Seorang wanita dan sebatang kayu

Awalnya kayu sama-sama ditanam. Disaat kayu sudah dipanen, nasibnya mau diapakan itu terserah sama si empunya. Ada nanti kayu yang diubah jadi kursi, meja, tempat tidur, sebagai tiang rumah atau jadi kayu bakar. Ia pun tak bisa menolak.

Begitupun wanita. Tiba-tiba terlintas di fikiran saya. Dulu, awalnya kami sama-sama kuliah. Tinggal di kos-kosan yang juga sama. Namun kini saat masing-masing telah memiliki suami, ia memiliki takdir yang berbeda-beda.

Si A, sekarang dia memiliki suami juragan ikan. Keuntungan yang diraup perbulan bisa mencapai ratusan juta. Si B, punya suami yang hanya bekerja sebagai pegawai orang, gajinya tentu hanya pas-pasan. Dan si C, dapat suami yang gajinya di bawah UMR, meski kekurangan, namun ia terlihat tetap berkecukupan.

Waktu terus berputar. Ah, takdir. Tak seorangpun yang tahu bukan?

Seringkali, yang di bawah bisa di atas. Dan yang di atas pun bisa jadi ke bawah. Bukankah orang sering mengatakan ” roda itu berputar?”

Saya saat ini angguk-angguk sendiri. Ya tentulah. Yang senang tak selamanya senang yang susah tak selamanya susah. Lagian, sumber kebahagiaan itu tidak itu tak melulu tentang uang bukan? Meski tak dapat dipungkiri juga, tanpa uang kita juga tak bisa makan.

Tapi intinya, jika saat ini kita kelebihan uang, bersyukurlah dan berbagilah dengan sesama. Jika saat ini kita hanya pas-pasan atau kekurangan, sabar saja dulu ditambah dengan meningkatkan usaha.

Yakinlah, Allah tidak tidur dan tidak buta. Percayalah, di atas atau pun di bawah posisi kita sekarang, tetap saja semuanya adalah ujian dan cobaan dari Allah.

Memilih wanita untuk dinikahi

Wanita dinikahi karena empat hal. Pertama karena kecantikannya. Kedua karena hartanya. Ketiga karena keturunannya. Dan keempat karena agamanya.

Agama ada diurutan keempat bukanlah berarti itulah syarat terakhir. Memang semua ingin mendapatkan jodoh terbaik. Namun, dari yang keempat syarat itu, agamalah yang menjadi syarat utamanya, jika ingin menciptakan keluarga sakinah mawaddah warohmah.

Namun sebenarnya kecendrungan hati harus dipertimbangkan pula. Tak munafik, tentu seorang suami juga ingin memiliki istri yang cantik. Untuk kecendrungan hati nantinya. Agar menumbuhkan kasih sayang dan cinta.

Atau mungkin ada pula lelaki yang ketika menikah, ingin dengan seseorang yang kaya. Untuk memenuhi suatu tujuan yang terbesit di hatinya. Dan mungkin juga jadi kebanggaan tersendiri bagi seseorang jikalah menikah dengan seorang gadis yang berasal dari keluarga terhormat.

Tapi kembali ke awal, apapun tiga faktor pertama yang kita lihat, tetap agama harus jadi syarat utama penggiringnya.

Kalau tidak, hancurlah semuanya.

Dan yang Pasti Hilang

Aku terduduk di atas batu besar di tepi pantai.
Kulihat indah lembayung senja yang menerpa mata.
Ingin ku jangkau dan memasukkannya ke saku, hendak ku bawa pulang, sungguh aku tak berdaya.

Masih ku lihat siluet emas yang menawan di balik laut.
Ingin ku kejar. Ku dayung sampan dengan pengayuh kayu. Belum sampai, ia telah menghilang.

Esoknya ku kembali  ke bibir pantai, melihat eloknya sinar manja  dari mentari. Masih ingin ku miliki. Namun tiba-tiba ia tertutup awan tebal. Dan tak kulihat lagi hingga malam datang.

Ah. Dia tlah menghilang. Mungkin ia tercipta bukan untuk ku miliki. Ia ada bukan untuk selalu ada disisi.
Iya dia. Ada hanya untuk menghangati bumi. Bukan untuk memeluk si hati.

Berhati-hati dengan hati

Jangan main-main dengan hati. Sekali kau terluka, Kau akan sulit menyembuhkannya. Buka karena ia  tak bisa lagi beregenerasi. Hanya saja ia terlalu lembut untuk tersakiti.

Lagipula, jika hati telah berdarah, itu tak sama dengan tangan atau kaki yang terluka. Entah kenapa, jika organ tubuh lain ternganga adalah bukan –si hati-, maka sepertinya itu hanya akan menjadi hal biasa-biasa saja. Bisa hanya terasa sakit sedikit diawal. Tapi, cobalah si segumpal darah itu yang terkena terkoyak, maka otak akan akan bekerja maksimalnya.

Jika sebelumnya otak biasa saja melupakan kejadian, namun jika ada hal-hal yang berkaitan dengan si perasaan, maka ia akan lama terpendam. Tersimpan awet di memori panjang. Hingga ribuan jam.
Memang luka di hati tak sama dengan luka yang terjadi di badan. Jika si tangan luka karena pisau, atau si kaki terluka karena terjerembam, maka si hati biasanya terluka karena perkataan.  Sakitnya hati seperti kayu yang tertancap paku. Meski si paku telah tercabut, lubang bekasnya takkan pernah tertutup.

Begitu pun si hati. Jika ada perkataan yang tak lazim atau tak layak yang menyerang, maka tentu ia akan terluka. Meski si pelempar kata telah meminta maaf dan si hati pun telah memaafkan, namun nanti jika ada hal kecil lain yang mencongkelnya, maka ia akan kembali menyeruak. Memori akan kembali menampilkannya detail di ingatan.

Karena itu, jangan bermain kata-kata. Banyak yang tak elok rupanya. Jika ada hal yang tak penting, diam saja. Daripa membuat orang sakit hati dan berdosa.

🙂

Sosok Bersahaja yang bisa Ditiru Saat Menghadapi Masalah

Sosoknya dipenuhi senyum. Wajahnya selalu sumringah. Bahasa tubuhnya selalu ceria. Seperti hidupnya tak pernah dilanda masalah.

Sosok berumur tigapuluhan itu bukan hanya pimpinan. Tapi dia adalah pemimpin. Bagi dirinya dan organisasinya.  Saya yang pernah dulu satu manajemen dengannya tak pernah sungkan. Tapi saya hanya segan. Bisa membedakan kapan waktunya serius dan kapan waktunya untuk bersenda gurau. Sepertinya penilaian bagus terhadapnya itu bukan saja datang dari saya, tapi juga dari kawan-kawan lain yang mengenalnya.

Manfaat mengenal sosok yang selalu ceria dan bersahaja ini benar-benar penting untuk saya. Karena dalam hidup kita yang selalu dihampiri masalah, diperlukan “guru” yang bisa mengatur hatinya. Sebagai contoh dan suri tauladan. Yang tak menjadikan masalah sebagai petaka. Yang tidak menjadikan masalah seperti neraka. Tapi menjadikan masalah sebagai pelajaran yang mendewasakan.

Asep Safaat, itulah namanya. Beliau merupakan mantan direktur SGI, Dompet Duafa yang kini telah menjadi seorang Trainer. Sudah dimulai dari tiga tahun yang lalu sebenarnya. Sekarang tampaknya dia semakin bersahaja dalam kesederhanaannya. Jika ada hal yang menjadi masalah, saya pun bertanya dan beliaupun menjawabnya dengan serius. Tanda dia tidak menyepelekan saya. Ya, dia menunjukkan walaupun saya bukan siap-siap, dia tetap menghargai saya.

Dulu, walaupun dia seorang direktur, Beliau tidak pernah mendikte. Harus A, I, U, E, O. Tapi beliau mengajak dan mencontohkan. Menanamkan pemahanan “Mengapa” dan “Kenapa”. Membuat lawan biacaranya mengerti. Hingga melakukan tanpa harus memaksa. Tentu, karena bahasa yang halus dan tak menggurui, Saya yakin, semua orang yang berkontak dengannya menyukai bahasa tubuh dan senyum ikhlasnya.

Ah. Saya ingin seperti dia. Bermanfaat dan bersahaja.

Bumbu spageti ala-ala Kampung

Gaeeess. Lama tak jumpa. Sudah lama tak bersua. Dengan aksara saya. Kini saya kembali mengisi kekosongan hari, agar lebih berarti. Cieeeeee

Banyak draft yang tak rampung. Banyak ide yang tak terbendung, ingin dicurahkan lewat kata, namun, karena keterbatasan diri jualah akhirnya ide itu hanya mampet tanpa bisa teruah. Eaaaaa

Okelah. Tidak panjang lebar kata-kata muqodimahnya, – kayak ceramah aja- kini saya hadir ingin berbagi resep makanan yang sudah lama tersimpan di note hape.

Ini dia. Bumbu Spagetti pengguncang lidah! Wkwkwkwk

Bahan:
Tomat 1 kg,
Bawang putih 1 bongkol kecil cacah halus,
bawang bombai 1 biji ukuran sedang (rajang),
Merica ladaku 3 bungkus,
Gula secukupnya,
Garam secukupnya,
Ayam diblender 4 potong ( 0,25 kg) *lebih enak lagi kalau ayam diganti udang
Origano ( bumbu itali) secukupnya.

Cara membuat:
1. Tumis bawang bombay dan bawang putih,
2. Setelah harum, masukkan ayam atau udang. Aduk
3. Masukkan tomat yg sudah diblender.
4. Masak sampai kental
5. Masukkan garam dan gula sesuai selera.

Itu saja kawan, resepnya. Rahasia bumbu Saos spagetti ini saya dapatkan dari emak-emak yang buka usaha spagetti kecil-kecilan. Saya sudah pernah mencoba membuat. Tanpa bumbu origano ( bumbu itali) pun rasanya enak. Untuk mienya, bisa dibeli di toko terdekat. Atau diganti dengan makaroni pun enak.

Selamat mencoba 🙂

image

Untuk hidup yang lebih bermanfaat

Seorang mantan direktur SGI, Dompet Dhuafa, mengirimkan sebuah link tulisan kepada saya melalui WhatsApp. Saya tidak tahu kenapa beliau mengirimkan linknya kepada saya. Namun yang pasti, ketika saya membaca tulisan beliau, sangatlah menggungah perasaan. Tulisannya sangat bersahaja.

Rentetan-rentetan kalimat penyejuk jiwa yang diposting  media online, saya pun dulu sering melakukannya. Tentang hal yang menjadi keharusan, tips-tips dalam mengatur kehidupan, saya pun pernah menuliskannya. Dan saat tulisan itu dibaca banyak orang, ada kepuasan tersendiri yang tak bisa diungkap kata-kata.

Barangkali, Beliau yang saya segani, mungkin ingin menegur saya secara halus, berpesan dengan memberi contoh, “jangan berhenti berkarya sesibuk apapun kita menghadapi dunia”.

Saya sadar, berbagi dalam kata, bercengkrama dalam aksara kepada sesama, adalah sedekah yang pahalanya akan mengalir jika ada setiap pembaca membacanya. Dan memberi manfaat kepadanya. Apalagi bila penulis memberi penawar atas terjadinya sebuah masalah mereka, maka Allah pun akan menaungi kita di akhir masa.

Jujur, jika saya buka kembali ingatan lama, sepertinya terakhir kali saya mengirimkan tulisan untuk penyejuk hati umat adalah bulan Mei tahun 2015 lalu. Sibuk kuliah dan banyaknya tugas yang menghampiri, membuat saya lengah dan lupa untuk melanjutkan kebiasaan yang memberi manfaat kepada sesama. Hingga saat ini, kebiasaan baik yang terhenti, terasa berat untuk dilanjuti. Karena tak lagi terbiasa.

Tapi bukankah melawan diri sendiri memang lebih susah daripada melawan orang lain? Tapi sebenarnta jika tekad sudah ada, semangat pun telah membara, niat hati yang ikhlas in sha allah akan mengalahkan segalanya. Ayo kembali berkarya!