Intan yang Tak Lekang

Hallo kawan. Sahabat aksaraku. Sudah lama perjumpaan kita tak bertemukan waktu.

Inginku bercerita tentang kehidupan yang tidak selalu seperti yang kita inginkan. Tapi apapun yang terjadi, tetapkan hati dan maju kedepan mencapai apa yang kau inginkan.

Dalam keseharian, kita tak terlepas dari seseorang yang namanya “kawan”.

Ia yang menemani kita saat tertawa. Tapi ia mungkin tak selalu ada saat kita berduka.

Dan kadang, kawan itu bisa seperti pisau. Kadang ia bisa membantu kita memotong bahan masakan kita. Namun kadang pisau itu juga bisa menusuk kita hingga jantung terdalam.

Tidak dapat dihindari. Harus dihadapi. Memang sakit, tapi cobalah tetap berdiri.

Seperti lubang pada paku yang dipahatkan kepada papan, hati itu pasti akan terus berlubang. Bukanlah itu suatu dendam, tapi itu hukum.alam.

Maaf itu gampang diucapkan. Tapi semoga, senyum yang selalu kita tebar kepada semua orang, tertutupi oleh tiupan debu yang memang perlu memakan waktu.

Maka sebenarnya, jika ada seseorang yang memaafkan sampai ke lubuk hati yang paling dalam, lalu segera melupakan, maka ia adalah sebuah intan yang tak lekang oleh panas dan hujan.

Semoga kita semua jadi intan walaupun terbenam dalam lumpur yang hitam.

Tujuan hidup kita apa?

Kalau difikir-fikir, apa gunanya kita hidup, maka bisa saja hal itu membuat kita frustasi.

Tapi satu hal yang harus kita ingat. Setiap kita diciptakan di atas dunia ada tujuannya. Allah takkan menciptakan kita sia-sia.

Jika kita punya ibu dan ayah, maka kita hidup di dunia untuk membantunya dan membuatnya bahagia.

Jika kita ada keluarga atau teman yang kesusahan, kita hidup untuk menolongnya.

Jadi jangan hanya dibiarkan dan dilihat saja.

Lalu, jika kita punya ilmu, maka gunakanlah untuk orang banyak. Agar ilmu itu bisa memberi manfaat.

Karena dalam kubur kita pasti ditanya.

“Untuk apa ilmumu kau gunakan?”

Jika selama di dunia ilmu itu hanya dipendam dan tidak dimanfaatkan, tunggu saja murka malaikat si penanya dan menghantam jasad kita sampai hancur. Gertakannya saja tidak terbayangkan.

Lalu jika memang demikian, sampai kapan kita hidup? Sampai kapan kita menyia-nyiakan usia kita?

Bisakah kita memastikan jumlah sisa umur kita?

Tidak bukan?

Bisa saja saat ini kita tertawa, lalu malam nanti datang petaka, dan nyawa pun melayang sudah.

Astaghfirullah.

Lalu, apa bekal yang kita bawa untuk menghadapnya?

:[

Mata tak dapat dicegah, tapi hati harus bisa mengatasinya

Kata orang mata itu adalah jendela dunia. Kata orang, dari mata kita bisa mendapat secercah cahaya. Dan kata orang, dari matalah awal dari segalanya.

Memang betul kata mereka, namun bila hati tidak cerdas mengolahnya, maka mudaratlah yang akan datang menghampirinya.

Kenapa?

Karena dari matalah muncul segala rasa.

Seperti katanya lagi, dari mata turun kehati.

Sering sekali terjadi cinta pada pandangan pertama. Berawal dari mata, lalu merasuk ke dalam jiwa.

Memang sudah kodratnya, manusia cenderung menyukai hal yang indah-indah, tidak hanya berlaku melihat makhluk. Tapi juga kepada benda.

Ada sebuah cerita, seorang wanita berkunjung ke rumah tetangganya. Ia melihat ini itu, semua perkakas perabot yang mahal harganya, milik si tetangga.

Lumrah saja, tidak salah si wanita juga ingin memilikinya. Dan ingin diletakkan di rumahnya.

Lalu, tibalah saat sampai ia pulang ke rumah, si wanita mendesak suami ini dan itu untuk memenuhi kebutuhannya. Melepas dahaga matanya.

Akhirnya apa? Si suami jadi korupsi. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan si belahan jiwanya.

Lalu pada akhirnya, karamlah bahtera kapal keluarga, yang tujuannya berlayar hanya semata-mata untuk dunia.

Dari cerita diatas, seharusnya kita sadar. Saat si mata melihat ke atas, hanyalah debu yang akan masuk ke matanya.

Oleh karenanya, melihatlah selalu kebawah. Masih ada tanah yang diinjaknya. Yang berarti masih ada oksigen yang dihirupnya.

Jadi jika ini terjadi, maka beristighfarlah, segeralah mengingat manusia mulia yang pada akhir hayatnya ia masih berucap “ummati ummati ummati”, in sha Allah akan gugurlah semua asa yang hanya ingin mencapai dunia fana.

Kenapa?

Bagaimana tidak, Rasulullah tersebut, saat dijanjikan jabatan tertinggi dan seluruh kekayaan bumi beserta isinya, beliau menolak, dan memilih hidup dalam kesederhanaan.

Ini pasti selalu membuat kita terenyuh. Rasulullah hanya tidur beralaskan rakitan pelepah kurma. Yang saat ia bangun memberikan bekas pada kulit dan tubuhnya. Para sahabat pun menangis melihatnya.

Sedangkan saat ini, kita masih tidur enak di atas sofa.

Cobalah jikalah dulu Rasulullah memilih hidup berlimpah harta, tentu seluruh umatnya akan menirunya.
Namun kini kita telah mengetahui betapa sederhananya kehidupan Nabi Muhammad yang mulia, masih sanggupnya kita berleha-leha hidup di dunia hanya untuk mencari kemegahan yang fana dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya?

Beristighfarlah.
Astaghfirullahal a’zim
Astaghfirullahal a’zim
Astaghfirullahal a’zim

Semoga Allah selalu menunjukkan kita ke jalanNya.

Jangan tanya

Kau diangkat ke atas langit

Lalu dihempaskan jatuh ke bumi

Dan tulangberulangmu patah.

Entah kini sudah berjumlah berapa.

Kau akan menangis kepada siapa?

Dunia telah membatu.

Meski terkoyak mulutmu berteriak hingga langit ketujuh, mereka akan tetap membisu.

Kau akan mengadu kepada siapa?

Jangan tanya aku.

Aku sudah menyatu dengan tanah yang ditumbuhi lumut biru.

Allah takkan pernah lupa

Siang itu seorang perempuan bekata kepada seorang teman. ” Berharaplah hanya kepada Allah. Karena berharap kepada manusia hanya akan menyakitkan”.

Bukan tanpa alasan dia berkata seperti itu, karena memang sudah faktanya. Ketika kita meletakan suatu harap kepada manusia, dan saat harapan itu tidak tejadi, hanya kekecewaanlah yang datang.

Sebenarnya apa yang tejadi kepadanya? Kenapa dia berkata seperti itu?

Siang itu sekitar sebelum zuhur, seorang teman SD tiba-tiba mengirimkan pesan di WA kepadanya.

“Selamat ulang tahun”, itulah isinya. Dan dia lalu menyelipkan sebuah doa.

Tidak lama kemudian dia bertanya, “dikasih hadiah apa sama abangmu?” Dia bertanya perihal seorang lelaki yang sudah mengucapkan akad nikah di depan ayahnya.

“Sepertinya dia lupa. Atau pura-pura lupa.” Jawab perempuan ini sok enteng.

“Pura-pura lupa dia tu”. Kata Si teman ini lagi.

“Mungkin. Tapi aku tidak berharap. Berharap kepada manusia hanya akan mendatangkan sakit.” Jawabnya masih sok enteng.

Padahal sebenarnya memang berharap, lelaki yang sudah menemaninya hidup selama beberapa tahun lebih ini memang “pura-pura lupa”.

Begitu cerita singkat siang itu. Lalu sorenya ada lagi seorang teman yang pernah satu tempat bekerja juga mengucapkan selamat ulang tahun.

Alhamdulillah ia mengingatnya. Padahal, si perempuan ini juga sangat jarang mengucapkan “sekedar selamat ulang tahun” kepada teman-temannya.

Lain di luar lain di dalam. Meski dia berkata tidak berharap kepada manusia, tapi tidak dapat dipungkiri harapan itu tetap ada.

Berharap pulang kerja, si suami akan membawakan sesuatu. Tapi yang diharapkan tidak ada.

Sampai pada jam 11 malam saat akan tidur, seperti takkan terjadi apa-apa. Dia masih berfikir positif.

Mungkin dia ingin menjadi orang terakhir yang mengucapkan.

Tapi rupanya apa, sampai subuh keesokan harinya, semuanya terlewatkan begitu saja.

Mulailah setan-setan membisiki. Tentang si perempuan lain yang diperlakukan istimewa oleh suami saat hari ulang tahunnya.

Teringatlah sebuah cerita olehnya, seorang suami yang pura-pura lupa dengan hari lahir istrinya. Si istri mulai kesal. Lalu rupanya sebelum berganti hari, si suami menunjukan hal yang tidak terduga. Video ucapan selamat hari lahir dari orang-orang kenalannya yang memang sudah dipersiapkan oleh suaminya. Bahkan si suami menulis sebuah buku spesial, yang takkan ada di gramedia, hanya khusus ia tulis untuk istrinya.

Sudah pantas si istrinya nangis Bombay melihat kenyataan bahwa si suami memperlakukannya sangat istimewa yang tidak pernah melupakannya. Dan itu membuat ia merasa kehadirannya sangat berarti bagi suaminya.

Sebenarnya si perempuan ini tidak menuntut diperlakukan sama. Namun sebuah ucapan sederhana sudah cukup menyenangkan hati.

Misal,

“Terima kasih sudah menjadi istri yang akan selalu menemani sisa hidupku.”

Atau,

” Terima kasih sudah menerimaku menjadi suamimu, meski banyak kekuranganku.”

Nah, saat seorang suami mengakui bahwa dia memiliki kekurangan, karena memang tidak ada manusia yang sempurna, disaat itulah si istripun merasa bangga memiliki suami seperti dia. Karena dia pun sadar, semua orang yang dilahirkan keatas dunia ini tiada satupun yang sempurna. Begitupun dengan si istri ini.

Jadi begitu saja.

Intinya, kepada suami-suami. Ucapkanlah pengakuan-pengakuan sederhana, yang membuat hidup si istri lebih berharga dan bermakna. Sehingga ia pun semangat menjalani sisa hidup bersama orang yang telah ia pilih menjadi pendamping hidupnya.

Dan untuk si istri. Cobalah untuk mengerti. Mungkin karena tuntutan kerja yang padat membuat ia tidak sengaja melupakanmu. Berbesar hati lah. Karena Allah tidak pernah melupakanmu.

Sajak

Biarkan hujan terus turun

Biarkan bunga terus merekah

Biarkan bintang terus mengintip

Hingga nanti kita pun basah, merekah dan berkelap kelip di awan sana.