Dipekerjakan atau Mempekerjakan?

Setelah sekian lama saya meninggalkan aksara, ibarat hanya sebagai konsumen, bukan produsen, kadang adakalanya saya merasa ada yang kurang. Seperti di bagian hati ada yang berlubang.

Sebenarnya banyak cita-cita yang ingin saya capai. Tapi kerana cara yang tidak di “plan”, maka semua kabur satu persatu seperti daun-daun yang bertebangan. 

Lalu kemudian saya pun termenung. Menanyakan kepada diri, “apa yang harus saya lakukan?”

Saya menyadari, ketidakfokusan  ini timbul dari berbagai macam informasi yang diterima. Ini serasa bagus. Itu pun terlihat bagus. Akhirnya semunya serasa mau dikerjakan. Dan pasti, hasilnya takkan maksimal. Dan memang itulah yang saya rasakan.

Salah satu jalan keluarnya, saya harus membagi waktu. Kadang menjadi Bos untuk diri sendiri itu begitu sulit. Sedangkan jika orang lain yang menjadi Pimpinannya, maka sebenarnya kita bisa mendisiplinkan diri. Takut ditegur, takut diinikan, takut diitukan. 

Nah kalau bos nya adalah diri kita sendiri, siapa yang akan marah? Siapa yang mengingatkan disaat kita lengah? 

Itulah susahnya.

Ya, disaat mereka dipekerjakan, saya malah ingin membuat lapangan pekerjaan. Meski kadang, karena semuanya belum berjalan lancar, mereka yang dipekerjakan dengan gaji tetap setiap bulan, mengenakan pakaian rapi  ataupun seragam, terlihat prestisenya membuat para ibu rumah tangga menjadi segan.

Lalu apakah sebaiknya saya dipekerjakan orang saja? Atau saya tetap berinsut mempertahankan niat mempekerjakan orang?

Bukan pilihan yang rumit. Hanya dijalankan kadang terasa rumit.

Advertisements

Saat si bocah telah mendewasa

Pada suatu hari, saat si bocah kecil beranjak dewasa, maka ia akan berpindah rumah. Dari kediaman Ibunda ke rumah lain yang akan ia tempati bersama istrinya.

Ya, setelah akad nikah, maka si lelaki memikul beban baru. Tanggung jawab baru lebih tepatnya.

Setiap hari mencari nafkah. Membimbing istri. Merangkul anak jikalah telah diberi Karunia. Dan banyak lagi tentang keluarga kecil yang harus diurusnya.

Lalu, dengan kesibukan A, B, C, dll, maka bagaimana kabar Ibunda dan Ayahanda? Apakah mereka telah terlupa?

Sebagai anak yang baik, yang dari bayi diurus, dimandikan, disuapi, dan bahkan disetiap malam tidak tidur karena mengasuhnya, lalu bagaimana mungkin ia lupa akan pengorbanan orang tuanya ?

Jika ia, maka dialah anak durhaka.

Misalnya saja ia tidak lupa, tapi bagaimana dengan si istri kepada mertua? Apakah ia boleh marah atau bahkan membatas-batasi sisuami berkomunikasi dengan  sang orang tua?

Jika ia, dan ternyata sisuami terpengaruh karenanya, maka tentu, selain si suami, maka ia akan ikut dicampakkan ke dalam neraka yang membara.

Karena sama-sama kita tahu.

Saat seorang wanita menikah, maka ia akan menjadi Abdi suaminya. Menuruti semua perintah dan perkataannya. Tentu selama itu tidak melanggar agama.

Sedangkan si pria, saat telah menikah, maka ia tetap wajib tunduk dan patuh kepada orangtuanya, sabagaimana biasanya sebelum ia menikah.
Maka pahamilah, jangan lupakan mereka 🙂

Tentang Prioritas?

“Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau”. Begitu kata orang yang selalu membandingkan hidupnya dengan orang lain. Dan merasa nasib orang lain selalu lebih beruntung.

Tapi mari coba dilihat lagi tujuan hidup kita. Apa sebenarnya yang “benar-benar” menjadi keinginan kita.

Kadang memang ada juga waktunya, ketika melihat mereka yang sering jalan-jalan, melihat pemandangan indah, lalu memposting keindahan alam di luar negeri sana, membuat kita juga “ingin”.

Tapi lagi-lagi masalah prioritas. 

Kita tidak pergi jalan-jalan ke luar negeri bukan karena tidak bisa. Ke tempat tang dekat, ke negara negara tetangga saja pasti bisa.

Lagi-lagi hati kecil juga tak mengizinkan ke luar negeri. “Negaramu saja yang menjadi tujuan turis luar negeri belum kau kunjungi, lalu ngapain mau ke luar negeri? Menghabiskan uang tidak berguna saja” 

Begitulah kadang bisikan hati.

Kalau kita yang memang ingin memenuhi nafsu dunia, menghabiskan uang semaunya, lalu disaat masa sulit tiba, tabungan tidak ada, lalu kita akan mengadu kepada siapa?

Pasti repot kan ya?

Begitu sajalah. Seorang sahabat saya pun berkata, “hidup ini bukan saingan. Setiap orang memiliki resferensinya masing-masing.”

Fana

Kau tahu ranting yang berjatuhan di tanah?

Seperti itulah serasa jiwaku.

Kering kerontang.

Tiada guna.

Diinjakpun akan jadi luluh lantah.


Kau tahu aku ingin berteriak sekuatnya?

Karena aku takut menjadi tanah. 

Atau jadi debu yang ditiup angin lalu.
Tapi, sebenarnya tak mustahil bagiku.

ranting kecil  mengumpulkan tenaga setelah berdoa, untuk membakar lahan nestapa.

Ya Tuhan. Aku takut menghadapi dunia. Walau aku tahu mereka hanyalah fana.

Pesan dari si Kakek Tua

Seorang anak cucu Adam, sedang termenung dalam diamnya. Memikirkan tentang hidup. Tentu juga tentang dirinya.

Ia putar pandangan kesekeliling, begitu banyak orang yang susah. Ketika ia pendarkan pandangan ke ujung sana, nampak olehnya seorang kakek yang sedang menarik sepeda ontanya. Baru pulang dari pasar. Menjualkan dagangannya.

Kakek itu hanya tinggal seorang diri di sebuah gubuk kayu yang sangat jauh dari kata mewah. Rumah berukuran tiga kali empat meter sudah menjadi saksi hidup selama 20 puluh tahun lamanya, sejak ia pindah ke gubuk renta sana.

Suatu hari, si anak cucu Adam bertanya kepada si kakek, menanyakan tentang keluarganya.

“Hai Kakek. Ada apa gerangan dengan Kakek. Kenapa engkau hanya hidup seorang diri saja.”

Kakek itu lalu menatapnya. Mata sayunya mencoba menjawab. Tapi yang keluar hanya senyum tipis dari bibirnya. Lalu si Kakek bercelana hitam panjang yang telah terkoyak dilutut itu menghela nafas panjang.

Anak cucu Adam itu mengernyitkan kening. Menunggu. Tapi ia segera sadar. Takut menyakiti hati si Kakek.

“Maafkan saya jikalau ada kata yang tak berkenan di hati kakek. Tidak patut sebenarnya saya bertanya seperti itu”

“Tidak apa cucuku. Pertanyaanmu sedikitpun tidak menyakitiku. Aku hanya teringat masa lalu. Disaat aku masih muda sepertimu.”

Lalu kakek itu berhenti sejenak. Memandang jauh kearah depan, lalu kembali melanjutkan.

“Ini semua karna salahku. Dulu aku saat aku masih bujang, saat tulangku masih kuat, aku hanya berbuat sesuatu sesukaku. Hilir mudir bersama kawan. Ketawa ketiwi sesuka hati. Hingga tanpa sadar, hari-hari yang berganti telah menelanku bulat-bulat. Karna hanya berhura-hura, aku pun tak punya istri. Hingga saat ini.”

” Tapi tak mengapa. Itu salahku dulu. Kuharap kau tidak sepertiku. Manfaatkanlah waktumu untuk mengisi ilmu. Lalu dengan itu kau akan bisa hidup. Gunakan waktumu untuk melakukan kebaikan. Sedikitpun jangan kau sia-siakan.”

“Itu saja nasihat dariku. Gunakan waktumu sebaik-baiknya. Selalu berbuat baiklah. Karna saat kau berbuat baik kepada siapapun, sesungguhnya kau pun sedang berbuat baik untuk dirimu.”

Kunci Bahagia

Setiap hari yang kita lalui, jangan berharap kita akan pernah terlepas dari masalah. Selesai masalah satu, datang masalah lain. Baik orang miskin, kaya, beriman, dan tidak beriman, sekali-kali jangan berharap ia akan terlepas dari cobaan. Tentu bentuk dan rupanya beraneka ragam.

Si miskin diuji dengan tidak adanya uang. Ingin beli apa-apa tidak bisa. Ingin makan enak, tidak bisa. Lalu akhirnya mengumpat dan menyalahkan takdir. “Seandainya aku dilahirkan dari keluarga kaya.”

Si kaya beda soal lagi. Uang di bank banyak. Emas berlimpah. Mobil berderet di bagasi. Apalagi yang ia risaukan? Si miskin pasti berfikir, “ah, senangnya si kaya itu.” Padahal sebenarnya jika ia ketahui, si kaya walaupun banyak uang, ternyata ia tak bisa makan yang dia inginkan. 

Mau makan yang manis, dia mengidap diabetes. Mau makan bakso? Dia kolesterol. Atau mau makan gulai kepala ikan? Ia pun stroke. Akhirnya apa? Ia pun hanya menahan selera.

Atau jika ia orang kaya sehat, ia bisa makan semuanya. Eh rupanya ada lagi yang membuat ia risau. Entah kenapa ia malah gundah gulana tanpa sebab. Mobil mengkilat, uang berlipat, dan rumah bertingkat, ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya. Hidupnya terasa hampa. Hatinya terasa nestapa. Hingga ia sepanjang hari hanya berteman dengan si resah.

Atau jika si kaya itu cantik, punya suami ganteng, anak pun cantik dan ganteng, eh ga tahunya tiba-tiba suami selingkuh. Akhirnya ia serasa ditimpa bumi runtuh.

Atau lagi. Si anak punya orang tua kaya. Apa-apa tinggal minta. Uang banyak dikasih. Mobil ada untuk transportasi. Teman banyak kayak lebah. Eh, rupanya ia rindu akan kebersamaan dengan orang tua. Ingin dibelai. Ingin dimanja. Ingin ditanya-tanya tentang kesehariannya. 

Nah, memang begitu kan ya? Itu baru hanya secuil masalah-masalah yang dihadapi oleh kita-kita.

Ada lagi. Si Bapak ustad. Si ibu ustazah. Eh, anaknya malah murtad. Cobaan apalagi yang lebih besar dari ini?

Jadi hidup memang seperti ini. Kita dilahirkan untuk diuji. Bukan hidup “anteng-anteng” saja seperti jalan tol. Bebas tanpa hambatan itu takkan ada.

Lalu tentang apapun masalah yang kita hadapi, berlapang dadalah. Dekatkan diri kepada Sang Pencipta. Rapatkan barisan dengan keluarga. Saling menghibur. Saling mendukung. Saling mendokan. Dan jika ada yang tertimpa musibah yang membutuhkan uluran tangan kita, maka bantulah. Kadang, senyum terimakasih dari mereka adalah suatu kebahagiaan yang tidak terkira. 

Yang Perlu Dilakukan Saat Syukur Telah Hilang

Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji bagi Allah Sang pencipta Alam. Yang menguasai seluruh semesta. Dari yang kecil hingga yang besar.

Mesin pesawat mulai menderu. Aku duduk di pinggiran sayap. Mulai menatap, saat si dia yang punya sayap mulai naik ke atas.

Kupandangi ciptaanNya. Kutebarkan mata kesekelilingnya. Nampaklah rumah berlantai dua yang hanya sebesar kuku. Tidak beberapa saat, berubah jadi titik. Lalu menghilang.

Kun Faya Kum.

Jika Allah menghendaki, tidak perlu bersusah payah bagi Allah untuk menghempaskan kami yang sedang berada di atas terjun ke tanah. Terbakar. Hangus. Jadi abu. Dan hanya tinggal nama.

Lalu, jika Allah masih memberi kesempatan, menarik nafas lebih panjang, maka, bukankah ini suatu rizki dan karunia yang tidak boleh disia-siakan?

Memang, akal pendek diperpanjang dengan perjalanan. Mata yang tertutup atap, jadi terlepaskan. Hingga kita tahu, dunia ini begitu luas. Banyak hal yang harus dikerjakan.

Bahkan, jika sebenar-benarnya ingin  memanfaatkan hidup, waktu 24 jam tidaklah cukup. Namun jika saat ini rasanya banyak hal tidak bermanfaat yang dikerjakan, maka terbanglah. Perjauh perjalanan.

Atau bahkan, dalam keseharian rasanya telah bosan makan ayam, ikan, daging ataupun udang, maka nanti akan kita temui mereka yang baru makan setelah keringat bercucuran. Bahkan, hanya makan dengan ikan asin mereka pun senang.

Allah Maha Adil bukan? Saat syukur itu telah hilang, maka kelezatan tidak lagi dirasakan.

Maka, berjalanlah jika syukur itu telah hilang.

Maka pantas, anak disayang bukan selalu dalam bedongan. Memang yang saya lihat dari orang Minang, jika telah bujang, mereka akan terbang meninggalkan kampung halaman. Bukan untuk jadi TKI untuk membersihkan rumah orang. Tapi tetap berdiri di kaki sendiri untuk sesuap nasi. Dan nanti baru pulang, jika katanya nanti di rantau dia telah menjadi “orang”.