenya? Dan terkadang tulisan tersebut seringkali membuat kita terenyuh dan tersentuh.

Ya, begitulah kebiasaan orang besar.

Belajar dari guru alam, si kupu-kupu yang lucu

Baru saja saya membaca broadcast di grup whatsApp yang berisi tulisan profesor Renald Kasali, seorang dosen UI.

Panjang lebar tulisannya, inti dari tulisan itu adalah jangan membiasakan anak menjadi manja. Biarkan anak-anak berusaha sendiri. Menyelesaikan masalahnya. Atau belajar tentang lingkungannya.

Misal, jika berangkat sekolah, tak melulu harus diantar, tak harus selalu dijemput. Tapi disini poinnya bukan anak SD. Melainkan si anak yang telah kuliah. Tapi menurut saya, sedari kecil, meskipun belum kuliah, si anak memang telah harus diajarkan hidup mandiri. Agar terbiasa.

Kata orang, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Begitulah pepatah yang sering kita dengar.

Jadi jika anak yang telah dewasa,yang sedari kecil telah mandiri, nanti jika dia berkesempatan menganyam pendidikan di negeri orang, ia telah dibekali mental yang kuat. Takkan jadi pohon rapuh yang mudah tumbang terkena angin lalu.

Jika ada masalah ia sudah bisa berjuang sendiri.  Jika ada hal yang tak beres si anak telah  bisa mengatasi sendiri. Pokoknya setiap ada kendala, otaknya telah telah berfikir mandiri untuk mencari solusi.

Tapi coba bandingkan dengan orang yang semasa kecilnya selalu diproteksi. Sedikit-sedikit dibantu. Sedikit-sedikit dibela. Tidak diberikan pengertian. Tidak ditanamkan pemahaman. Tentang hal baik yang harus dipetik dalam suatu kejadian. Atau yang lebih parah saat ini, malah ada orang yang mengadukan guru ke polisi karena menegur kenakalan si anak di sekolah. Zaman edan. Coba bayangkan saat nanti si anak telah dewasa. Dan si orang tua pun telah tiada, jadi jika nanti ada masalah terjadi kepada si anak yang telah dewasa, siapa yang akan menyelesaikannya jika bukan dari dalam dirinya?

Anak disayang bukan berarti harus dimanja. Tapi anak disayang harus ditempa. Biarkan ia tumbuh menjadi pribadi tangguh yang berani menatap dunia.

Dapat kita petik sebuah pelajaran dasyat tentang pentingnya suatu kemandirian dari Sang guru alam.

Coba kita bantu kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Maka sudah pasti ia akan lumpuh. Takkan bisa dan takjan mampu ia mengibaskan sayap indahnya. Kita kira kita telah membantunya, tetapi  ternyata dia malah teraniaya.

Tapi coba biarkan kepompong itu keluar sendiri dari bungkusan yang memenjarakannya, maka saat ia berhasil keluar sebagai kupu- kupu, maka ia akan sanggup terbang tinggi mengepakkan sayap indahnya.

Semoga bermanfaat.

image

Hal yang pantas didapatkan setiap perempuan

“Aaaaaargh!”
“Sakiiiiiiiiiiit”
Terdengar suara seorang perempuan mengerang setengah berteriak.

“Aduuuuuuuuh, suster. Sakiiiiiiit!”. Erang perempuan itu lagi dengan nafas memburu. Tersengal.

“Ia Bu. Sabar ya.” Ucap salah seorang suster.

“Aaaaaargh”. Wanita itu mengerang lagi. Tak tahan rasa sakit.

Saya merinding. Saya ada di ruangan itu.

Saya hanya menelan air ludah. Sedari tadi saya yang berada di ruangan itu, awalnya sepi-sepi saja. Tiba-tiba suara seorang wanita di balik tirai itu membuat saya kaget dan erangannya membuat bulu kuduk saya berdiri.

Beberapa bidan datang lagi untuk membantu.

“Sreeeet”. Gerai kain penutup yang tadinya menjadi sekat disibakkan.

Reflek saya melihat ke belakang. Karna hanya kira-kira lima meter jarak saya darinya, jadi terlihat seorang wanita hamil yang telah sampai bulan siap dengan posisinya. Ada si suami  berdiri di sampingnya.

“Waduh!”. Teriak saya dalam hati melihat posisi yang akan dilewati oleh setiap wanita yang akan dipanggil ” Ibu.”

Tak sampai sedetik, saya pun memalingkan wajah. Takut melihatnya.

“Ayo dek, lihat saja.” Ucap kakak kepala ruangan kamar bersalin itu.

“Ga ah Kak. Takut.” Ucap saya tersenyum sembari pura-pura serius mengecek jumlah stok baku yang akan ditetapkan di ruangan itu.

Suara erangan perempuan itu masih terdengar.

” Itu tuh, kepalanya udah keluar. Coba aja lihat sebentar.” Ucap kepala ruangan paruh baya beranak tiga yang masih saya panggil kakak, sesuai kebiasaan dirumah sakit itu.

Saya kembali tersenyum. Menolak secara halus. Tetap tak mau melihat.

Suara rintihan wanita itu masih terdengar.

Tak lama kemudian.

“Ooeeeek… ooeekkk..”

Terdengar suara tangis bayi mengudara.

“Alhamdulillah bayinya selamat” Ucap saya dalam hati, sembari masih mengecek Alkes-alkes untuk kamar bersalin itu.

Beberapa menit kemudian, saya melihat petugas mendorong meja beroda berisi peralatan medis yang digunakan untuk melahirkan. Ada gunting, perban dan lain-lainnya. Sudah pasti berlumur darah.

Oaaalah. Begitukah prosesnya?  Tanya saya dalam hati karena hadir tak sengaja di saat persalinan itu terjadi.

Erangannya. Darahnya. Subhanallah.

Saya angguk-angguk sendiri. Seperti saya lebih memahami sesuatu. Saya pun larut dalam fikiran sendiri.

Pantaslah saat seorang sahabat sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang siapa yang harus dihormati, Rasulullah menjawab:

Ibumu.”

Siapa lagi ya Rasulullah?

“Ibumu.”

Siapa lagi ya Rasulullah?

“Ibumu.”

Siapa lagi ya Rasulullah?

Ayahmu”.

Saya angguk-angguk lagi. Saya mengerti, ayah  menjadi sebutan yang keempat dalam daftar orang yang harus dihormati bukan berarti ayah dinomorduakan.

Tapi karena begitu besar tantangan seorang ibu saat melahirkan, begitu sakitnya proses persalinan, hingga mempertaruhkan jiwa dan raga, maka pantas saja seorang wanita mendapatkan penghormatan yang lebih.

Semua karena rasa memiliki

Iseng-iseng buka instagram, terbacalah sesuatu hal yang membuat saya terdiam. Terpojok. Terhakimi. Kata-katanya serasa menampar pipi.

“99% amarah tertumpah kepada dia yang kita cinta”. Oalahhh. Saya tersenyum. Tapi kembali terdiam.

Sebenarnya diam saya bukan berarti tidak setuju. Melainkan meresapi kata-kata yang baru terbaca mata.

Diam saya bukanlah pura-pura tak mengerti. Melainkan mencoba memahami. Dan membenarkannya di dalam hati.

Benar saja. Seringkali, dengan orang-orang terdekat, kita lebih sering marah. Kalau bahasa positifnya, ” kita lebih bebas berekpresi.” Mengungkapkan semua yang kita rasa. Mengucapkan semua hal yang ingin dikata”. Kadang tanpa bisa terlalu direm lagi.

Seharusnya memang ini tidak boleh. Karena siapapun punya pendengaran dan berlanjut kepada perasaan.

Namun seringkali hal ini jadi terlupa.

Meskipun penyebabnya adalah rasa memiliki terhadap istri/suami ataupun adik-adik kita, namun semuanya harus tetap dijaga.

Atau parahnya lagi marah-marah tidak jelas juga terjadi kepada mereka yang berpacaran. Lebih sering terjadi kepada wanita. Karena merasa tak terperhatikan. *bukan curhat ya.wkwkwk. Lupakan saja karna kita lebih membahas keluarga.

Sebenarnya kita sadar, saat anggota keluarga yang jadi ‘korban’ kita pergi, semua yang kita ucap dan lakukan padanya akan kembali terngiang-ngiang di kepala. Dan menyesal itu akan tiba.

Oleh karena itu, agar tak dilakukan lagi, maka ingat saja. Jika kita ingin mereka berlaku lembut kepada kita, bukankah kita seharusnya terlebih dahulu berlaku lembut kepadanya?

Di suatu kondisi, menonton lebih baik daripada tidur!

“Allah takkan mengubah nasib seseorang, sebelum seseorang itu berusaha merubah nasibnya”

Itulah sepenggal kalimat yang selalu terngiang-ngiang di otak saya, yang merupakan salah satu bunyi ayat alqur’an yang mengingingatkan kita agar tak kelalaian.

” Diberikan keberkahan kepada umatku di pagi harinya.” Itulah bunyi sebuah hadist.

Lalu jika kita dalam keadaan yang tak siap menerima itu, tentu keberkahan itu takkan sampai.

Kondisi seperti apakah yang membuat keberkahan itu tak sudi menghampiri?

Tidur. Tertidur ataupun sengaja tidur.

Saat kita tak mendulang berkah, tubuh malah tak berdaya.

Saat tubuh terbangun lagi setelah tidur dari shubuh hari, tubuh akan lemah tak bersemangat. Tubuh lemas tak berkeringat. Ya iyalah, tenaga untuk melakukan apa-apa tidak ada. Sangat kurang untuk melakukan hal yang bermakna. Untuk sepanjang hari.

Dan, tentu sakit kepala pun akan menghampiri. Jika kau tak percaya, ayo coba saja kawan. Tapi hati-hati, sekali kau tertidur di pagi hari, maka keesokkan harinya tubuhmu akan memintanya lagi.

Seperti narkoba, membuatmu ketagihan. Dan perlahan membunuh masa depan.

Sebenarnya agar hal ini tak terjadi, agar  semangat aktifitas seharian tak kehilangan, kita memang di larang tidur setelah sholat shubuh. Fatimah anak Rasulullah pernah tertidur pagi hari, dan Rasulullah segera membangunkannya.

Ada alasan medis sebenarnya yang membuat kita di larang tidur setelah shubuh. Jika itu terjadi, saat terjaga tubuh akan lemas karena fungsi tubuh menjadi tak normal. Metabolisme tubuh telah terganggu.

Saat kita bangun, kepala akan sakit. Pusing sepanjang hari. Hal ini bersebab cairan serebral telah merembes ke otak. Dan sering kali, mimpi buruk menghampiri.

Oleh karena itu, bukankah sebaiknya kita menghindari?

Jika belajar di pagi membuat kita terkantuk, bukalah video yang membuat mata kembali nyala. Atau, lakukan saja apa yang di suka. Asalkan tidak tidur.

Seburuk-buruk pilihan, lebih baik nonton film sebentar daripada tidur sesaat yang menelan semangat kita seharian.

Betul tak Kawan?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers