Bitter sweet memories

Going through the beach was my favourite part of the walk when all feels terrifield. No one accompanied me. Only me. Yeah only me and the blowing of wind with.

When i spreaded around my sight, i couldn’t see anything. Despite just a shadow. Then i just waiting minutes to minutes. Counting the hours. But i just felt emptiness. No admiring feeling.

” What was you waiting for?” The question just came out from my mouth.

Then i answered my self, ” No one. Nothing was important.”

The other sound of my heart shouted my self, ” So what was you fu*king doing now?”

” Ouch. It’s damn! I knew it. But i couldn’t handle it. ” i cursed my self.

Quiet for a moment time.

Then i heard the unknown voice said, ” You just got lost much your time. It’s awful for your future. Just doing useful thing. Do not be confused about all had happen. Allah have given all you need. Yeah, Allah have not given thing that you like”

Meski beranak dua, Aku tahu rahasia kenapa istrinya masih terlihat cantik

Pada suatu hari, di sebuah kafe yang berlokasi di tepi pantai padang, diadakanlah sebuah acara reunian sebagai salah satu acara pengakraban dengan kawan-kawan kuliah dulu. Ditempat ini, saya kembali bertemu teman lama.

Sebut saja namanya Adi. Dia adalah sahabat karib saya samasa kuliah. Disampingnya berdiri seorang wanita cantik. Mereka bergandengan. Saya penasaran. Saya pun menghampiri.

” Hai Adi. Apa kabar?” Tanyaku padanya sembari mengulurkan tangan.

“Alhamdulillah kabarku baik, Ronal. Sudah lama ya kita tak berjumpa. Apa kabarmu, kawan? Oh iya, kenalkan. Ini Marisa, istriku.” Ucap Adi memperkenalkan istrinya sambil menyambut uluran tanganku.

” Saya Ronal. Teman Adi semasa kuliah dulu.”  Ucap saya sembari dan tersenyum.

” Marisa.”

” Oh, ini Uda Ronal ya. Uda Adi sempat bercerita tentang abang ketika semasa kuliah dulu.” Lanjut perempuan paruh baya yang terlihat langsing itu.

“Tapi saya ke belakang dulu ya. Uda Ronal dan Uda Adi mengobrol saja dulu.” Lanjut perempuan itu sambil tersenyum dan segera berlalu.

“Cantik juga ya istrimu.” Tiba-tiba aku terceletup. Bercanda namun serius.

“Alhamdulillah. Istrimu mana, Ronal?”

” Ada. Itu di sana.” Aku menunjuk ke sudut ruangan. Terlihat wanita dengan badan yang cukup gemuk.

“Dia juga sedang bertemu teman lamanya. Sedang asyik mengobrol sepertinya. Itu dia yang berbaju biru” ucapku melanjutkan.

“Oh ya ya. Sudah berapa jumlah anakmu?” Tanya Adi kepadaku.

” Dua. Yang besar kelas lima SD. Dan yang kecil masih berumur empat tahun. Kalau kau bagaimana?”

“Anakku juga dua. Yang besar kelas tiga SD dan yang kecil masih TK”.

“Wah. Sudah punya anak dua kau rupanya. Persangkaanku, kau dan istrimu baru menikah. Masih bagus tubuhnya kulihat. Sering ke salon ya?” Tanyaku masih sambil bercanda.

“Haha.” Adi tertawa renyah.

“Dia tidak pernah ke salon.” Jawab Adi singkat membuatku penasaran.

“Jadi kok bisa seperti itu? Padahal sudah beranak dua loh.”

” Iya, Ronal. Istriku tidak pernah ke salon. Tapi aku yang merawatnya sendiri” Jawab Adi yang kini seperti bercanda.

“Ah kau bergurau saja Adi. Seriuslah” Jawabku kemudian.

“Iya kawan. Istriku itu cantik dari dalam. Bukan karena salon.” Kini Adi terlihat serius.

“Maksud kau Adi?” Tanyaku lugu sok tak mengerti.

“Ya cantik itu dari dalam, Ronal. Dari hati maksudnya. Karena aku tahu rahasia itu, jadi aku sangat menjaga perasaannya. Menjaga hatinya. Menjaga agar dalam setiap hari dia selalu bahagia. Karena itulah mungkin istriku awet muda.” Jawab Adi kemudian.

” Kami memang punya dua anak. Tapi aku tak membiarkannya mengurus anak sendirian. Mengenai pekerjaan rumah pun, jika sempat aku membantunya. Kadang aku ikut menyapu dan merapikan rumah. Kalau ditunggu dia mengerjakan sendiri, kapan selesainya. Pastinya dia pun capek.”

Aku angguk-angguk mendengarkan.

“Yang kunilai dari wanita itu, meski yang kutolong hanyalah hal-hal kecil, tapi sudah sangat senang dia kelihatannya. Lagipula, semakin cepat rumah rapi, semakin cepat rumah bersih, aku dan istriku pun bisa punya waktu lebih untuk bersama. Haha..” Kini Adi tertawa lagi.

Aku masih mengangguk-angguk. Mencoba tersenyum. Tapi kecut. Terbayang olehku di rumah, tak sekalipun aku membantu istriku. Mencuci baju, mencuci piring, menyapu, mengepel, menyetrika, dan mengurus anak, semuanya kuserahkan saja padanya.

” Dan kau tahu, Ronal, di rumah saat bersantai, setelah dia memijitku, akupun menjadi tukang lulur untuknya. Tidak lama juga sebenarnya. Hanya sekitar sepuluh menit. Tapi kau tahu? Dia sungguh bahagia. Dia memang tak mengatakannya padaku kalau dia suka. Tapi aku bisa membaca halbitu dari gerak geriknya. Aku dapat melihat kebahagiaan di matanya.” Lanjut Adi kembali serius.

Lagi-lagi teringat pula olehku. Hal yang kulakukan jikalau di rumah. Sungguh jarang sekali memanjakan istri. Bahkan tidak pernah. Yang ada hanya dia yang memijitku hampir setiap hari. Ah. Sudahlah dia capek seharian membersihkan rumah dan mengurus anak, tak sekalipun aku berniat mengurangi letihnya.  Suami macam apa aku ini. Gumanku sendiri.

” Setiap hari, setelah pulang dari kantor, aku memeluknya. Mencium keningnya. Ya begitulah. Kalau kau bagaimana kawan? Istrimu kelihatan lebih sehat dibanding istriku. Pasti kau mengurusnya lebih dari aku ya?” Ucap Adi serasa mengejek dan menyindirku.

“Ah, kau ini ada-ada sajalah. Tapi anggap saja begitu.” Jawabku apa adanya. Ya Tuhan, ampuni aku. Gumanku lagi dalam hati.

“Istri itu seperti tanaman, Kawan. Jika madunya hanya kau ambil terus, tanpa sekalipun kau pupuk dan kau siram, alamak layulah dia. Akan mati pelan-pelan.” Ucap Adi seperti menanamkan nasihat secara halus kepadaku.

“Iya, Kawan, tapi aku cabut duluan ya. Aku sakit perut.  Salam buat istrimu marisa.” Ucapku menepuk bahu kanannya sambil berlalu dan melangkah pergi.

Ah, cepat-cepat aku ingin pulang. Meminta maaf pada istriku. Semoga ke depannya aku bisa menjadi suami yang lebih baik lagi untuknya.

Arcandra Tahar, miris sekali Pak!

“Kalau di Indonesia, apalagi yang harus saya selesaikan? Tetapi kalau kembali ke Amerika, saya tidak lagi punya paspor Amerika. Benar, saya tidak lagi punya paspor Amerika,” Itulah yang di ucapkan oleh Pak Arcandra Tahar, Mantan Mentri ESDM, yang saya kutip dari tribunnews.com.

Miris sekali ketika banyak orang memperdebatkan statusnya yang memiliki dua kewarganegaraan. Indonesia dan Amerika. Isu ini baru merebak setelah ia membuat keputusan yang memotong beberapa triliun anggaran “projek” yang menurutnya membuang uang Negara.
Sepertinya ada pihak yang tidak senang dengannya. Ada pihak yang akan banyak sekali dievaluasinya sehingga pihak-pihak politik tersebut menyebarkan rumor ini dan menimbulkan kegelisahan masyarakat.

Tapi menurut saya, lelaki kelahiran Padang ini telah membuat keputusan bijak. Demi membantu Negara Indonesia yang sangat banyak masalah, dia telah menerima tawaran presiden untuk menjadi menteri yang akan bertugas menyelesaikannya. Sekarang hanya karena “hal sepele” menurut saya, ia malah dipecat. Sangat disayangkan. Padahal jika memang pun dulu dia memiliki dua kewarganegaraan, toh dia kan telah melepas status kewarganegaan amerikanya.

Bukankah begitu?

Dia telah kembali demi membangun negeri, yang dulu mengabdi di negeri orang sebagai presiden Petroneering di Houston, negara bagian Texas,  sejak tahun 2013 hingga 2016.

Kini dia kembali karena sebuah panggilan. Kini dia kembali untuk memenuhi nurani untuk membangun negeri. Tapi dia tercampakkan.

Ah. Saya heran, banyak orang pintar yang tersingkir karena politik. Pak Habibie contoh sebelumnya. Sekarang giliran Pak Arcandra. Sabar ya Pak.

image

Kisah ketabahan wanita paruh baya yang bisa menampar kita jika membacanya

Beberapa bulan yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang pegawai RS yang baru saja sakit. Bukan ‘baru sakit’ rupanya. Ternyata ibu yang saya prediksi berumur hampir empat puluh tahun ini sudah mengidap penyakit “ini” selama dua tahun.

Kunjungan ini berawal dari pulang acara halal bihalal yang kemudian dilanjutkan melancong ke rumah ibu ini.

Awal kedatangan kami, beliau langsung menyuguhkan kue dan minuman. Padahal kami ingin menjenguknya, bukan ingin merepotkannya.

Begini, dari cerita yang saya dengar, penyakit ‘ini’ yang saya maksud di paragraf pertama bukanlah penyakit berbahaya. Tapi penyakit ini cukup menganiaya.

Apa pasal?

Kalau dalam bahasa awamnya, sakit ibu ini adalah tidak bisa kencing. Bahasa medisnya urinary incontinence. Hasrat ingin buang air kecil ada, tapi si air kencingnya malah tidak bisa keluar. Hanya menetes sedikit demi sedikit dengan rasa sakit yang luar biasa.

Walaupun hidupnya pas-pasan, bukan berarti dia tidak berobat. Mulai dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya telah ia kunjungi. Ke dokter spesialis pun Ibu ini sudah bolak balik pergi. Namun hasilnya nihil juga.

Katanya rasa sesak hilang hanya sesaat setelah air kencing dikeluarkan melalui kateter (alat kesehatan penampung urin yang selangnya dimasukkan kesaluran kencing). Namun sampai di rumah obat yang diberi dokter seperti tak bermanfaat.

Hilang akal dengan obat medis, maka dicoba pula obat kampung. Berbagai macam ramuan pun telah dicobanya. Namun tetap sama. Hasilnya nihil juga.

” Aku sudah bolak balik berdoa sama Allah, minta kesembuhan. Dan aku juga sudah berdoa, jika penyakitku tak bisa sembuh juga, aku ikhlas jika Dia mengambil nyawaku” itu ucap beliau.

Mendengarnya berkata seperti itu, kami hanya menguatkan.

Ia pun kembali bercerita, karena penyakit yang ini tak kunjung sembuh, sesak kencing tak henti-henti, maka beliaupun selalu memakai “alat penampung kencing”. Bahkan meski beliau sedang bekerja.

” Ya mau gimana lagikan, dah diobati tapi tak sembuh-sembuh juga. Terpaksalah pakai kateter terus.” Ucapnya sambil tersenyum.

Saya kaget. Dasyat sekali ibu ini. Memakai kateter kemana-mana.

” Saya ikatkan kesini” ucapnya menunjuk ke bagian pinggang. Mungkin diikat pakai tali.

” Tiap setenngah jam saya ke kamar mandi untuk membuangnya” Tambahnya kemudian.

” Waduh Bu. Ga nyilu Bu?” Ucap saya mengernyitkan kening yang dari tadi hanya diam menyimak.

“Ya adalah Dek. Lebih hati-hati saja.”

Saya angguk-angguk. Saya berguman dalam hati, begitu kuat ibu ini. Meski dalam keadaan sakit, tapi beliau masih tetap bekerja. Padahal ibu ini kerjanya di rumah sakit bukanlah dibagian administrasi atau keuangan yang hanya duduk-duduk. Melainkan kerjanya bergerak sana sini. Mencuci.

Ya, sungguh hebat. Beliau bekerja dibagian laundry. Mengambil pakaian yang kotor, seprai yang kotor. Dari lantai satu ke lantai lima. Kemudian di cuci. Diantar lagi. Tentu banya gerak ini membuat potensi datangnya ngilu dibagian yang dipasang kateter itu akan semakin besar, bukan?

Ya Allah. Demikian hebat ujianMu, beliau masih tetap tersenyum seperti tak terjadi apa-apa saat beberapa lalu aku berpapasannya dengannya.

Saya merasa tertampar. Segera bersyukur atas nikmat kesehatan yang masih diberikan Allah kepada saya.

Begitupun Anda seharusnya kawan. Bersyukur jugalah atas kesehatan yang masih melekat di badan🙂

Kebiasaan Orang Besar

Menulis adalah kebiasaan orang besar.

Saya tersentak saat petama kali membaca kalimat ini, sekitar dua minggu yang lalu dalam sebuah buku. Saya akui, meski saat ini belum menjadi orang besar, setidaknya saat muda inilah kita harus berlatih mengasah kemampuan agar tajam.  Tapi kadang rutinitas yang menyibukkan,membuat kita tak sempat menoreh sepatah dua kata di blog yang memang telah usang.

Tapi lagi dan lagi, mungkin menulis itu belum menjadi kebutuhan, membuat kita lalai. Yang tidak sibuk, membuat alasan untuk sibuk. Padahal sesibuk apapun itu, Jika kita mau, kita akan bisa melakukannya. Ah, sepertinya saya sedang menampar pipi sendiri. Tidak apalah, biar kita sama-sama sadar. Apapun yang kita lakukan itu adalah pilihan. Tentang niat. Mau atau tidak. Disempatkan atau tidak.
Sebegitu mudah sebenarnya prinsipnya.

Kita ambil contoh,  jikalau kawan memiliki seorang teman -red: pacar (dilarang pacaran, ops!), maka jika ia tak memberi kabar kepada Anda dengan alasan sibuk, maka ketahuilah, sebenarnya niat untuk memberi kabar itulah yang tidak ada. Waktu sehari kan ada 24 jam. Mau berapa jam doi bekerja? Oke katakanlah super sibuk kerjanya 12 jam. Lalu apakah dia tidak punya waktu lima menit untuk menghubungi Anda? Kalau tidak, mungkin niatnya yang tidak ada, hingga terlupa.  Karena itu bukanlah suatu kepentingan atau keperluan bagi dirinya.

Begitupunlah sebenarnya menulis. Sesibuk apapun kita, jika tak berniat mengerjakannya, tak menjadi sebuah kepentingan dan kebutuhan bagi kita, maka alamak terlupakanlah ia.
Betulkah menulis itu kebiasaan orang besar?

Untuk pertanyaan itu, mari kita rasakan sendiri. Kita punya Handphone bukan? Punya facebook? Punya whatApp? Nah, begitu banyak tulisan-tulisan yang kita baca. Bukankah setelah kita membaca tulisan tersebut membuat kita kagum terhadap penulisnya? Kagum akan idenya? Dan terkadang tulisan tersebut seringkali membuat kita terenyuh dan tersentuh.

Ya, begitulah kebiasaan orang besar.

Belajar dari guru alam, si kupu-kupu yang lucu

Baru saja saya membaca broadcast di grup whatsApp yang berisi tulisan profesor Renald Kasali, seorang dosen UI.

Panjang lebar tulisannya, inti dari tulisan itu adalah jangan membiasakan anak menjadi manja. Biarkan anak-anak berusaha sendiri. Menyelesaikan masalahnya. Atau belajar tentang lingkungannya.

Misal, jika berangkat sekolah, tak melulu harus diantar, tak harus selalu dijemput. Tapi disini poinnya bukan anak SD. Melainkan si anak yang telah kuliah. Tapi menurut saya, sedari kecil, meskipun belum kuliah, si anak memang telah harus diajarkan hidup mandiri. Agar terbiasa.

Kata orang, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Begitulah pepatah yang sering kita dengar.

Jadi jika anak yang telah dewasa,yang sedari kecil telah mandiri, nanti jika dia berkesempatan menganyam pendidikan di negeri orang, ia telah dibekali mental yang kuat. Takkan jadi pohon rapuh yang mudah tumbang terkena angin lalu.

Jika ada masalah ia sudah bisa berjuang sendiri.  Jika ada hal yang tak beres si anak telah  bisa mengatasi sendiri. Pokoknya setiap ada kendala, otaknya telah telah berfikir mandiri untuk mencari solusi.

Tapi coba bandingkan dengan orang yang semasa kecilnya selalu diproteksi. Sedikit-sedikit dibantu. Sedikit-sedikit dibela. Tidak diberikan pengertian. Tidak ditanamkan pemahaman. Tentang hal baik yang harus dipetik dalam suatu kejadian. Atau yang lebih parah saat ini, malah ada orang yang mengadukan guru ke polisi karena menegur kenakalan si anak di sekolah. Zaman edan. Coba bayangkan saat nanti si anak telah dewasa. Dan si orang tua pun telah tiada, jadi jika nanti ada masalah terjadi kepada si anak yang telah dewasa, siapa yang akan menyelesaikannya jika bukan dari dalam dirinya?

Anak disayang bukan berarti harus dimanja. Tapi anak disayang harus ditempa. Biarkan ia tumbuh menjadi pribadi tangguh yang berani menatap dunia.

Dapat kita petik sebuah pelajaran dasyat tentang pentingnya suatu kemandirian dari Sang guru alam.

Coba kita bantu kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Maka sudah pasti ia akan lumpuh. Takkan bisa dan takjan mampu ia mengibaskan sayap indahnya. Kita kira kita telah membantunya, tetapi  ternyata dia malah teraniaya.

Tapi coba biarkan kepompong itu keluar sendiri dari bungkusan yang memenjarakannya, maka saat ia berhasil keluar sebagai kupu- kupu, maka ia akan sanggup terbang tinggi mengepakkan sayap indahnya.

Semoga bermanfaat.

image

Hal yang pantas didapatkan setiap perempuan

“Aaaaaargh!”
“Sakiiiiiiiiiiit”
Terdengar suara seorang perempuan mengerang setengah berteriak.

“Aduuuuuuuuh, suster. Sakiiiiiiit!”. Erang perempuan itu lagi dengan nafas memburu. Tersengal.

“Ia Bu. Sabar ya.” Ucap salah seorang suster.

“Aaaaaargh”. Wanita itu mengerang lagi. Tak tahan rasa sakit.

Saya merinding. Saya ada di ruangan itu.

Saya hanya menelan air ludah. Sedari tadi saya yang berada di ruangan itu, awalnya sepi-sepi saja. Tiba-tiba suara seorang wanita di balik tirai itu membuat saya kaget dan erangannya membuat bulu kuduk saya berdiri.

Beberapa bidan datang lagi untuk membantu.

“Sreeeet”. Gerai kain penutup yang tadinya menjadi sekat disibakkan.

Reflek saya melihat ke belakang. Karna hanya kira-kira lima meter jarak saya darinya, jadi terlihat seorang wanita hamil yang telah sampai bulan siap dengan posisinya. Ada si suami  berdiri di sampingnya.

“Waduh!”. Teriak saya dalam hati melihat posisi yang akan dilewati oleh setiap wanita yang akan dipanggil ” Ibu.”

Tak sampai sedetik, saya pun memalingkan wajah. Takut melihatnya.

“Ayo dek, lihat saja.” Ucap kakak kepala ruangan kamar bersalin itu.

“Ga ah Kak. Takut.” Ucap saya tersenyum sembari pura-pura serius mengecek jumlah stok baku yang akan ditetapkan di ruangan itu.

Suara erangan perempuan itu masih terdengar.

” Itu tuh, kepalanya udah keluar. Coba aja lihat sebentar.” Ucap kepala ruangan paruh baya beranak tiga yang masih saya panggil kakak, sesuai kebiasaan dirumah sakit itu.

Saya kembali tersenyum. Menolak secara halus. Tetap tak mau melihat.

Suara rintihan wanita itu masih terdengar.

Tak lama kemudian.

“Ooeeeek… ooeekkk..”

Terdengar suara tangis bayi mengudara.

“Alhamdulillah bayinya selamat” Ucap saya dalam hati, sembari masih mengecek Alkes-alkes untuk kamar bersalin itu.

Beberapa menit kemudian, saya melihat petugas mendorong meja beroda berisi peralatan medis yang digunakan untuk melahirkan. Ada gunting, perban dan lain-lainnya. Sudah pasti berlumur darah.

Oaaalah. Begitukah prosesnya?  Tanya saya dalam hati karena hadir tak sengaja di saat persalinan itu terjadi.

Erangannya. Darahnya. Subhanallah.

Saya angguk-angguk sendiri. Seperti saya lebih memahami sesuatu. Saya pun larut dalam fikiran sendiri.

Pantaslah saat seorang sahabat sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang siapa yang harus dihormati, Rasulullah menjawab:

Ibumu.”

Siapa lagi ya Rasulullah?

“Ibumu.”

Siapa lagi ya Rasulullah?

“Ibumu.”

Siapa lagi ya Rasulullah?

Ayahmu”.

Saya angguk-angguk lagi. Saya mengerti, ayah  menjadi sebutan yang keempat dalam daftar orang yang harus dihormati bukan berarti ayah dinomorduakan.

Tapi karena begitu besar tantangan seorang ibu saat melahirkan, begitu sakitnya proses persalinan, hingga mempertaruhkan jiwa dan raga, maka pantas saja seorang wanita mendapatkan penghormatan yang lebih.