Jangan tanya

Kau diangkat ke atas langit

Lalu dihempaskan jatuh ke bumi

Dan tulangberulangmu patah.

Entah kini sudah berjumlah berapa.

Kau akan menangis kepada siapa?

Dunia telah membatu.

Meski terkoyak mulutmu berteriak hingga langit ketujuh, mereka akan tetap membisu.

Kau akan mengadu kepada siapa?

Jangan tanya aku.

Aku sudah menyatu dengan tanah yang ditumbuhi lumut biru.

Advertisements

Allah takkan pernah lupa

Siang itu seorang perempuan bekata kepada seorang teman. ” Berharaplah hanya kepada Allah. Karena berharap kepada manusia hanya akan menyakitkan”.

Bukan tanpa alasan dia berkata seperti itu, karena memang sudah faktanya. Ketika kita meletakan suatu harap kepada manusia, dan saat harapan itu tidak tejadi, hanya kekecewaanlah yang datang.

Sebenarnya apa yang tejadi kepadanya? Kenapa dia berkata seperti itu?

Siang itu sekitar sebelum zuhur, seorang teman SD tiba-tiba mengirimkan pesan di WA kepadanya.

“Selamat ulang tahun”, itulah isinya. Dan dia lalu menyelipkan sebuah doa.

Tidak lama kemudian dia bertanya, “dikasih hadiah apa sama abangmu?” Dia bertanya perihal seorang lelaki yang sudah mengucapkan akad nikah di depan ayahnya.

“Sepertinya dia lupa. Atau pura-pura lupa.” Jawab perempuan ini sok enteng.

“Pura-pura lupa dia tu”. Kata Si teman ini lagi.

“Mungkin. Tapi aku tidak berharap. Berharap kepada manusia hanya akan mendatangkan sakit.” Jawabnya masih sok enteng.

Padahal sebenarnya memang berharap, lelaki yang sudah menemaninya hidup selama beberapa tahun lebih ini memang “pura-pura lupa”.

Begitu cerita singkat siang itu. Lalu sorenya ada lagi seorang teman yang pernah satu tempat bekerja juga mengucapkan selamat ulang tahun.

Alhamdulillah ia mengingatnya. Padahal, si perempuan ini juga sangat jarang mengucapkan “sekedar selamat ulang tahun” kepada teman-temannya.

Lain di luar lain di dalam. Meski dia berkata tidak berharap kepada manusia, tapi tidak dapat dipungkiri harapan itu tetap ada.

Berharap pulang kerja, si suami akan membawakan sesuatu. Tapi yang diharapkan tidak ada.

Sampai pada jam 11 malam saat akan tidur, seperti takkan terjadi apa-apa. Dia masih berfikir positif.

Mungkin dia ingin menjadi orang terakhir yang mengucapkan.

Tapi rupanya apa, sampai subuh keesokan harinya, semuanya terlewatkan begitu saja.

Mulailah setan-setan membisiki. Tentang si perempuan lain yang diperlakukan istimewa oleh suami saat hari ulang tahunnya.

Teringatlah sebuah cerita olehnya, seorang suami yang pura-pura lupa dengan hari lahir istrinya. Si istri mulai kesal. Lalu rupanya sebelum berganti hari, si suami menunjukan hal yang tidak terduga. Video ucapan selamat hari lahir dari orang-orang kenalannya yang memang sudah dipersiapkan oleh suaminya. Bahkan si suami menulis sebuah buku spesial, yang takkan ada di gramedia, hanya khusus ia tulis untuk istrinya.

Sudah pantas si istrinya nangis Bombay melihat kenyataan bahwa si suami memperlakukannya sangat istimewa yang tidak pernah melupakannya. Dan itu membuat ia merasa kehadirannya sangat berarti bagi suaminya.

Sebenarnya si perempuan ini tidak menuntut diperlakukan sama. Namun sebuah ucapan sederhana sudah cukup menyenangkan hati.

Misal,

“Terima kasih sudah menjadi istri yang akan selalu menemani sisa hidupku.”

Atau,

” Terima kasih sudah menerimaku menjadi suamimu, meski banyak kekuranganku.”

Nah, saat seorang suami mengakui bahwa dia memiliki kekurangan, karena memang tidak ada manusia yang sempurna, disaat itulah si istripun merasa bangga memiliki suami seperti dia. Karena dia pun sadar, semua orang yang dilahirkan keatas dunia ini tiada satupun yang sempurna. Begitupun dengan si istri ini.

Jadi begitu saja.

Intinya, kepada suami-suami. Ucapkanlah pengakuan-pengakuan sederhana, yang membuat hidup si istri lebih berharga dan bermakna. Sehingga ia pun semangat menjalani sisa hidup bersama orang yang telah ia pilih menjadi pendamping hidupnya.

Dan untuk si istri. Cobalah untuk mengerti. Mungkin karena tuntutan kerja yang padat membuat ia tidak sengaja melupakanmu. Berbesar hati lah. Karena Allah tidak pernah melupakanmu.

Sajak

Biarkan hujan terus turun

Biarkan bunga terus merekah

Biarkan bintang terus mengintip

Hingga nanti kita pun basah, merekah dan berkelap kelip di awan sana.

BLURD BUKU, SWA MEDIKASI “KAPAN SEBAIKNYA KAU SENTUH AKU”

Batuk sedikit, pergi ke puskesmas. Flu sedikit langsung pergi ke klinik. Demam sedikit langsung berobat ke dokter.

Sebenarnya kapan sih kita harus pergi berobat?  

Bukankah dalam keadaan tubuh “sedikit sakit” kita bisa mengatasinya sendiri? 

Bukankah jika tubuh terasa  “sedikit tidak enak” kita bisa menanganinya sendiri?

Nah lalu muncul pertanyaan.

Seharusnya kapan sih kita harus minum obat? Dan kapan sih idealnya kita harus “menyentuh obat?”

Nah, di buku ini akan dikupas tuntas, cara mengobati diri sendiri dengan cerdas.

Allah love you more

Entah sebulan atau dua bulan yang lalu, terdengar seperti ada yang bersin.

Kulihat kearah kotak itu, ternyata kura-kuraku yang mengeluarkan suara.

Kuintip. Biasa saja. Mereka masih ikut mengintipku dari balik cangkang. Lalu kuberi pelet makanan mereka.

Dua minggu yang lalu, saat aku membersihkan kandang mereka, ia dan temannya masih berenang lincah. Tapi malam ini, sesuatu telah terjadi padanya.

Ia sudah layu. Awalnya aku tidak curiga. Aku hanya ingin melihat-lihat saja. Saat kuberi makan, yang satunya tidak lagi memberi reaksi. Biasanya mereka lincah berebutan makanan. Tapi kali ini tidak.

Aku menyangka ia hanya tertidur. Kuangkat dia. Kaki depannya sudah layu. Kepala yang “menyondok” kedalam, kini agak keluar.

kupandangi terus sambil kuelus-elus. Tidak ada reaksi. Matanya tidak terbuka.

Aku mengernyitkan dahi. Kutatap lagi.

 Ah, rupanya ia sudah tidak lagi ada.
Terasa ada sesuatu yang mengganjal didalam dada. Ada rasa lain di dalam hati. Tidak terasa air keluar dari sudut mata.

Sudah hampir tiga tahun ia menemani. Sudah hampir 36 purnama ia hidup bersama kami. Mulai dari ukuran pertamanya hanya sebesar koin uang seratus lama, hingga kini lebarnya sudah mencapai empat jari. Tapi kini ia telah menghadap ilahi. Ia telah meninggalkan kami. Juga meninggalkan kawannya.

Satu hal yang masih terbesit di dalam hati, aku belum meminta maaf padanya. Pasti aku pernah melakukan salah. Terlambat memberi makan hingga ia kelaparan. Lambat mengganti air tempat tinggalnya. Atau tempat tinggalnya yang tidak terlalu besar.

Aku takut ia akan mengadukanku kepada Tuhan. 

Hai Kura-kura sayang, maafkan aku atas segala kekurangan perlakuanku kepadamu. Maaf kadang aku tidak memberi makan tepat waktu. Semoga di alam sana nanti, kau tetap menjadi sahabatku. Semoga kau tidak berubah menjadi monster yang menggigitiku.”

 Kuletakkan ia. Kucium ia untuk terakhir kalinya. Selamat tinggal sahabat. Doakan aku selamat di dunia dan di akhirat. 

Innalillahi wainna ilaihi rojiun. We love you. But Allah love you more.

Jodoh dari Tuhan

Ia adalah seorang wanita yang bertutur kata halus. Semenjak kumengenalnya, tidak sepatah katapun pernah ia lontarkan kata-kata kasar. Tak pernah sepotong kata kotor pun ia ucapkan.

Bahkan, ia tidak pernah merungut kulihat. Selalu saja ceria. Walau ku tahu setiap orang pasti ada masalah dalam hidup.

Tapi begitulah. Saat bersedih, ia tegak seperti batu karang, kokoh tak tergoyahkan. Takkan ada seorangpun yang kutahu tentang kesedihannya.

Saat bahagia, tentu senyum manisnya tetap terekat dengan lekat di wajahnya.

Tatapannya yang teduh dan akhlaknya yang indah, dan tutur bahasanya yang mempesona, membuat aku kagum padanya.

Memang, jika aku adalah seorang lelaki, tentu saja lekas kupinang dia, untuk menjadi pendamping hidup.

Maka tidak heran, beberapa teman lelaki yang kukenal, ternyata memang berniat meminangnya. Dan tentu, siapa yang cepat, itu yang dapat. Siapa yang berani terlebih dahulu, dialah yang akan menjadi no satu. 

Selamat bagi yang milikinya.

Tapi bagi engkau yang berjodoh dengan wanita lain, pasti pendampingmu pun memiliki kelebihan. 

Karena pasti, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan.

Dan percayalah, setiap orang yang dijodohkan Allah kepada kita, ia memang seorang manusia pilihan.