Jangan dibaca Sajak Tentang Cinta

Saat cinta menghampiriku, tak mampu ku menggenggamnya erat karena ia dapat membakarku seperti jerami kering yang terkena api, begitu cepat menjadi abu.

Saat rindu menghinggapiku, tak berani  ku berucap sebab ia akan semakin dalam menancapi jantungku seperti  papan terpahat paku, susah untuk dilepaskan.

Saat pilu merayapiku, tak berani ku mengungkap rasa sebab ia akan semakin menggerogoti hati seperti  ulat memakan kayu, takkan pernah kokoh lagi.

Disaat cinta, rindu dan pilu menjadi satu, hanya kepada tuhan ku mengadu, sebab Ia adalah Maha Pencipta Pemberi Rasa yang Maha Dasyat. Biarkan ia memberikan yang terbaik untuk diriku.

Advertisements

Keputusan yang Berbeda Dari Orang Banyak

Kemarin saya ditanya orang tua. Apakah saya akan daftar PNS ?

Saya tidak langsung menjawab. Ragu. Karena memang tidak ada niat jadi PNS.

Tapi saran dari orang tua ini, ikut saja tesnya. Kalau rezeki diambil kalau tidak ya sudah.

Menarikkah untuk saya? Entahlah. Kata kebanyakan  orang, kalau kita ragu atas segala sesuatu, itu berarti tidak. Kenapa? Ya begitulah kira-kira.

Kata orang memang jadi pns itu enak. Meski gaji kecil, tapi negara menjamin gaji kita seumur hidup.

Lagi dan lagi apakah saya tertarik?

Masih ragu. Memang ya, kalau apoteker, jadi pns dan kerja di rumah sakit, paling tidak 6 juta setiap bulan bisa didapatkan. Bisa lebih. Namun, saya tidak tertarik untuk bekerja selamanya.

Ini saja saya baru saja resign.

Saya tipe orang yang menyukai hal-hal baru. Akan sangat membosankan mengerjakan hal-hal itu saja tanpa ada peningkatan pengalaman hal yang berbeda.

Saat ini memang sedang dalam penerimaan PNS besar-besaran. Misal untuk apoteker saja dibagian menteri kesehatan, jumlah yang diminta hanya duapuluhan. Sedangkan yang melamar? Pasti ribuan.

Bukan saya ingin jadi pecundang. Tapi memang keinginan menjadi pegawai selamanya itu yang tidak ada. Saya lebih suka berbisnis. Manggaleh kata orang minang. Saat pagi-pagi, saya tidak harus buru-buru ke kantor. Sedangkan keperluan anak masih banyak yang hendak diurus. Begitulah Kira-kira nantinya.

Dan yang paling saya takutkan, bagaimana nanti jika integritas saya turun? Sedangkan saya masih menerima jumlah gaji yang sama. Tidak akan berkah bukan?

Itulah alasan saya tidak mau jadi PNS. Lagipula saya ingin bebas berekpresi dikehidupan mendatang. Semoga saja.

Kisah yang Harus dipahami Dalam-Dalam Agar Hidup Bisa Selamat

Baru saja saya membaca diskusi rekan-rekan ODOP tentang Tereliye. Perihal tindakan “out to the box” si penulis  yang komplain tentang pajak buku begitu tinggi, membuatnya menjadi objek hangat untuk diperbincangkan.

Tapi jujur, saya salut untuk keberanian Tereliye. Apapun hasilnya nanti, apakah undang-undang perpajakan buku akan direvisi atau tetap dibiarkan begitu saja, yang penting Tereliye sudah berani mengambil keputusan.

Nah, yang tadinya jadi bahan diskusi adalah, Tereliye ini kan penulis terkenal. Kata teman saya itu, buku Tereliye yang berjudul “Negeri Para Bedebah” itu sangat bagus. Unsur instrisiknya sangat oke. Pokoknya penilaiannya positif sekali tentang karya Tereliye.

Yang membingungkannya adalah, kenapa ketika karya Tereliye begitu bagus, namun di FP Tereliye, ada-ada saja atau bahkan banyak orang yang tidak respek padanya?

Nah. Ini jadi tanda tanya si kawan ini. Mengenai suka tidak suka, bukan?

Nah, mari feedback memori sejenak.

Pernahkah Anda ingat cerita ayah dan anak yang pergi ke suatu tempat menggunakan keledai?

Saat si anak yang menaiki keledai, si anak dikatakan tidak berbakti.
Lalu saat si ayah gantian yang naik.

Lalu orang lain berkomentar lagi. Si ayah katanya tidak punya hati yang tega membiarkan anaknya berjalan sedangkan dia duduk manis di atas keledai.

Nah, karena mendengarkan kata orang ini, akhirnya si anak dan si ayah kedua-duanya naik keledai. Lalu orang-orang di jalan lain malah mengatakan mereka berdua sungguh tega menaiki keledai kecil itu.

Dan, saat mereka berdua turun, si keledai tidak dinaiki, orang yang lain lagi dengan entengnya pun berkata betapa bodohnya mereka tidak memanfaatkan keledai itu.

Lalu? Bagaimana menurut kawan-kawan tentang semua pendapat orang?

Si A kasih saran 1, si B menyalahkan. Saat saran si B dilaksanakan, si C pun komplain.

Kalau begini, kalau kita selalu mendengarkan semua kata orang, alamak tamatlah hidup kita. Kenapa? Karena tidak akan semua dari mereka membenarkan apa yang kita lakukan.

Lalu?

Ya lakukan saja apa yang dianggap benar. Kan hanya kita yang tahu alasan melakukannya bukan? Tentang komentar-komentar mereka, cukup saja abaikan.

Pepatah bilang, anjing menggonggong kafilah berlalu. Ya sudah, anggap saja mereka seperti angin lalu.

Jadi, lakukan saja apa yang menurut pemahaman Anda benar. Bukan berarti hal ini tentang sesuatu yang menyimpang ya. Begini, jika ada suatu hal baik yang Anda lakukan, lalu ada orang yang suka dan beberapa yang lain tidak suka, itu sangat wajar.

Apalagi si Tereliye yang udah terkenal itu. Saya suka beberapa novelnya. Dan saya menghargai dia.

Lalu ada orang lain yang tidak suka dan tidak respek padanya, tapi ya sudah itu urusan mereka. Mungkin mereka punya alasan. Ingin terkenal seperti tereliye, tapi mereka tidak sanggup. Akhirnya malah benci sama tereliye. Ya udah, itu juga masalah mereka.

Cukup sederhana bukan? 🙂

So, lanjutkan berkarya. 🙂 🙂

image

Selamat Merdeka!

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah berdagang. Bukan kalimat yang hanya gosip semata. Namun hadistlah yang mengatakannya. Apa lagi jika Anda seorang muslim, sedikitpun Anda takkan meraguinya bukan?

Lalu, jika Anda ingin menjadi pedagang, apa hal pertama yang akan Anda lakukan? Mencari ilmu bukan?

Nah, galilah ilmu pada orang yang tepat. Jika Anda konsisten mengikuti intruksi guru, tentu Anda akan berhasil. Dan pasti hal itu tak terlepas dari doa dan perjuangan yang Anda kiprahkan.

Sedikit berbicara tentang berdagang, jika Anda berhasil, maka nanti akan banyak memiliki waktu luang. Dan tentu, Anda takkan pernah terkekang.

Sudah saatnya Anda yang pengatur waktu. Bukan Anda diatur waktu!

Saya ingat sekali tentang kebiasaan orang di kampung halaman. Sebagian besar orang minang adalah pedagang. Coba saja Anda pergi ke kota manapun, Anda Akan menemui Rumah Nasi Padang!

Mungkin darah minang itu sekarang yang mulai panas ditubuh saya. Saatnya saya ingin membebaskan jiwa. Saya ingin berdagang! Walaupun demikian, bukan berarti ilmu profesi saya hanya dianggurkan. In sha Allah ilmu tersebut akan tetap saya manfaatkan meski tidak lagi bekerja lagi di instansi. Saya tetap berbagi, untuk para pemilik hati. Tentang profesi yang selama ini saya tekuni.

So, selamat merdeka! 

image

Kehidupan Hebat Perempuan Indonesia yang Harus ditiru

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu.
Itu adalah salah satu anugrah terbesar dalam hidupku.
Cinta memang tidak perlu ditemukan,
Cintalah yang akan menemukan kita.

Adem sekali membaca kutipannya, bukan? Pernahkah sahabat membacanya? Jika Sahabat penggemar Tereliye, pasti tahu bukan?

“Tentang Kamu”. Begitulah judul singkatnya. Meski judulnya hanya terdiri dari dua kata, namun jika membaca buku yang terdiri dari 524 halaman ini, tentu akan meninggalkan pesan hidup yang mendalam bagi si pembaca.

Bagaimana tidak, Sri Ningsih si pemilik pribadi hebat yang diceritakan dalam buku ini memiliki karakter yang kuat. Dia yang asli dari Indonesia namun menghabiskan sisa hidupnya dibelahan benua eropa. Dia sangat tangguh.  Ibarat karang, ia tidak pernah goyah sedikit pun tentang sebesar apapun ombak menerjangnya.

Hidup ini butuh perjuangan bukan? Nah, Sri Ningsih ini telah mulai berjuang sejak ia masih kecil.

Di buku ini, kehebatan hidup Sri Ningsih justru bermula dari kematiannya. Meninggalkan warisan yang jumlahnya triliunan, membuat sebuah firma hukum yang paling disegani dan terkemuka  di dunia memiliki PR besar menemukan pewarisnya. Tapi hendak dicari kemana? Tidak ada tanda-tanda dari Sri Ningsih tentang siapa yang berhak menerimanya. Justru disini muncul teka teki menarik bagi pembaca.

Lalu tentang kehilangan. Sri Ningsih memandangnya dengan sederhana namun menakjubkan. Siapa di dunia ini yang tidak pernah kehilangan? Begitu juga dari ningsih. Bahkan ia tidak pernah memandang wajah ibunya karena kematian. Lalu cobaan datang silih berganti bertubi-tubi menimpanya setelah ayahnya pun tiada.

Nah, tentang cinta, Sri Ningsih sangat beruntung. Meski melalui liku-liku nan panjang, akhirnya ia pun menikah dengan seseorang yang tidak disangka-sangkanya! Dengan kisah unik dan perjuangan yang panjang, akhirnya Sri Ningsih melabuhkan hatinya pada lelaki itu. Si lelaki pemalu dengan sejuta rahasia.

Jadi jika Anda yang sedang mencari pemahaman hidup, mencari makna dari kehilangan,ingin tahu  cara memandang masa lalu dan masa yang akan datang, silahkan baca novelnya. Bahkan jika Anda ingin menerapkan kegigihan dan kesabarannya dalam hidup, tentu Anda pun akan sehebat dia. Ya, Anda bisa sehebat dia jika Anda mau.

image

Judul Buku:  Tentang Kamu
Pengarang :  Tereliye
Penerbit:  Republika
Tahun terbit: 2016
Cetakan: VII
Harga buku: Rp 87.000

Minuman Unik dari Ranah Minang

Seperti Belanda minta tanah. Itulah pribahasa yang sering kita dengar untuk seseorang yang tidak pernah puas dengan pemberian orang lain. Tidak merasa cukup lalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang lebih.  Sebenarnya itu bukan hanya sekedar peribahasa. Sangat benar adanya di zaman dahulu, dikala Indonesia masih dijajah.

Dulu saat Belanda masih menguasai Indonesia, rakyat pribumi dipelakukan semena-mena. Tenaga rakyat dikuras. Semua hasil bumi dirampas. Lalu diangkut dan dijual semua agar hati mereka puas.

Jadi dulu di Sumatra Barat, tanahnya yang subur  menghasilkan kopi yang diinginkan oleh Belanda sebagai komoditi dagangnya. Namun sayang, karena keserakahannya, sedikitpun hasil jerih payah petani hanya mereka nikmati sendiri. Dijual keluar negeri lalu piti nya dibawa untuk membangun negeri si Kincir Angin.

Zaman itu, karena semua biji kopi telah dikuasai Belanda, tanpa boleh sedikitpun masyarakat menikmatinya, akhirnya rakyat minang memutar otak. Tidak ada rotan akarpun jadi. Bukan orang Minang namanya kalau berputus asa. Jika kopi tidak bisa mereka olah dari bijinya. Mereka pun menggantinya dengan daun. Aduhai!

Sungguh cerdas nenek moyang dulu. Tidak pernah terfikirkan oleh kita. Karena keadaan yang dulu sangat memaksa, akhirnya timbullah ide cemerlang yang luar biasa.

Dalam bahasa arab, kopi disebut dengan “qahwah” .  Karena dibuat dari daun, makanya minuman unik ini dinamakan kawa daun.

Jika Kawan pergi ke Sumatra Barat, khususnya ke Kabupaten Tanah Datar, Dunsanak akan menemui minuman yang berwarna coklat sedikit kehitaman ini di kedai-kedai di sepanjang jalan. Tidak susah untuk mencarinya, karena kawa daun ini telah mengakar dan membudidaya disana.

Minuman yang enak diminum dalam keadaan hangat ini memiliki bau yang unik. Cita rasa yang khas dan menarik takkan ditemui di dalam minuman lainnya. Dunsanak tidak percaya? Ayo coba saja. Bahkan variasinya juga ada. Dengan menambahkan rempah. Cengkeh misalnya.  Waduh, nikmat sekali rasanya!

Jika Dunsanak pencinta kopi, coba deh sekali-kali main-main ke Sumatra Barat. Setelah mata terpuaskan dengan keindahan alamnya, nah saat haus dahaganya pun dapat terlepaskan.

Kabar bagus untuk orang yang alergi kopi , kawa daun ini bisa menjadi minuman alternatif karena tidak mengandung kafein yang tinggi. Dilansir oleh Dayli Mail, ternyata minuman harum yang disajikan dalam tempurung ini mampu menurunkan resiko diabetes dan jantung.

Kekurangannya, minuman ini tidak akan mudah Dunsanak temukan di daerah lainnya . Karena itu, ayo ke Sumatra Barat saja!

image

Peklah Pulang Kampuang wak lai

Diantara Bintang-Bintang

Semua manusia yang hidup di dunia ini adalah bintang. Semua bayi yang telah terlahir adalah Sang juara. Dan, semua manusia yang kini telah tumbuh besar adalah Sang khalifah. Meski bukan untuk semua orang, tapi yang pasti untuk dirinya sendiri.

Pada awalnya kita, sebelum lahir ke dunia ini, kita telah bersaing dengan jutaan sperma lainnya. Dan kita telah menang. Dari sana telah terbukti bahwa kita adalah para juara. Jika kita tidaklah sang pemenang, tentu kita tidak akan dilahirkan di dunia ini, bukan?

Nah, seiring berjalannya waktu. Seiring pertambahan usia, akhirnya kita mendewasa. Menjadi sesuatu. Seseorang dengan hati yang masih teguh dengan sosok yang “dielu-elu” atau malah berhati preman yang sudah tergilas zaman.

Namun berikut beberapa orang teman saya di ODOP yang cukup menginspiratif. Membuat saya malu bermalas-malasan. Membuat saya tertampar jika tidak melakukan hal yang tidak bermanfaat.

Namanya Suparto. Lelaki ini terlahir di pulau jawa. Dia adalah seorang Bapak Tua yang membuat saya malu sebagai anak muda. Kadang ingin rasanya saya menutup muka. Melihat semangatnya yang tidak pernah enyah. Selalu semangat menulis mengalahkan ambisiusnya para remaja.

Kedua, dia bernama Hiday Nur. Perempuan yang sering disapa dengan sebutan Mbak Hiday ini adalah seorang Awardee LPDP. Mungkin kawan-kawan menyangka dia masih muda. Tapi salah syekaleeeee, beliau yang sudah punya anak dan laki. Dan dia ternyata masih sangat bersemangat untuk berprestasi!

Bagaimana tidak, bayangkan ditengah kesibukan menjadi guru, disaat sibuk mengurus anak dan suami, perempuan yang juga sedang berperan sebagai mahasiswa S2 ini telah banyak menulis buku pelajaran untuk siswanya.
Sungguh beliau seorang ibu dan istri yang kece!

Ketiga, masih  dari kaum Hawa yang Oke. Beliau salah satu emak-emak pembisnis yang bergerak di busana muslim. Ibu dari seorang anak ini memiliki kuote keren yang dapat menancapkan asa jika membacanya. Begini katanya, “Seorang pembisnis harus bisa menulis dan seorang penulis harus bisa berbisnis. ” Wow. Pengen banget! Tadi baru saja saya tahu, orang sudah berani membayar tulisan beliau untuk mereview produknya! Itu sebuah prestise.

Sebenarnya untuk kawan-kawan di ODOP, banyak sekali memiliki keunggulan masing-masing. Ada yang sudah terlihat dan mungkin masih banyak yang tersirat. Namun, yakinlah semua pribadi itu adalah emas. Mungkin harus digali lagi agar kemilaunya menjadi terlihat.

Bravo!