Meski beranak dua, Aku tahu rahasia kenapa istrinya masih terlihat cantik

Pada suatu hari, di sebuah kafe yang berlokasi di tepi pantai padang, diadakanlah sebuah acara reunian sebagai salah satu acara pengakraban dengan kawan-kawan kuliah dulu. Ditempat ini, saya kembali bertemu teman lama.

Sebut saja namanya Adi. Dia adalah sahabat karib saya samasa kuliah. Disampingnya berdiri seorang wanita cantik. Mereka bergandengan. Saya penasaran. Saya pun menghampiri.

” Hai Adi. Apa kabar?” Tanyaku padanya sembari mengulurkan tangan.

“Alhamdulillah kabarku baik, Ronal. Sudah lama ya kita tak berjumpa. Apa kabarmu, kawan? Oh iya, kenalkan. Ini Marisa, istriku.” Ucap Adi memperkenalkan istrinya sambil menyambut uluran tanganku.

” Saya Ronal. Teman Adi semasa kuliah dulu.”  Ucap saya sembari dan tersenyum.

” Marisa.”

” Oh, ini Uda Ronal ya. Uda Adi sempat bercerita tentang abang ketika semasa kuliah dulu.” Lanjut perempuan paruh baya yang terlihat langsing itu.

“Tapi saya ke belakang dulu ya. Uda Ronal dan Uda Adi mengobrol saja dulu.” Lanjut perempuan itu sambil tersenyum dan segera berlalu.

“Cantik juga ya istrimu.” Tiba-tiba aku terceletup. Bercanda namun serius.

“Alhamdulillah. Istrimu mana, Ronal?”

” Ada. Itu di sana.” Aku menunjuk ke sudut ruangan. Terlihat wanita dengan badan yang cukup gemuk.

“Dia juga sedang bertemu teman lamanya. Sedang asyik mengobrol sepertinya. Itu dia yang berbaju biru” ucapku melanjutkan.

“Oh ya ya. Sudah berapa jumlah anakmu?” Tanya Adi kepadaku.

” Dua. Yang besar kelas lima SD. Dan yang kecil masih berumur empat tahun. Kalau kau bagaimana?”

“Anakku juga dua. Yang besar kelas tiga SD dan yang kecil masih TK”.

“Wah. Sudah punya anak dua kau rupanya. Persangkaanku, kau dan istrimu baru menikah. Masih bagus tubuhnya kulihat. Sering ke salon ya?” Tanyaku masih sambil bercanda.

“Haha.” Adi tertawa renyah.

“Dia tidak pernah ke salon.” Jawab Adi singkat membuatku penasaran.

“Jadi kok bisa seperti itu? Padahal sudah beranak dua loh.”

” Iya, Ronal. Istriku tidak pernah ke salon. Tapi aku yang merawatnya sendiri” Jawab Adi yang kini seperti bercanda.

“Ah kau bergurau saja Adi. Seriuslah” Jawabku kemudian.

“Iya kawan. Istriku itu cantik dari dalam. Bukan karena salon.” Kini Adi terlihat serius.

“Maksud kau Adi?” Tanyaku lugu sok tak mengerti.

“Ya cantik itu dari dalam, Ronal. Dari hati maksudnya. Karena aku tahu rahasia itu, jadi aku sangat menjaga perasaannya. Menjaga hatinya. Menjaga agar dalam setiap hari dia selalu bahagia. Karena itulah mungkin istriku awet muda.” Jawab Adi kemudian.

” Kami memang punya dua anak. Tapi aku tak membiarkannya mengurus anak sendirian. Mengenai pekerjaan rumah pun, jika sempat aku membantunya. Kadang aku ikut menyapu dan merapikan rumah. Kalau ditunggu dia mengerjakan sendiri, kapan selesainya. Pastinya dia pun capek.”

Aku angguk-angguk mendengarkan.

“Yang kunilai dari wanita itu, meski yang kutolong hanyalah hal-hal kecil, tapi sudah sangat senang dia kelihatannya. Lagipula, semakin cepat rumah rapi, semakin cepat rumah bersih, aku dan istriku pun bisa punya waktu lebih untuk bersama. Haha..” Kini Adi tertawa lagi.

Aku masih mengangguk-angguk. Mencoba tersenyum. Tapi kecut. Terbayang olehku di rumah, tak sekalipun aku membantu istriku. Mencuci baju, mencuci piring, menyapu, mengepel, menyetrika, dan mengurus anak, semuanya kuserahkan saja padanya.

” Dan kau tahu, Ronal, di rumah saat bersantai, setelah dia memijitku, akupun menjadi tukang lulur untuknya. Tidak lama juga sebenarnya. Hanya sekitar sepuluh menit. Tapi kau tahu? Dia sungguh bahagia. Dia memang tak mengatakannya padaku kalau dia suka. Tapi aku bisa membaca halbitu dari gerak geriknya. Aku dapat melihat kebahagiaan di matanya.” Lanjut Adi kembali serius.

Lagi-lagi teringat pula olehku. Hal yang kulakukan jikalau di rumah. Sungguh jarang sekali memanjakan istri. Bahkan tidak pernah. Yang ada hanya dia yang memijitku hampir setiap hari. Ah. Sudahlah dia capek seharian membersihkan rumah dan mengurus anak, tak sekalipun aku berniat mengurangi letihnya.  Suami macam apa aku ini. Gumanku sendiri.

” Setiap hari, setelah pulang dari kantor, aku memeluknya. Mencium keningnya. Ya begitulah. Kalau kau bagaimana kawan? Istrimu kelihatan lebih sehat dibanding istriku. Pasti kau mengurusnya lebih dari aku ya?” Ucap Adi serasa mengejek dan menyindirku.

“Ah, kau ini ada-ada sajalah. Tapi anggap saja begitu.” Jawabku apa adanya. Ya Tuhan, ampuni aku. Gumanku lagi dalam hati.

“Istri itu seperti tanaman, Kawan. Jika madunya hanya kau ambil terus, tanpa sekalipun kau pupuk dan kau siram, alamak layulah dia. Akan mati pelan-pelan.” Ucap Adi seperti menanamkan nasihat secara halus kepadaku.

“Iya, Kawan, tapi aku cabut duluan ya. Aku sakit perut.  Salam buat istrimu marisa.” Ucapku menepuk bahu kanannya sambil berlalu dan melangkah pergi.

Ah, cepat-cepat aku ingin pulang. Meminta maaf pada istriku. Semoga ke depannya aku bisa menjadi suami yang lebih baik lagi untuknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s