Hidup Seumpama Menanam Padi dan Rumput

Jika kau menanam padi, pasti akan ada  rumput yang tumbuh. Tapi jika kau menanam rumput, apakah padi akan ikutan tumbuh?

Begitulah penggalan kalimat almarhum ustad Zainuddin MZ dalam ceramahnya. Semoga beliau diberi kelapangan oleh Allah di alam kubur sana. Amin.

Mengenai paragraf pertama di atas, mengertikah Sahabat maksudnya?

Hidup di dunia ini, seringkali kita terlena. Kita berbuat sesuatu, pasti ada alasan untuk melakukannya. Tapi alangkah baiknya, apapun yang kita lakukan, semuanya karena Allah.

Kita hidup di dunia ini hanya sementara. Dan dunia ini hanya seperti air laut, jikalau kita minum airnya, semakin banyak yang diminum, maka semakin hauslah yang dirasa. Begitu juga dengan dunia. Semakin kita mengejarnya, maka semakin menjauhlah ia.

Jadi alangkah baiknya di di dunia ini, jika kita melakukan sesuatu bukan hanya untuk tujuan jangka pendek yaitu dunia, tapi kita harus melakukannya untuk alasan jangka panjang kita yaitu untuk bekal di akhirat.

Jika sekuat-kuat tenaga kita gagal untuk mencapai tujuan jangka pendek, maka kita tidak akan bersedih karena kita masih memiliki tujuan jangka panjang. Jadi misalnya kita telah berusaha keras mencari rizki dan tetap hidup miskin di dunia, maka kita tidak perlu berkecil hati karena masih ada harapan kita untuk tidak miskin  di akhirat. Tentu dengan amalan-amalan sholeh dan mengerjakan segala sesuatu yang semuanya diniatkan kepada Allah.

Jadi maksud dari ” Jika kita menanam padi, pasti akan ada  rumput yang tumbuh. Tapi jika kita menanam rumput, maka padi tidak akan ikutan tumbuh” adalah, jika kita melakukan sesuatu untuk akhirat, untuk dunia pasti hal tersebut juga berguna. Tapi jika kita melakukan sesuatu hanya untuk tujuan dunia, akhirat pasti tidak akan dapat.

Misal, jika kita bersedekah hanya untuk mencari ketenaran agar dikatakan dermawan, maka pahalanya tidak akan dapat. Tapi cobalah jika kita bersedekah untuk mencari pahala dari Allah, pasti tentu orang lain mengatakan kita dermawan akan ikut.

Begitu juga dengan kita menulis. Jika kita hanya menulis untuk kepuasan diri agar dipuji orang, maka pahala dari Allah tidak akan kita dapat. Tapi cobalah kita luruskan niat menulis untuk membantu orang memberi pencerahan dan mendapatkan pahala dari Allah, in sha allah ketenaran akan datang dengan sendirinya.

Demikian. Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Mana yang Lebih Berbahaya, Penyakit Jasmani atau Rohani?

Jika ada yang bertanya kepada Anda, mana yang lebih bahaya, penyakit jasmani atau penyakit rohani? Maka, apa jawaban Anda?

Mungkin ada yang menjawab penyakit jasmani yang lebih berbahaya. Misal, penyakit diabetes yang tidak bisa sembuh-sembuh. Lalu jika tidak teratur minum obat bisa menyebabkan gagal ginjak, stroke, kebutaan, dan lain-lain. Sedangkan kalau penyakit rohani, dianggap gampang sembuhnya.

Tapi betulkan seperti itu? Benarkah penyakit jasmani lebih berbahaya dibanding penyakit rohani?

Coba kita fikir sejenak.

Kita hidup hanya sementara di dunia ini.  Kira-kira, penyakit yang mana yang dapat menyeret kita kepada neraka? Penyakit jasmani atau rohani?

Mungkinkah si Fulana masuk neraka karena gagal ginjal dan stroke? Atau si Rafina masuk neraka karena panuan dan korengan? Tidak akan pernah bukan?

Nah, kalau seseorang masuk neraka karena penyakit rohani, sangat tentu itu dapat terjadi bukan? Bahkan sangat mungkin semua para penghuni neraka adalah si pemilik penyakit rohani.

Apa saja penyakit rohani yang bisa menyebabkan kita masuk neraka?

Mari kita bahas ke tulisan selanjutnya 🙂

Fakta PKI dari Seorang Nenek yang Masih Hidup

Masalah PKI. Masalah yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Tentang kemunculannya. Tentang keberadaannya yang kini mencuat kembali. Hingga Jendral TNI mengajak semua prajuritnya dan rakyat untuk menonton kembali film PKI. Film sejarah yang telah lama tidak pernah ditonton lagi.

Lalu, di ICL tv one, topik “PKI itu nyata atau hantu” menjadi perdebatan sengit. Ada yang mengatakan semua yang ada di film PKI itu memang nyata adanya, namun ada pula yang membantah bahwa sebenarnya yang menjadi korban itu adalah PKI. Kalau kawan-kawan penasaran dengan perdebatan antar tokoh yang menjadi narasumbernya, maka silahkan menontonnya di youtube.

Perihal pendapat segelintir  orang yang mengatakan PKI sesungguhnya adalah korban, sungguh membuat saya risih. Saya bertanya dalam hati, kenapa semua fakta malah diputarbalikkan? Sungguh membuat saya heran.

Lalu, saya segera memastikan. Menanyakan perihal PKI itu kepada nenek saya yang saat ini masih berumur panjang. Yang menjadi saksi hidup atas apa yang telah terjadi

Katanya, PKI itu sungguh kejam. Para guru agama, para alim ulama di kampung saya, semuanya diburu. Ditangkap. Dikejar habis-habisan. Lalu, muka dan tangan disilet. Bahkan saat masih hidup, kulit mereka dikupasi dengan lembaran seng. Tidak cukup itu, mata para cerdik pandai itu pun dikeluarkan dari wajahnya. Saya merinding mendengarnya. Sungguh mengerikan.

Berarti, nasib naas itu tidak hanya dialami oleh para jendral di pulau Jawa. Bahkan di Sumatra Barat, dikampung saya yang jauh dari kota, PKI pun ikut menyingkirkan semua orang-orang yang menghalangi tujuannya. Ya, PKI membabat habis semua orang-orang islam yang memiliki pengaruh.

Jadi saat ini, tidak ada keraguan sedikitpun di hati saya mengenai kekejaman PKI. PKI adalah korban itu hanyalah bualan belaka. Itu hanya isu pembohongan publik. Tapi masyarakat tidaklah bodoh. Karena, saksi hidup yang melihat kekejaman PKI itu masih ada.

Lalu, jika saat ini masih ada orang-orang berteriak PKI adalah korban, maka sudah pasti di darahnya sudah ada darah PKI. Dia adalah golongan PKI. Itu sudah pasti. Tidak perlu diragui lagi. Maka, kita perlu hati-hati. Jika tidak, sebentar lagi kita pun akan dibantai dan diseret seperti binatang.

Mari kita sama-sama berdoa, agar Allah senantiasa melindungi kita rakyat Indonesia dari kekejaman PKI.

Saran yang (Mungkin) Berguna untuk Para Insomnia

Pagi ini setelah selesai sarapan saya merogoh hape. Lalu melihat semua pesan whatsApp yang telah masuk.

Ada satu hal yang tidak saya sadari kemarin. Saya lupa posting! Berhubung kesepakan dengan komunitas ODOP, saya selalu berusaha memposting tulisan setiap hari. Jika dulunya saya tidak posting karena tidak bisa mengalahkan rasa malas, kemaren sungguh hebat, karena sibuk seharian dan malam sudah kecapean, dan karena ketika pulang magrib hape mati dan tidak dicek lagi, itulah sebenarnya yang membuat saya lupa.

Saya kalah tanpa sengaja. Tapi tidak masalah sih. Saya tidak mau menyalahkan diri sendiri. Karena memang tidak ingat. Sangat tumben.

Lagipula, setelah hape dicas jam 10 malam, saya langsung tidur saja. Karena sudah sebulan ini saya tidur jam 00.00 Wib. Hal mengerikan. Bukan maksud tidak ingin tidur, tapi mata yang tidak mau ditidurkan.

Lalu saya berfikir, apakah karena saya tidur siang, lalu malamnya susah tidur?

Tapi waktu itu saya sengaja tidak tidur siang, dan malamnya, taraaaaaaaa, jam 12 malam saya tetap tidak mengantuk. Tapi mau tidak mau, akhirnya saya rebahkan tubuh juga, dan sepertinya saya baru tidur satu jam kemudian. Sungguh menakutkan.

Takut bukan karena terbayang hantu malam-malam. Tapi saya takut membayangkan apa yang akan terjadi pada tubuh saya kedepannya jika saya selalu tidur malam.

Jangan jangan nanti saya cepat keriput. Lalu penyakitan. Aduh. Semoga tidaklah!

Setelah berfikir seharian, akhirnya saya mencoba menghindari melihat handphone tadi malam. Aji mumpung batere habis, setelah penuh tidak saya aktifkan karena takut tidur tengah malam lagi.

Terbukti. Saya langsung tertidur!

Namun apakah saya tertidur karena kecapean?

Memang. Tapi jika saya mengotak atik hp, maka dipastikan saya tidur tengah malam lagi. Mungkin radiasinya yang membuat mata saya tidak mengantuk.
Seperti itu.

Jadi jika ada teman-teman yang merasa insomia, kalau sudah malam, sekitar jam 9 atau 10 malam, jangan menatap layar handphone lagi agar radiasinya tidak menghilangkan rasa kantuk yang alamiah datang.

Kepedulian yang Tersia-siakan

Seorang teman saya yang juga merupakan Apoteker baru saja menelpon. Memberitahukan saya tentang masalah yang ia hadapi. Maklum, seorang perempuan ketika ada masalah, ingin didengarkan.

Ini tentang pekerjaan.

Pertama, biasanya Apoteker ketika ia menjadi penanggung jawab obat di sebuah Rumah Sakit, ia akan berhadapan dengan Asisten Apoteker. Bekerjasama maksudnya.

Permasalahannya sekarang adalah saat Apoteker ini adalah seseorang yang masih muda sedangkan Asisten Apoteker adalah seseorang yang telah tumbuh menua di Rumah Sakit, jadi ia akan merasa lebih hebat. Jarang bisa diajak kerja sama. Jika diberi tahu malah sok tahu. Aturan penting tentang penyerahan obat tidak dilaksanakan.  Suka-suka saja seperti menyerahkan obat seperti permen karet. Padahal bahaya bukan?

Apalagi jika pihak manajemen pun tidak tegas tehadap pegawai yangbekerja “suka-suka”. Akhirnya Apoteker yang ingin mengelola obat dengan baik di Rumah Sakit, tidak bisa menjalankan tugas dengan maksimal dan efisien.

Bukankah seharusnya tim kerja selalu seiya sekata dalam mengerjakan tugas ? Ibarat sistem tubuh yang selalu kompak. Jika hal kecil sampai yang besar ia kerjakan sendiri, alamak remuklah badannya. Jika pun ia mau melakukan, mana mungkin juga ia menyelesaikan hal yang harus dikerjakan sama-sama itu sendirian?

Kita analogikan seperti ini, ketika tubuh ingin berjalan, tapi si Kaki malah tidak mau bergerak. Bisakah tangan menggantikannya? Tidak kan? Begitu jugalah sebuah tim. Semua memiliki peran masing-masing.

Nah, jika ketimpangan ini terjadi, sebagai penanggung jawab, kita harus melaporkan hal ini kepada bagian managemen, bukan? Alhamdulillah jika diberi saran atau aturan ditegakkan. Tapi kalau hanya dibiarkan dan tidak diberi tindakan tegas, lalu apa yang akan terjadi? Si doi kerja suka-suka. Lalu kita yang makan hati. Dan pasti ketidaknyamanan akan terjadi. Lalu pekerjaan pun takkan selesai.

Mungkin pertama-tama kita harus sabar. Sambil terus mengingatkan. Tapi jika semua saran hanya dianggap angin lalu, dan pekerjaan tersebut masih tidak diselesaikan dengan semestinya ,dan pihak managemen rumah sakit masih tidak tegas, ya sudah, kita saja yang undur diri.

Kenapa? karena kita walalupun punya keinginan memperbaiki sistem farmasi di Rumah Sakit, tapi tim kerja dan manajemen pun tidak peduli, kita bisa apa? Menangis darahpun dan berteriakpun kita memekakkan seluruh bumi, itu pun takkan pernah terjadi.Karena tidak ada kerja sama.

Lagipula, ketika kita peduli tapi kita tidak dipedulikan, ini sungguh menyakitkan bukan? Atau bisa itu akan terasa biasa-biasa saja, jika kita  pun ikut-ikutan tidak peduli. Bisa saja bukan?

Hal yang Harus Dilakukan di Masa Muda

Bukan dongeng, melainkan kisah nyata. Seorang yang otaknya biasa-biasa saja mengalahkan seseorang yang dikenal lebih pintar dan cerdas.

Kalau kita berfikir secara logika, tentu orang yang punya otak cerdas yang akan menang, bukan?

Tapi kenapa bukan hal itu yang terjadi? Malah si yang punya otak sedang sedang itu yang malah sukses.

Kenapa?

Mungkin begini…

Seseorang yang cerdas, biasanya punya banyak ide. Saking banyaknya ide, tidak satupun yang dilaksakannya. Bisa jadi karena ragu atau mungkin karena hendak mengerjakan sesuatu, lalu timbul ide baru, dan akhirnya ide lama ditunda dan tidak jadi dikerjakan.

Sedang si pemilik otak biasa, mungkin hanya punya ide sedikit, tapi itu serius dikerjakan. Atau mungkin seseorang yang merasa tidak pintar ini memiliki keyakinan bahwa jika dia melakukan terus menerus ide kecil yang ia punya, ia akan berhasil mewujudkan idenya tersebut hingga menjadi nyata.

Bisa jadi kan?

Lalu, kamu masuk kelompok yang mana?

Atau kamu malah masuk golongan si otak sedang dengan ide sedikit, tapi malah tidak mau pula beraksi dan lebih suka diam-diam saja?

Aduh! Bangunlah anak muda, sebelum datangnya masa tua. Masa dimana engkau takkan bisa lagi balik ke masa dahulunya. So, jangan sia-siakan waktu yang berlalu.

Bravo!

Pantun nasihat tentang cinta

Jalan-jalan ke madura
Hanya untuk membeli mangga
Jika engkau jatuh cinta
Janganlah biarkan diri terlena

Sungguh cantik bunga anggreknya
Lebih cantik lagi si mawar merah
Mungkin difikiranmu bertanya kenapa
Bersebab cinta yang menghilangkan logika

Anak kucing manis duduk diteras
Sambil melihat ayam berlari
Cinta bertahan bukan krna cantiknya paras
Tapi karena baiknya laku dan budi

Jalan jalan ke bukittinggi
Dengan memakai sepatu tinggi
Hati-hati memilih suami atau istri
Agar kelak tak menyesal nanti