Apak

Hari ini, tanggal 19 Oktober 2021, jam 10 malam, saya sudah hendak tidur. Ingin membiasakan tidur lebih cepat. Tapi apalah daya, perut tiba-tiba kerongcongan. Pertanda minta diisi.

Saya makan nasi, karna ga ad stok kue untuk pengganjal perut, eh, rupanya ada susu sih. Tapi lupa. Ya sudah lah. Gpp. Yg penting perut kenyang.

Karna lauk kurang maknyus, makan hanya untuk mengisi perut. Berusaha untuk menghabiskan.

Mata masih tak mengantuk. Seharusnya memang tidak boleh tidur juga ya setelah makan. Lagi pula, nasi yg tadi saya ambil pun sebenarnya belum habis.

Oleh karena itu, reflek tangan mengambil HP. Mengaktifkan nya kembali. Baru semenit aktif, hape ku bergetar.

Ada telepon masuk dari “Apak”

“Ada apa gerangan bapak nelpon malam-malam ya?” Tanyaku dalam hati. Bapak kebetulan lagi di kampung untuk mengurusi padi yg sudah di ‘sabit’

Tanpa menunggu, telpon itu lgsg saya angkat. Jarang bapak menelpon. Sering nya saya yang menelpon.

“Assalamu’alaikum Pak. Baa Pak? Sehat Pak?”

“Alhamdulillah” Jawab bapak, lalu beliau melanjutkan. “Kini tanggal 19 Oktober mah. Genap 31 tahun kni umua mah nak”.

“Eh Iyo Pak. Heheh. Tanggal 18 atau 19 sabananyo wak lahia pak?”

“19 Mah. Ndk 18 do. Salah tulis urang tu. Kalau ndak rabu, kamis.” Jawab bapak yakin.

“Oh yo gitu pak.” Aku tak mendebat lagi, apa aku lahir tanggal 18 atau 19.

Yang menjadi perhatianku adalah, ini adalah pertama kali bapak mengucapkan kalimat itu.

Karena selama ini, ya memang tradisi di keluarga ku, tidak ad ritual mengucapkan selamat ulang tahun ataupun merayakannya.

Yang keluarga kami pikirkan hanyalah, “bagaimana perut kami untuk esok. Besok makan apa. Cukup tidak uang membeli lauk yang enak”. Berharap tidak hujan, agar jualan es tebu bapakku tetap dibeli orang karena haus.

Walau hujan itu rahmat, tapi dulu aku tak menyukainya saat ia turun. Aku pasti termenung. Seperti orang patah hati.

Ah Bapak, terimakasih sudah mengingat hari kelahiranku.

Semoga Apak sehat selalu. Diberi rezeki dan dipanjangkan umur. Semoga nanti kita sekeluarga bisa menginjakkan kaki ke tanah Mekkah.

Aminn

Bahagia yang sederhana

Alhamdulillah tadi pagi, ada hal kecil yang dilakukan oleh suamiku yang cukup membuatku bahagia. Bukan karena diberi uang. Bukan karena dibelikan cincin, kalung or dll. ๐Ÿ˜œ

Tapi karena di jam 6.30 pagi hri ini, tiba2 beliau merapikan kasur. Wow amazing sekali. ๐Ÿ˜

Hmm, bukan karena saya tidak mau membersihkan nya terlebih dahulu, tapi karena ada hal lain yang saya kerjakan, jdnya si kasur gw anggurin dulu. Ntar deh dibersihkan. Itu pikir gw.

But tiba2 babang gw merapikannya, dan gw happy syekali. Ini sungguh kejadian LANGKA! Hmm, Gw memang happy, tapi ekspresi happynya gw pendam sendiri. Horrey.! Gw berteriak D dalam hati sendiri. ๐Ÿคฃ

Terimakasih bebs. Sudah memberikan moodboster hari ini. Maaf belum bisa menjadi istri yang belum bisa membanggakan mu yes. :’)

Biar ada kenangan. Difoto dulu ya khaaan ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜†

Tiba-tiba

Ya tiba-tiba. Dan tiba-tiba. Jiwa puitisku bangkit.

Aku memang tak sepuitis Buya Hamka. Aku juga tak seromantis Sapardi Djoko Damono.

Tapi ya sudah lah. Ini aku dengan kekurangan ku.

Satu ku harap, aku bisa memberi manfaat kepada orang disekelilingku.

Nasihat Singkat

Apa yang dicari di dalam hidup.
Harta, tahta dan jabatan hanya sementara.
Tidak ada yang perlu disombongkan di atas bumi.
Karna jika telah tiba masa untuk masuk ke dalam tanah, hanya amal yang akan berbicara.
Jadi tak ada sesuatu yang kekal.
Jadi berlapang-lapanglah.

Ingatlah Allah dan senantiasa berzikirlah kepada Allah dari pagi hingga petang.
Meski kesedihan melandamu, percayalah setelah kesulitan itu ada kemudahan.
Setelah ada kesempitan ada kelapangan.
Percayalah, Allah takkan mengujimu dengan sesuatu yang takkan sanggup kamu pikul.

Biasa yang jadi tak biasa

Awalnya mungkin aku biasa saja. Mungkin sudah ajal. Tapi disaat banyak teman-temanku bersedih atas kepulangan beliau ke sisi Allah, akhirnya aku merenung. Bapak ini memang baik.

Prof dr. apt. Helmi Arifin, MS.

Beliau adalah seorang guru yang baik. Dosen yang tidak banyak “cincong”. Wajahnya selalu dipenuhi senyuman.

Iya apa iya?

Itulah pertanyaan yang sering ia lontarkan saat mengajar. Bertanya sembari memberi statemen bahwa yang ia sampaikan itu adalah hal yg seharusnya. Sesuatu yang benar.

Saat kuputar lagi memori lama, aku baru ingat, ternyata Pak Helmi adalah Ketua penguji sidang saat ujian skripsi.

Terbayangkan bagaimana paniknya kita saat ujian Skripsi?

Tapi Bapak ini, dengan senyumannya, dengan kelembutan nya, dan dalam keramahannya, membuat suasana sidang menjadi tidak tegang.

Diawal ku masuk ruang sidang itu, kusalami Bapak Ibu dosen sebelum memulai pertanyaan.

“Saya sudah Wudhu. Tapi tak apa, saya anggap saja kamu anak saya.” Ucap Pak Helmi yang akhirnya beliau memberikan tangannya yang sudah berwudhu untuk saya salami. Waktu itu, saya cium tangan beliau, sebagai tanda hormat saya. Tentu kepada dosen lain juga begitu.

Ah Bapak, kudengar kabar kepergianmu, awalnya memang biasa saja, karena kepergianmu memang tidak mempengaruhi hidupku saat ini. Tapi, sungguh engkau sangat berjasa dimasa laluku. Maafkan aku, jika belum menjadi mahasiswa terbaikmu.

Aku berharap Bapak, semoga engkau di dekap Allah dengan dekapan yang hangat. Aku berharap engkau ditempatkan di sisi terbaiknya. Do’akan kita berjumpa lagi di Syurga Allah ya Bapak. Meski aku tahu, aku tidak sebaik dirimu.

Saat ini Bapak, aku sedang mengikuti jalanmu. Menjadi seorang dosen. Menjadi seorang pendidik.

Do’akan Bapak aku bisa menjadi sosok teladan yang baik sepertimu, yang tidak sombong, tidak angkuh dan tidak merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Tidak merasa paling hebat dari yang lain.

Bapak, engkau kembali kepada Allah di hari yang Baik. Di hari jumat. Hari dimana setiap umat muslim yang meninggal dihari itu dilepaskan dari azab kubur.

Wahai Bapak, Allah mencintai mu. Aku yakin, meski setiap manusia memiliki dosa, Allah sudah mengampuni segala dosa-dosamu.

Apalagi engkau meninggal karena Covid Bapak, InsyaAllah engkau syahid. Aku yakin, dalam kesakitan mu, engkau selalu berzikir dan mengingat Allah. InsyaAllah, sekali istighfar mu yang sungguh-sungguh, mengampuni dosa 70 tahunmu.

Tapi Bapak, doakan aku juga dari sana. Sampaikan salamku kepada Allah, jangan ambil nyawaku secara tiba-tiba. Tolong sampaikan kepada Allah, tolong beri aku peringatan. Meski aku harus sakit, tidak apa untuk penggugur dosaku yang sangat banyak jumlahnya.

Sekian saja Bapak, sampai jumpa di Syurga Allah.

Alfatihah.

โ€Žุงูู†ู‘ุง ู„ูู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุงูู†ู‘ุง ุงูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑูŽุงุฌูุนููˆู’ู†
โ€Žุงู„ู„ู‡ู… ุงุบูุฑู„ู‡ ูˆุงุฑุญู…ู‡ ูˆุนุงูู‡ ูˆุงุนู ุนู†ู‡

Foto saat kuliah Apoteker, dan teman-teman memberi kado kepadaku. Dan Bapak juga menghampiriku ๐Ÿฅบ
We love you Bapak

HAL INI PASTI TERJADI, TAPI KITA TIDAK TAHU KAPAN IA MENGHAMPIRI.

Sepertinya jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Aku yang sedang tertidur dibangunkan oleh bibeh (red: suami) yang berbaring di sebelahku.

“Adi meninggal”. Ucapnya simpel tapi mampu membuat kantukku lenyap seketika.

” Serius?” Tanyaku dengan mata membulat dan kening berkerut.

“Iya.” Jawabnya singkat sembari sibuk membongkar postingan yang mengabarkan “Adi” meninggal.

“Kenapa? ” Tanyaku lagi. Aku kepo dengan teman suamiku ini meski aku tak pernah bertemu dengannya.

“Tidak tahu.” Jawabnya yang lagi-lagi singkat sembari membuka DM instagram bersama Adi masih ber”chat” beberapa hari yang lalu.

Aku terdiam. Penasaran. Ada apa gerangan. Kenapa dia begitu cepat meninggal? Padahal ia masih muda. Kalau ku terka mungkin umurnya masih 31-32 tahun, karna ia teman seangkatan kuliah suamiku dulu meski berbeda jurusan. Suamiku banyak bercerita tentang dirinya. Jadi itulah alasan meski tidak pernah berjumpa, aku merasa cukup dekat dengannya.

Ku alihkan pandangan pada Doi yang sudah beralih membuka chat Whatsapp nya bersama Adi yang juga dilakukan beberapa hari yang lalu.

“Lagi di padang Di?” Begitulah lelaki berumur 31 itu bertanya kepada sobatnya ini pada tanggal 24 Mei 2021.

Adi hanya menjawab singkat dengan 4 huruf keesokan harinya. “Iyoo”. Begitu saja ia menjawab singkat tanpa ada tambahan lagi dibelakangnya seperti orang tidak minat membalas. Hal inilah yang membuat suamiku mengurungkan niat untuk mengajaknya ketemuan.

Lalu Suamiku bertanya lagi. ” Ngapain Kau di Padang?

“Tidak ngapa-ngapain. Hanya check up.” Adi kembali menjawab singkat, tanpa ada pertanyaan balik. Itupun baru dijawab 2 hari setelah chat itu dikirimkan.

“Cek mata ya? Teringatnya kenapa Kau tak pakai kacamata lagi? ” Tanya suamiku kepo kepada temannya yang selama ini bermata empat.

Si Adi menjawab, “iya, pakai softlens”.

Lalu Adi melanjutkan, ” Ada proyek ga nih?” Tanya Adi yang memang terkenal gigih dan memiliki jiwa bisnis yang tinggi.

Tapi entah kenapa, chat tidak berlanjut. Mungkin Doiku lupa membalas atau karena chatnya “tertimpa” chat yang lain.

Lalu malam tadi, tanggal 29 Mei Malam, suami yang sedang membuka instagram, melihat postingan dari akun si Adi ini yang menyatakan pemilik akunnya sudah meninggal. Dia kaget, tidak percaya.

“Becanda kali tu.” Ucapku pada suami yang juga mencoba untuk tidak percaya.

“Masa dia posting dirinya sendiri.” Tambah ku ngasal. Sebenarnya bisa saja keluarganya yang postingkan. Lagipula, tak mungkin pula ia sengaja buat prank dengan memposting berita kematiannya. Itu sama saja ia mendoakan kematiannya sendiri.

“Dia punya adik. Mungkin adiknya yang posting. ” Suamiku bersuara.

“Iya ya. ” Jawabku termenung masih dengan kening berkerut.

“Kasian ya. Dia masih muda. Tapi belum menikah. Masih mengejar karir. ” Ucapku dengan prihatin.

Memang dia tidak seperti kebanyakan anak muda yang hanya hidup seperti air mengalir. Ia yang merupakan salah satu staff BUMN selalu berfikir untuk membuka kran bisnis baru meski ia sudah memiliki sebuah butik di mall di kota tempat ia tinggal.

Tapi kini apalagi mau dikata, Adi sudah berada di garis finish. Semoga segala amal ibadahnya diterima Allah. Semoga segala dosanya digugurkan Allah.

Tadi pagi ku baru dapat kabar dari suami, ia dapat info dari temannya, ternyata Adi meninggal karena gangguan hati. Lambungnya juga berdarah. Dan katanya empedunya juga membengkak.

Aduh. Hatiku membatin. Sedihku mendengarnya. Sudah komplikasi rupanya. Mungkin karena terlalu gigih bekerja, ia lupa makan. Atau sering telat makan. Dan mungkin ia suka begadang, hingga toksik di tubuhnya  tidak dikeluarkan dari tubuh secara alami, sehingga kerja hati semakin berat tiap hari. Ini hanya terkaanku saja.

Mungkin pesanku kepada sahabat FB, Sesibuk apapun kamu bekerja, makanlah tepat waktu. Makanlah makanan yang bergizi. Jika ingin makan micin, boleh lah, tapi jangan tiap hari dan jangan berlebihan. Dan jika kita sudah mapan dan cukup umur, segeralah menikah. Karena kita tidak tahu kapan kita tutup usia.

Dan hal yang paling penting sekali, jangan pernah tinggal kan sholat. Jika lupa makan, sakitlah yang menanti. Tapi jika lupa sholat, Neraka lah yang menanti.

Sekian saja, semoga bermanfaat untuk kita saling mengingatkan.

By @shreewhynie




Cinta?

Cinta. Banyak sekali orang membicarakan tentang cinta. Memang kadang seseorang menangis karenanya. Dan tak sedikit pula yang tertawa kerananya.

Tapi jika kita fikir lebih cermat lagi, sebenarnya apa sih cinta itu?

Apakah hanya rasa memiliki yang tak ingin jauh darinya? Apakah itu rasa sayang yang tak ingin kehilangannya?

Jangan-jangan, selama ini yang kita katakan cinta itu adalah hati yang bahagia karena seseorang. Siang terkenang. Malam terbayang.

Ah cinta. Banyak yang gila karena kehilangan nya. Namun banyak juga cinta itu hilang karena tak diiringi dengan kecukupan harta benda.

Jadi, apakah itu cinta?

Ridho Suami dan Ridho Ilahi

Rambut sama hitam. Tapi isi kepala tempat tumbuh rambut itu berisi fikiran yang beraneka ragam. Dan dalam pernikahan, seorang lelaki dan perempuan yang dulu tidak kenal, kini tinggal dalam satu rumah untuk mencapai kemuliaan.

Namun banyak sekali rintangan untuk mencapai tujuan dari pernikahan itu. Si lelaki punya pandangan terhadap sesuatu hal, begitu pula dengan si perempuan.

Jika ego keduanya sama sama tinggi, maka “berantam lah” Si penghuni rumah ini. Baik beradu argumen secara ringan, maupun bisa berkembang kearah yang berat. :v

Tapi kembali lagi ke siempunya diri. Bukankah perempuan jika diizinkan Allah menyembah manusia, maka si istri akan di suruh sujud kepada suami. Begitulah tingginya kedudukan suami di dalam islam, yang harus dihormati dan dihargai oleh istri.

Jika istri tidak mengerti akan hal ini. Hal sepele pun akan menjadi perselisihan dan perdebatan.

Misal, “dek tolong bungkusin jualan kita ini. “

“Oke bang. Kapan mau dikirim? “

“Siang ini”. Jawab si suami.

Karena si istri masih merasa ini masih pagi, masih jam 8, si istri menjawab, “nanti lah ya bang. Kan masih lama siang. Aku ngerjain ini dulu.” Jawab si istri yang memang lagi mengerjakan sesuatu hal yang lain.

Mendengar jawaban istri yang tidak langsung mengerjakan perintah suami, si suami maksa, harus dikerjakan sekarang. Ia pun mengatakan barang akan segera di jemput oleh kurir.

Nah si istri yang ga suka dipaksa, akhirnya kekeuh akan mengerjakannya satu jam lagi karna tadi di awal si suami bilangnya barang akan dikirim di siang hari.

Nah sebenarnya hal sepele ini bisa menimbulkan perdebatan.

Sebenarnya si suami bisa saja menunggu si istri mengerjakan apa yg sedang dikerjakan oleh istrinya. Karna toh nanti si istri akan menyelesaikan juga apa yg diperintahkannya. Tapi si suami ingin semua terselesaikan dengan cepat. Akhirnya maksa.

Dan begitu pun si istri, sebenarnya bisa saja ia menunda apa yg sedang ia kerjakan, langsung melaksanakan apa yang diperintahkan suami. Agar si suami senang.

Hal ini tentu akan dapat menghindari perdebatan dikedua belah pihak.

Memang begitu di rumah tangga, jika tidak saling mengerti, maka hal kecil bisa menjadi perdebatan yang alot.

Tapi hal tersebut kembali lagi kepada tujuan hidup si istri.

Ia ditakdirkan taat kepada suami, selama hal yang diminta tersebut tidak menentang syriat islam.

Dan istri yang taat, yang tidak suka mendebat or memprotes suami, adalah idaman semua lelaki kan?

Nah, semoga kita para perempuan, dapat melakukan hal tersebut untuk mencapai ridho suami dan tentu saja Ridho Sang Ilahi. ๐Ÿ™‚

Maaf yang Tidak Lagi Didengar

Semua bermula dari si betina yang suka buang-buang makanan (yang kuning yg ad difoto). Jadinya saya pun ingin menghukumnya dengan sengaja telat memberi makan. (Sebenarnya makanan mereka memang sudah habis, saya hanya malas pergi membeli nya). Tapi makanan yang banyak ia tumpahkan kebawah, sudah aku masukkan kembali ke tempat makannya.

Tapi nasib berkata lain, ternyata besoknya si Betina ini malah mati. Astaghfirullah. Aku menyesal๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Si jantan yang berwarna ijo, masih bertahan, sehat-sehat saja. Akhirnya segera kubeli makanan.

Tidak ingin si ijo merana, kami beli lah pasangannya berwarna biru. Ini adalah pasangan ketiganya. Pasangan pertama ijo, kedua kuning (yang ad di foto), ketiga si biru. Pasangan pertamanya mati setelah anaknya menetas. Sedih juga waktu itu. Anaknya pun besoknya juga mati. Si jantan ijo ini pun ttp betahan.

Jadi setelah si Biru ini satu kandang dengan si ijo, mereka happy. Mereka mulai berkicau bahagia. Kicauan si biru membuat si ijo ikut berkicau. Tapi beberapa hari kemudian, si biru sakit. Mungkin sakit bawaan dr tempat toko belinya. Di sana banyak juga burung yang sakit. Tapi waktu kami beli dia sehat-sehat saja (aku lupa menfotonya).

Akhirnya tak lama kemudian, si ijo pun sakit. Keduanya sakit. Sedih akutu.

Kami kira mereka sakit mata, rupanya tidak. Dan sepertinya obat yang kami beri tidak cocok untuk mereka. Salep mata memang.

Tapi akhirnya, si biru mati juga. Dan hari ini, si ijo, si jantan yg tahan banting akhirnya menyerah setelah bertahan cukup lama๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Aku ikhlas. Karna aku memang berdoa, jika tidak sembuh, ambillah nyawanya ya Allah๐Ÿ˜ญ aku tidak tega melihatnya๐Ÿ˜ญ karna bulunya sudah mulai rontok.

Tadi pagi ia masih hidup. Makanannya sudah kutambah. Makanan terakhir dari kemasannya sudah ku tuangkan. Setelah itu kulihat dia makan. Seperti oyong. Tapi setelah selesai makan, ia bisa kembali ke kandang nya.

Lalu setelah menjemur baju, kulihat ia sudah terkapar. Ia sudah meninggal. Awalnya aku biasa saja. Ia tidak merasakan sakit lagi.

Tapi saat akan menguburkannya, air mataku tumpah mengingat ia yang selama ini lucu dan membuat aku tertawa, kini telah mati. Dan aku kira itu adalah kesalahan ku. Aku salah mengobatinya. Jadi itu adalah kelalaian ku. Dan ia pergi saat makanan terakhir dari kemasaanya sudah habis. Mungkin ia tidak ingin lagi merepotkan ku๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Saat akan menguburkannya, aku tak ingin memfotonya. Bukan karena ia tidak lucu lagi. Tapi aku tidak tega.

Sungguh banyak yang ingin ku tulis, tapi ya sudahlah. ๐Ÿ˜ญ

Aku sungguh bersedih. Aku berjanji takkan pernah memelihara burung lagi ๐Ÿ˜ญ

I love you. Maafkan untuk semua salahku. T,T Tolong jangan tuntut aku diakhirat nanti๐Ÿ˜ญ

Benarkah Romantis Itu Tidak harus Mewah?

Sepertinya jawaban atas pertanyaan pada judul akan terjawab dengan melihat video di bawah ini.

Ah, gw jadi teringat saat belanja di Supermarket. Kedua kaki gw naik ke besi belanjaan bagian depan, lalu gw minta didorong oleh laki gw. Kalau di dorong laki gw, gw jadi happy. Kekanak-kanakan? Ah biarlah. Yang penting gw happy. Lagian ga ada yang liat, kecuali terekam CCTV :v

Beginilah posisinya kira-kira. :v

Udah gitu aja. :v

Gw dapat video di atas dari instagram. Captionnya, “Wanita akan menjadi ratu saat menemukan lelaki yang tepat.”

Gw hampir mewek guys. Maklumlah ya, gw gampang tersentuh orangnya. Betul juga kata laki gw, meski gw punya jiwa preman, tapi hati gw hello kitty. ๐Ÿคซ ๐Ÿคฃ๐Ÿ˜‚

Udah gitu aja guys coretan ga penting gw hari ini. :v