Yang Perlu Dilakukan Saat Syukur Telah Hilang

Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji bagi Allah Sang pencipta Alam. Yang menguasai seluruh semesta. Dari yang kecil hingga yang besar.

Mesin pesawat mulai menderu. Aku duduk di pinggiran sayap. Mulai menatap, saat si dia yang punya sayap mulai naik ke atas.

Kupandangi ciptaanNya. Kutebarkan mata kesekelilingnya. Nampaklah rumah berlantai dua yang hanya sebesar kuku. Tidak beberapa saat, berubah jadi titik. Lalu menghilang.

Kun Faya Kum.

Jika Allah menghendaki, tidak perlu bersusah payah bagi Allah untuk menghempaskan kami yang sedang berada di atas terjun ke tanah. Terbakar. Hangus. Jadi abu. Dan hanya tinggal nama.

Lalu, jika Allah masih memberi kesempatan, menarik nafas lebih panjang, maka, bukankah ini suatu rizki dan karunia yang tidak boleh disia-siakan?

Memang, akal pendek diperpanjang dengan perjalanan. Mata yang tertutup atap, jadi terlepaskan. Hingga kita tahu, dunia ini begitu luas. Banyak hal yang harus dikerjakan.

Bahkan, jika sebenar-benarnya ingin  memanfaatkan hidup, waktu 24 jam tidaklah cukup. Namun jika saat ini rasanya banyak hal tidak bermanfaat yang dikerjakan, maka terbanglah. Perjauh perjalanan.

Atau bahkan, dalam keseharian rasanya telah bosan makan ayam, ikan, daging ataupun udang, maka nanti akan kita temui mereka yang baru makan setelah keringat bercucuran. Bahkan, hanya makan dengan ikan asin mereka pun senang.

Allah Maha Adil bukan? Saat syukur itu telah hilang, maka kelezatan tidak lagi dirasakan.

Maka, berjalanlah jika syukur itu telah hilang.

Maka pantas, anak disayang bukan selalu dalam bedongan. Memang yang saya lihat dari orang Minang, jika telah bujang, mereka akan terbang meninggalkan kampung halaman. Bukan untuk jadi TKI untuk membersihkan rumah orang. Tapi tetap berdiri di kaki sendiri untuk sesuap nasi. Dan nanti baru pulang, jika katanya nanti di rantau dia telah menjadi “orang”.

Advertisements

Kenapa Si perempuan Mau Kepada Si Lelaki?

Dia cantik. Berkulit putih dan wajahnya menarik. Meski wanita ini tidak terlalu tinggi, tapi wajahnya cukup sedap untuk dipandang.

Lalu mataku beralih ke makhluk yang ada disampingnya. Entah mataku yang salah atau seleraku yang terlalu tinggi, pokoknya menurutku lelaki itu tidak sepadan dengannya.

Lalu terpintas tanya dalam otakku. “Ini si perempuan kenapa mau kepada si lelaki?

Ah. Mungkin karena sudah dilanda cinta buta.

Sebulan kemudian. Foto perempuan itu melintas lagi di media sosialku, instagram. Tiba-tiba saja aku penasaran.

Difoto perempuan bermata bulat itu tidak aku temukan link untuk mengetahui siapa lelakinya.

Setelah klik-klik sedikit, akhirnya aku mengetahui instagram mempelai laki-laki itu.

Ternyata laki-laki ini berambut gondrong dulunya.

“Apa yang menarik dari laki-laki ini?” Tanyaku lagi dalam hati.

Tak sengaja aku mengklik fotonya di laut lepas dengan cerobong-cerobong tinggi sebagai latarnya, akhirnya saya angguk-angguk. Sangat mengerti.

Ternyata si lelaki bekerja di sebuah perusahaan minyak ternama di indonesia. Pantas. Tampang si lelaki yang tidak terlalu manis diabaikan saja. Karena, kepastian rupiah-rupiah yang sudah dua digit setiap bulannya, sudah mengalahkan segalanya. (~anggap si lelaki selalu sholat lima waktu)

Ditambah lagi, bisa saja tampang yang tak manis itu rupanya romantis.

Atau lagi, si lelaki berwajah yang sangat biasa itu selalu ada disaat si perempuan sedang berduka.

Yang Dekat Terasa Jauh, yang Jauh, Terasa Dekat

Yang dekat menjadi jauh. Yang jauh menjadi dekat. Nah, pilihan mana yang ingin diambil, itu terserah kepada pribadi kita.

Tersebutlah HP yang bagai pisau bermata dua. Ada sisi baiknya. Dan juga ada sisi buruknya.

Contohnya saja hari ini. Ada seorang kawan kedatangan tamu. Saat dia menyiapkan makanan untuk si tamu yang juga merupakan teman dekatnya, tapi si kawan ini malah sibuk dengan handphonenya.

Buka si pemilik rumah ingin dibantu sama si kawan, namun mungkin saat memasak ingin ditemani bercerita. Dan bahkan saat nasi pun sudah terhidang, si kawan yang menjadi tamu ini masih mengotak-atik hapenya.

Nah, bukankah tamu ini datang untuk bersilaturrahmi? Meskipun hanya menjadi tempat singgah sebentar, tapi alangkah baiknya jika waktu yang sedikit itu digunakan untuk berbincang-bincang?

Tapi apa daya, si empunya rumah sudah beberapa kali membuka percakapan, namun si tamu hanya menjawab sembari masih mengotak atik hape.

Bayangkan menurut Anda, bagaimana perasaan si dia yang ingin bercengkrama dengan sahabat lama ini?

Pasti sedih sekali, bukan? Mungkin kesal juga. Jarang bersua, eh saat bertemu sikawan malah sibuk dan asik melihat instagram di smartphonenya.

Kalau begitu, apakah sebaiknya tidak ada pertemuan?

Nah, kembali lagi dengan pribadi Kawan.

Kisah Anak Buta Penghapal Alquran

kayla

Allah sungguh Maha Adil. Dibalik kesempurnaan makhluknya, pasti ada kekurangan yang ia berikan. Dan semua makhluk yang ia ciptakan dengan kekurangan, pasti ada kelebihan juga yang ia karuniakan.

Anak kecil itu bernama kayla. Dia baru berusia sembilan tahun. Tapi sungguh mengejutkan. Di usia yang yang masih muda, ia sudah hapal sepuluh jus ayat-ayat alquran. Lalu yang membuat saya tertampar hebat adalah si anak ini ternyata adalah seorang tunanetra. Ya, dia adalah seseorang yang tidak bisa melihat.

Bayangkan, seorang anak kecil yang masih sibuk bermain, dalam keadaan buta sudah hapal sepuluh jus alquran. Lalu saya tanya ke diri sendiri, sudah berapa jus yang sudah saya hapal? Atau sekarang saya tanya kepada Anda, sudah berapa jus hapalan Alquran Anda? Tidak usah dijawab, mari sama-sama kita merenungi diri. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Rupanya, dari kisahnya yang saya lihat di youtube dalam acara hitam putih, diketahui bahwa Kayla ini bisa menghapal alquran atas bimbingan Sang Nenek. Jadi setiap pulang sekolah, selama satu jam setiap hari, Kayla menghapalkan alquran.

Pasti muncul pertanyaan kita. Bagaimana anak yang buta ini menghapalkannya? Dia tidak bisa membaca karena tidak bisa melihat.

Allahukabar. Allah sungguh maha Adil. Seperti yang saya katakan tadi, setiap kelemahan pasti ada kelebihan yang diberikan Allah kepada kita. Jadi rupanya Kayla ini memiliki ingatan  yang bagus. Lima kali mengulangi apa yang ia dengar dari sang nenek, ia langsung hapal. Masyaallah.

Rutinitas menghapal satu jam setiap hari selama dua tahun membuatnya hapal 10 jus. Dan hal ini jugalah yang membuat ia, ibu, ayah dan Sang nenek mendapatkan ibadah haji gratis dari Raja Arab Saudi. MasyaAllah. Sungguh membuat takjub dan terkesima.

Saat anak-anak normal yang dikarunia mata oleh Allah, tapi tidak digunakan untuk membaca Alquran. Hanya sibuk bermain Handphone yang diberikan oleh orang tua. Tapi lihatlah Kayla ini, mungkin Allah sayang dia, jadi agar tidak terpengaruh oleh perkembangan zaman, ia dilindungi untuk tidak melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat.

Tapi hal ini, bukan berarti kita yang memiliki mata sehat lalu berdoa untuk buta. Bukan. Bukan itu maksud saya. Jjadi kita ambil hikmahnya.

Jika yang buta saja bisa menghapal alquran, lalu kenapa kita yang bisa membaca dan belajar sendiri tidak bisa menghapal alquran? Jika kita mau, tentu kita pun bisa dan juga dapat mengajari anak-anak yang telah diciptakan dengan indra yang sempurna, bukan? Tentu bisa lebih cepat.

Tapi kembali lagi ke diri kita. Apalagi jika kita telah menjadi orang tua. Mau dijadikan apa anak itu, tergantung seni orang tua yang melukiskan warna kepada si Anak. Ya, anak itu ibadarat canvas putih yang bersih. Mau apa yang kita torehkan disana, kuasnya ada di tangan orang tua.

Jadi jika ingin memiliki anak sholeh, bimbinglah mereka dengan sabar. Sesuatu hal yang baik itu memang butuh kesabaran.

Bukankah kita sama-sama tahu, orang tua yang memiliki seorang anak penghapal alquran akan dikarunia Allah sebuah mahkota yang bersinar terang di Padang Mahsyar?

Sekali lagi Allah itu maha Adil. Jika Kayla bisa, lalu mengapa kita atau anak kita tidak bisa? Betul bukan? Nah sekarang memua keputusan ada di tangan Anda wahai para orang tua J

 

Dari Allah, Khusus Untuk Wanita

Sungguh banyak bintang bersebaran di luar sana. Sungguh banyak mutiara yang bergelimpangan di luar sana.

Tapi bagi wanita, bintangnya ada di bawah atap. Ya, bagi dia, yang diciptakan sebagai kaum hawa, mutiaranya ada diantara sekat-sekat batu bata. Atau ada diantara bambu-bambu dan kayu-kayu. Jadi ia tidak perlu berpanas terik mencarinya.

Jika saja ia sudah menjaga sholat lima waktu, berpuasa saat bulan ramadhan, dan selalu mengukir senyuman di wajah Sang Iman, maka saat ia dipanggil Sang Pencipta Alam, ia akan diperkenankan masuk surga dari pintu mana saja.

Hanya tiga hal itu saja wahai kaum yang diciptakan dari tulang tusuk Adam. Sholat wajib, puasa wajib, dan taat kepada suami. Tidak perlu puasa sunat. Tidak usah sholat sunat. Karena jika tiga hal itu saja Engkau lakukan wahai wanita, maka Allah telah menyiapkan surga. Tanpa ragu Allah memberi.

Tapi, jika Kau sering salah dan khilaf, bolehlah tambah pahalamu dengan sholat dan puasa sunat. Lalu jika kau seringkali membantah kata suami atau melupakan selautan kebaikannya karena setitik kesalahannya, maka banyak-banyaklah bersedekah.

Ketahuilah wahai wanita, memang hanya tiga hal itu yang harus engkau lakukan di atas dunia ini. Tapi waspadalah, bagian ketiga, taat kepada suami, hal itu jualah yang banyak membimbing para kaum hawa tercebur ke bara api dan dilempar ke lautan neraka.

Karena ketidaksabaran. Karena  tutur kata yang tidak sopan. Atau tingkah yang jauh dari syukur.

Maka, persempitlah arah datangnya dosa. Karena, hidup hanya sementara. Seperti air hujan yang hanya singgah sebentar di bumi, lalu akan mengering terbang ke angkasa tinggi. Tapi sekali Engkau naik, engkau takkan pernah turun lagi. Maka, mawas dirilah untuk kita semua.

Negarawan yang Dirindukan

image

Dia yang tidak kusebut namanya, sungguh aku rindukan. Sosok Bapak pembangunan, yang telah menjadi Presiden Indonesia tigapuluh dua tahun lamanya.

Lima periode menjabat, hutang Indonesia yang ia buat hanya $144,7 M. Sedangkan saat sepuluh tahun menjabat, Bapak SBY menambah hutang $150 M.

Jika kita bagi rata-ratanya, dengan hutang pertahun $ 4.5 M pada zaman Sorharto telah mampu membuat rakyat hidup aman dan nyaman.

Sedangkan hutang rata-rata pertahun oleh SBY sebesar $ 15 M, seolah-olah tidak memberi angin segar kepada rakyat Indonesia. Jujur saya tidak tahu untuk apa uang itu digunakan. Yang pasti, saya tidak melihat dampak uang pinjaman tersebut untuk masyarakat luas secara langsung.

Lalu, ditinjau lagi dengan zaman sekarang, entah berapa banyak pula nanti hutang yang dibuat Jokowi. Dan juga, tidak ada kesejahteraan dalam kepemimpinannya. Rakyat susah semakin susah. Orang kaya justru semakin kaya.

Kita bisa melihat bersama. Pada rakyat susah, untuk makan siang dicari di pagi hari. Untuk makan esok, harus dicari hari ini. Sedangkan orang kaya, dengan tanda tangan saja, ia gampang saja mengeruk kekayaan negeri. Mengambil hak orang miskin.

Lalu pada zaman Soeharto, tidak ada begal-begalan. Jarang sekali terdengar kasus perampokan dan pembunuhan. Atau pemerkosaan. Tapi coba bandingkan dengan zaman sekarang, mulai dari kebiadaban kecil, hingga kriminalisasi tingkat tinggi, semua kini sudah sangat banyak membanjiri negeri pertiwi.

Contoh kecil saja, para koruptor yang sudah jelas-jelas terbukti, begitu gampang lepas setelah menyuapi uang ke mulut polisi. Aturan tidak lagi dijalankan. Dan aturan serta hukuman, hanya berlaku untuk rakyat bawahan.

Bahkan, polisi pun sekarang, mencari-cari kesalahan orang, untuk mendapatkan uang tambahan. Setelah dapat uang, mangsa pun dilepaskan.

Masih jugakah kita tidak menyadari? Pasti Engkau pun telah merasakan, bukan?

Ah, kita sekarang hidup di negara yang dijajah para bedebah. Berdasi tapi malah tidak berhati. Berseragam tapi malah tidak berkemanusiaan.

Biar saja.  Tunggu saja waktunya hingga pribadi mereka pun akan karam. Pasti akan datang hari pembalasan.

Presiden Dambaan Warga

Banyak  kata yang sungguh ingin ku ungkap. Tentang dia. Ya dia Presiden kedua kita. Bapak Soeharto yang tercinta.

Jika kita dengar apa yang dibilang orang-orang dulu (baca:tua) tentang dirinya, sungguh sederhana. Katanya, pada zamanitu, walaupun hanya petani, tapi untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari tidaklah susah.

Dulu katanya kalau untuk mendapatkan pupuk sangatlah gampang dan saat akan menjual hasil panen pun tidak susah. Dan malah sekarang katanya, era reformasi, tidak hanya mendapatkan pupuk yang susah. Bahkan untuk menjual hasil ladangpun ikut-ikut susah. Harganya begitu murah.

Saya terhenyak. Jujur. Dari video-video youtube yang saya lihat, saya baru tahu bahwa dulunya Presiden Soeharto telah lebih dahulu blusukan ke daerah. Melihat petani secara langsung. Berbincang dan langsung mencatat keluhan dari masyarakat. Bahkan beliau tidak meginap di hotel melainkan tidur di rumah warga atau di rumah kepala desa. Dan, beliau pun tidak makan di restoran mewah. Ya, Presiden kedua kita itu saat akan turun ke daerah ia dibekali “sambal tempe dan teri” dari istri tercinta. Dan rombongan mereka membawa beras lalu memasak sendiri tanpa menghabiskan uang Negara dengan sia-sia.

Lalu, yang membuat saya terhenyak satu lagi adalah tentang tuduhan bahwa ia adalah seorang korupsi. Dituduhkan kepada soeharto bahwa ia memiliki simpanan uang di Bank Swiss sebanyak Sembilan milyar rupiah. Namun ketika BJ. Habibi yang waktu itu berkuasa memerintahkan mahkamah Agung memeriksanya langsung, namun hasilnya sungguh mengejutkan. Tuduhan-tuduhan itu hanyalah palsu belaka.

Dan bahkan, ketika Gusdur memerintah, ia juga meminta bantuan Amerika Serikat mencari harta atau uang simpanan presiden Soeharto, tapi haslnya nihil juga. Ia tidak ada menyelundupkan uang sedikitpun.

Lalu, tentang anaknya yang cukup kaya yaitu Tommy, yang kuat dugaan ia korupsi. Tapi ternyata tuduhan itu juga dibantah langsung oleh Adik kandung soeharto karena uang yang dimiliki oleh Tommy itu bukan berasal dari Negara melainkan dari usaha cengkeh Tommy yang direbut dari Adik presiden Soharto yang bernama Prabowo. Lagi-lagi saya terenyuh. Karena dulu saya juga menyangka uang negaralah yang membuat Tommy itu menjadi kaya.

Berarti semua tudingan yang tidak enak tentang ia korupsi dan diktator hanya isapan jempol belaka. Bahkan memang dari penuturan masyarakat, kehidupan sekang lebih kejam dibandingkan dulu. Dulu semua sembako bisa didapat dengan mudah. Sekarang, untuk makan saja masyarakat merasa susah.

Lalu, apa yang kita lakukan sekarang? Jika kita menyesal dengan digulingkannya Presiden Soeharto dulu, maka sekarang kita tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa. Ditambah lagi dengan anak-anak para PKI sekarang pun mulai merambah, bangku-bangku DPRD telah di duduki dan pembuatan keputusan sudah di tangan mereka, lalu kita bisa berbuat apa?

Tidak lain dan tak bukan lagi-lagi yang dapat kita lakukan hanyalah berdoa. Semoga di tahun 2019, Indonesia kembali mendapatkan Presiden yang bijaksana. Yang  mementingkan urusan masyarakat di atas kepentingan pribadinya. Semoga saja.