Cerita Pilu Seorang Gadis yang Tinggal di Kaki Gunung

Matahari tak lagi mengintip. Ia telah naik memanjat bumi. Sudah jam tujuh pagi. Meskipun begitu, tapi hawa dingin masih telasa hingga ke tulang. Jika kau hembuskan nafas ke udara, maka embun akan keluar dari tenggorokanmu. Seperti orang merokok yang menghembuskan asap.  Akan keluar seperti  itu.

Sebenarnya pantas saja. Karena daerah ini terletak di bawah kaki gunung. Jika dari Kabupaten kau datang, maka daerah ini adalah desa terakhir yang kau jumpai. Jika Kau masih berjalan lagi maka kau akan sampai ke  dalam polak yang rimbun. Dan jika terus berjalan, kau akan sampai di gunung merapi. Dulu pernah sekelompok remaja mendaki gunung itu, tapi sampai kini mereka tidak pernah balik lagi. Kata orang pintar di kampung itu, mereka telah di mangsa.  Aih. Diterkam hewan buas atau malah jadi tawanan bangsa jin. Atau dilempar para penghuni gunung ke dalam lembah yang curam. Jika iya, sudah pasti tulang mereka remuk semua. Itu tebakan warga. 

Ngeri-ngeri sedap sebenarnya mendengar cerita tersebut. Kenapa? Ternyata salah satu dari remaja tersebut  ada yang tidak mendapatkan izin dari orang tuanya sebelum mendaki. Tapi yang namanya anak muda, masih keras kepala, ia tidak mau mendengarkan  nasihat orang tua. Jadi begitulah nasibnya.

Ada hal lebih ngeri yang ingin kuceritakan padamu, Kawan. Tentang sesuatu yang pasti membuat kau berpikir  “apakah itu mungkin terjadi?” Tapi coba kau cermati dulu ceritanya.

Pagi itu saya pergi ke masjid. Pergi mengaji . Hal ini telah menjadi kebiasaan bagi anak-anak seusiku di kala itu. Masih berumur tujuh tahun. Tapi setiap pergi dan pulang mengaji, ada hal yang agak aneh di pandanganku. Ah, hal ini bukan menurutku saja. Orang lain tentu juga mengatakan seperti itu, hanya saja tidak pernah terlontar dan terdengar di telingaku.

Setiap pagi atau bahkan setiap melewati rumahnya yang ada di samping mesjid, ia selalu berdiri di teras. Kadang ia duduk atau berdiri sembari memegang pagar yang terbuat dari tembok. Kemudian dia akan tersenyum. Sebenarnya sungguh bagus jikalau kita melewati rumah orang lain, terus si empunya tersenyum kepada kita. Itu tandanya dia tidak sombong.

Tapi khusus untuk kejadian ini tidaklah seperti  itu. Kau takkan senang melihatnya. Pasti kau akan merasa kasihan, iba atau apalah. Bisa jadi juga kau merasa jiijik. Kenapa? Aissssh, ia tersenyum sembari mengeluarkan sesuatu dari sudut mulutnya . Ya,air ludahnyalah yang selalu mengalir dari mulut. Sudah “meler” sampai ke baju. Sepertinya otak si empunya tubuh tidak bisa lagi megontrol  produksi air lir berlebih.

Hari itu, seperti biasa, aku melewati rumahnya. Ia yang berambut panjang  sepinggang dengan rambut diikat tidak terlihat di depan rumah. Kemana ia? Tanyaku saat itu. Ternyata sepersekian detik pertanyaan itu terlintas, dia yang menjadi objek fikiranku langsung muncul. Gadis  yang berumur lebih kurang lebih dua puluh tahun yang agak berbadan “bundal” itu akhirinya keluar  dari pintu. Masih dengan tersenyum.  Bukan. Bukan tersenyum itu namanya. Tapi cengengesan kata anak muda sekarang. Dan itu terjadi setiap saat tiada henti. Tentu, dengan ileran yang telah tumpah yang membasahi bajunya. Sungguh kasihan.

Aku yang masih kecil waktu itu tidak mengerti. Apakah ia sudah gila? Apakah ia sudah tidak waras? Tapi sungguh ia masih muda! Apa yang sedang ia fikirkan? Diputuskan pacar? Ditinggal mati oleh kekasih? Ah! Tidak selebay itu sepertinya.

Terakhir sejak aku pindah pergi merantau meninggalkan desa itu, sesekali hingga saat ini aku masih teringat akan dia. Apakah ia masih hidup? Apakah ia telah tiada? Karena sudah beberapa kali aku pulang kampung dan aku tidak pernah lagi melihatnya duduk di teras atau berdiri di depan pagar. Karena penasaran, tiga bulan yang lalu, ketika menelepon salah seorang adik Ibu untuk bertukar kabar, akhirnya terbahas pula tentang “dia yang selalu tersenyum” itu. Sekedar ingin tahu. Bertanya tentang sebab mengapa gadis berkulit hitam manis itu bertingkah seperti tidak kebanyakan orang. Awalnya aku tidak menyangka.  Sedikit kaget juga mendengarnya. Tante yang kebetulan indigo itu tahu penyebabnya. Katanya, pemilik tubuh yang sebut saja namanya mawar itu telah dimasuki oleh jin jahat. Jin yang kabur dari alamnya dan bersembunyi di tubuh mawar agar tidak ditemukan oleh kelompoknya untuk menghindari sebuah hukuman. Sungguh naas.

image

Lucu Tapi Nyata!

Dunia sepertinya memang sudah tua. Ada-ada saja yang terjadi. Tak pernah terbayang atau terfikir oleh saya. Tentang pernikahan anak laki-laki dibawah umur dengan seorang nenek-nenek tua.

Kenapa dikatakan dibawah umur? Karena dia, Slamet Riyadi, masih 16 tahun. Sedangkan istrinya, Rohaya, berusia 71 tahun. Tentunya mengetahui pernikahan ini akan membuat semua orang jadi geger.

Menurut agama islam sih memang tidak ada larangan untuk pernikahan anak yang masih begitu muda ini. Tapi  berdasarkan undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, batas perkawinan minimal bagi pria adalah 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Kecuali atas izin dari pengadilan.

Nah, jelas-jelas ini melanggar undang-undang, bukan?

Tapi apa  mau dikata, mereka sudah menikah. Ditanya soal alasan mereka menikah, katanya mereka melaksanakan itu atas nama cinta. Oh my God! Ternyata tidak ada yang memaksa mereka.

Kalau seandainya masih sama-sama muda, kemudian mereka mengatakan alasan menikahnya karena cinta, itu hal yang lumrah kan ?

Tapi bagaimana dengan kasus ini?

Sangat lucu tapi nyata!

Tapi ya sudahlah. Apapun pandapat kita, kan mereka yang menjalani dikehidupannya. Lagian siapa kita bisa melarang? Yang penting mereka tidak berzina saja. Masih mending mereka, walaupun berbeda umur yang sangat jauh, tapi mereka tidak takut dan sangat berani mengambil keputusan. Salut juga saya.

Doa saya, semoga mereka bahagia. Tak ada bedanya dengan pasangan baru menikah lainnya. Amin.

image

Gambar: kompas.com

#tugasnonfiksi1

Jika aku lelaki, aku Akan Menaklukan Hati Para wanita

“Pergi saja kemana sesuka hatimu. Mau kemana saja engkau aku tidak akan melarang. Atau bahkan jika Kau ingin mencari wanita lain yang lebih baik, tidak mengapa bagiku. Mungkin sudah itu takdirku.”

Suara wanita itu sudah agak tinggi. Mukanya merah padam. Sedangkan si lelaki diam saja. Entah karena dia yang sabar. Atau diam karena memang merasa bersalah.

“Tiap hari Engkau hanya memberi dosa kepadaku. Tiap hari ada-ada saja sesuatu yang tak kenak di hatiku. Tiap hari ada-ada saja hal yang membuatku merasa tidak enak.”
Si perempuan masih saja berkoar-koar melimpahkan kekesalannya. Aku hanya bisa melihat dan mendengar. Aku tidak berani untuk berucap.

Akhirnya si lelaki mulai buka suara. “Kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan, tolong berbicaralah dengan lembut. Kenapa harus dengan nada seperti itu?”

“Dari tadi pun aku sudah bicara dengan lembut, mengingatkan. Tapi tidak didengar. Tak hanya sekali dua kali. Tapi sudah lebih dari lima kali. Namun tidak digubris sedikitpun. Kalau suaraku udah agak tinggi, kenapa baru ada respon? Kenapa harus menunggu aku marah dulu? Sabar itu ada batasnya. Kalau sudah jadi suami istri itu, kita harus seiya sekata. Jangan suka-suka sendiri saja.” Ucap Wanita berbaju merah dan berambut sebahu itu tanpa kehabisan kata-kata.

” Tolonglah. Jangan memberiku banyak dosa.” Ujarnya lagi dengan suara yang mulai pelan.

“Tolong jangan dorong aku masuk neraka. Sekarang begini saja, kalau sudah tidak cocok kita rasanya, ya sudah. Cari saja wanita lain. Belum terlambat kita untuk berpisah. Masih banyak bunga di taman. Tinggal pilih saja mana yang disuka. Aku tidak akan melarang.” Lanjut wanita itu dengan nada masih rendah tapi menusuk dada.

“Jangan berkata seperti itu. Tidak baik.” Balas si suami dengan singkat.

“Kalau begitu, tolonglah kita jangan saling menyakiti hati. Tolonglah kita saling menghormati dan menghargai.”

Aku angguk-angguk. Aku saksi mata. Memang betul. Aku mengiyakan ucapan perempuan itu. Kalau sudah ijab kabul ya memang harus begitu. Seiya sekata. Agar tidak terjadi perang dunia ketiga. Ah. Aku lelah sebenarnya. Dalam seminggu pasti ada-ada saja hal yang dipermasalahkan.

Yang kuperhatikan, kalaulah ada masalah, ada hal yang tidak sesuai, dan jika ada salah seorang  yang menyampaikan pendapatnya dengan nada dan kata-kata yang tidak pas, maka sudahlah. Langsung mulai lagi sesi perdebatannya.

Kadang kulihat. Si wanita ini memang tidak mau kalah. Apa yang dikatakannya semuanya serasa benar olehnya. Tapi agak unik juga. Kalau si lelaki sudah mulai mengalah, si perempuan kayaknya luluh juga. Bahkan merasa bersalah pula tentang ucapan yang kadang sedikit tidak sopan terhadap suaminya.

Dan dari yang kuamati, memang benar seorang suami itu dituntut untuk sabar. Karena jika hatinya pun mudah bergejolak seperti si wanita, mau dibawa kemana si Rumah Tangga. Sekali mengucapkan talak, maka pisahlah mereka. Nah, beruntunglah wanita-wanita yang mendapatkan suami yang sabar. Yang mau mengalah dan mau membujuk si istri saat dia marah.

Yang parahnya, si lelaki yang membuat masalah, dia pula yang tidak sabar, dan dia juga yang marah-marah. Alamak! Makan hati sajalah si wanitanya. Makan banyak tapi tubuh kurus kering karena otak selalu bekerja menahan semua masalah.

Ah. Seandainya aku lelaki, aku pasti bisa menaklukkan hati para wanita. Tapi apalah daya, aku hanyalah perpaduan semen dan batu bata tanpa bisa berbuat apa-apa.

image

#Tugasfiksimateri1.

(Tidak) Sukses kah?

Dokter Fahdhy, direktur di Rumah Sakit kami, memberikan sebuah ungkapan hebat.

“Kita sudah sukses melaksanakan akreditasi”

Semua anggota pokja masih diam. Seminggu lalu kami telah selesai dinilai oleh survaior dari pusat.

” Walaupun hasilnya belum keluar, tapi sukses itu tidak dinilai dari hasil. Melainkan tentang proses. Bagaimana kita kerja keras dan berusaha untuk melakukan semuanya dengan sebaik-baiknya.”

Saya tersenyum. Angguk-angguk.

“Sebenarnya kan bisa saja, pembuatan dokumen itu dibayar saja, tapi itu bukan sukses namanya karena tidak ada usaha disana” Lanjut Direkturnya lagi.

Saya lagi-lagi mengangguk. Membenarkan. Sudah enam bulan terakhir kami semua pokja kerja lembur menyelesaikan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk akreditasi. Bahkan tiga minggu sebelum akreditasi, kami bisa dikatakan menangis darah melakukannya. Karena selalu ada perbaikan-perbaikan yang dilakukan. Termasuk merangkap implementasi dokumen tersebut.

Ah. Saya jadi teringat perkataan seorang petugas. Begini katanya.

” Banyak dana yang telah dikeluarkan rumah sakit untuk akreditasi. Tiga puluh pegawai yang ditugaskan untuk penyiapan dokumen. Misalkan saja gajinya dua juta sebulan. Kalau tiga puluh orang, sudah enam puluh juta yang dikeluarkan oleh rumah sakit sebulan. Kalau enam bulan berarti 360 juta. Kalau begitu mending kita beli dokumen saja.”

Saya tidak tahu apa tujuannya berkata seperti itu. Tapi saya hanya menelan air ludah waktu itu. Saya tidak sependapat. Pegawai yang dimanfaatkan untuk menyiapkan dokumen akreditasi, ikut tidak ikut berpartusipasi menyelesaikan dokumen, tetap saja mereka dibayar. Betul bukan?

Justru kalau dibeli lagi dokumen, ada biaya tambahan yang keluar. Sedangkan kalau dikerjakan oleh pegawai sendiri uang tersebut bisa dimanfaatkan untuk yang lain. Lagipula, mau dibeli pun dokumen, harus disesuaikan pula dengan implementasi rumah sakit. Akan sangat sulit. Rempong beud kata anak muda sekarang.

Tapi ya sudahlah. Biar sajalah ia berkata sesuka hatinya. Yang penting Direktur sudah mengatakan kita sukses. Apapun hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT 🙂

image

Ibu Tua Itu Saja Bisa. Lah Kita?

Saat kaki melangkah masuk ke dalam istanaNya, berharap ada selembar kain penutup aurat untuk melaksanakan ibadah kepadaNya. Berdoa bisa sholat berjamaah. Tapi apa daya, kerana diri yang tak sigap dan siaga, akhirnya sulaman kain untuk sholat tiada lagi bersisa.

Diantara sekian lama saya hidup,  baru kali ini rasanya saya merugi tak bisa sholat berjamaah. Di mesjid agung yang lantunan ayat-ayatNya sangat indah. Tapi apa mau dikata, ya sudahlah. Mungkin belum rezeki untuk mendulang pahala dariNya. Satu pelajaran telak untuk saya, seharusnya mukenah kecil haris selalu dibawa kemana-mana.

Hmm. Setelah dapat bukaan gratis yang dipenuhi berkah, akhirnya hati saya sedikit terbuka.

image

Saat saya sedang menuliskan tulisan ini, seorang ibu numpang lewat. Mau ambil minum katanya. Dan ternyata dia duduk di samping saya.

Saya tersenyum untuk menyapanya. Dia menanyakan saya darimana, begitupun akhirnya saya bertanya juga.

“Saya dari Bertangon Nak.”

Saya angguk. Pura-pura tahu.

“Anak darimana? ”

“Saya dari Marendal, Bu. “Jawab saya padanya yang sebenarnya dah nenek-nenek.

“Tapi saya kerja dekat dari sini. “Jawab saya polos.

“Berapa menit kesini Bu? Dari rumah Ibu.”

“Oh ga menit lagi Nak. Sudah jam’an”

“Jam berapa ibu berangkat?”

“Jam dua.”

“Nyampe disini?”

“Jam enam Nak. Tadi angkotnya mogok.”

“Oh. “Saya angguk-angguk. “Normalnya berapa lama Buk?”

“Dua jam Nak.” Jawabnya tersenyum.

PLAK!

Saya merasa tertampar. Ibu-ibu tua ini sengaja datang jauh-jauh pakai angkot hanya untuk i’tikaf di mesjid Agung, salah satu mesjid yang besar di Medan.
Nah saya? 

Aduh, jangankan jauh-jauh. Saat ini saja saya yang dekat dari mesjid ini, paling setengah jam pakai sepeda motor, belum pernah sekalipun melakukannya.

Ya Allah. Maafkan Hamba.

image

*foto para calon penghuni surga

Benarkah?

Aku bukanlah atap yang tahan selalu diguyur hujan.
Aku bukanlah pagar yang senantiasa selalu berdiri tegar saat angin ribut datang.
Dan,
Aku bukanlah tiang yang bisa dijadikan sandaran.

Tapi, aku hanyalah satu sebutir pasir yang bisa membangun rumah jikalah bersama yang lain.
Ya, aku hanyalah sepotong kayu yang bisa dijadikan pintu tempat lalu.

Namun terkadang, jikalah adaorang  yang melihatku miring,
Dapat ku berubah jadi kerikil yang bisa saja membuatnya tergelincir.

Lakukan Hal Ini Jika Terjadi Luka Lembab

Saya sebagai apoteker sangat sadar bahwa merawat luka bukanlah bagian dari gawe saya. Melainkan hal itu pekerjaan Perawat. Tapi mumpung saya ada di ruangan tersebut karena melakukan sesuatu hal, jadi saya tidak mau melewatkan ilmu yang berharga ini. Jaga-jaga berguna nanti suatu saat.

Jadi begini prosesnya.

Pertama, cuci luka.

Cara membersihkan luka, gunakan cairan nacl. Kalau tidak ada uang, bisa pakai air panas. Pakai air aqua boleh, tapi  jangan gunakan air galon biasa. Dan juga jangan iodin (betadin) atau hidrogen peroksida. Tidak baik untuk kulit. Bersifat korosif untuk kulit dan merusak jaringan granulosif.  Dan satu lagi, jangan pakai alkohol. Alkohol hanya untuk permukaan. Tidak untuk luka.

Kedua, buang jaringan nefrotik.

Jadi buang nanah, jaringan hitam, biru dan lain-lain. Baru berhenti  kalau sudah merah semua. Lakukan dengan hati-hati dan sangat lembut.

Ketiga. Menutup Luka.

Cara menutup luka, ada tiga lapisan. Primer, sekunder, tersier.

Primer : salep/ gel ( misal salep gentamisin). Berbeda-beda untuk masing-masing luka.

Sekunder: tutup pakai kasa.

Tersier: elastis verban.

Cukup itu saja.

Ingat lagi. Jangan pakai iodin. Itu hanya untuk kulit yang belum luka. Misal antiseptik sebelum para ibu akan dioperasi caesar.

Perawatan luka cukup sederhana itu saja. Lakukan dengan sabar karena Allah sudah menciptakan kulit sedemikian sempurna.

Begitu saja.

Sumber: Perawat yang sudah bergelar Ners yang sudah mendapatkan pelatihan dan setifikasi.