Kisah ketabahan wanita paruh baya yang bisa menampar kita jika membacanya

Beberapa bulan yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang pegawai RS yang baru saja sakit. Bukan ‘baru sakit’ rupanya. Ternyata ibu yang saya prediksi berumur hampir empat puluh tahun ini sudah mengidap penyakit “ini” selama dua tahun.

Kunjungan ini berawal dari pulang acara halal bihalal yang kemudian dilanjutkan melancong ke rumah ibu ini.

Awal kedatangan kami, beliau langsung menyuguhkan kue dan minuman. Padahal kami ingin menjenguknya, bukan ingin merepotkannya.

Begini, dari cerita yang saya dengar, penyakit ‘ini’ yang saya maksud di paragraf pertama bukanlah penyakit berbahaya. Tapi penyakit ini cukup menganiaya.

Apa pasal?

Kalau dalam bahasa awamnya, sakit ibu ini adalah tidak bisa kencing. Bahasa medisnya urinary incontinence. Hasrat ingin buang air kecil ada, tapi si air kencingnya malah tidak bisa keluar. Hanya menetes sedikit demi sedikit dengan rasa sakit yang luar biasa.

Walaupun hidupnya pas-pasan, bukan berarti dia tidak berobat. Mulai dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya telah ia kunjungi. Ke dokter spesialis pun Ibu ini sudah bolak balik pergi. Namun hasilnya nihil juga.

Katanya rasa sesak hilang hanya sesaat setelah air kencing dikeluarkan melalui kateter (alat kesehatan penampung urin yang selangnya dimasukkan kesaluran kencing). Namun sampai di rumah obat yang diberi dokter seperti tak bermanfaat.

Hilang akal dengan obat medis, maka dicoba pula obat kampung. Berbagai macam ramuan pun telah dicobanya. Namun tetap sama. Hasilnya nihil juga.

” Aku sudah bolak balik berdoa sama Allah, minta kesembuhan. Dan aku juga sudah berdoa, jika penyakitku tak bisa sembuh juga, aku ikhlas jika Dia mengambil nyawaku” itu ucap beliau.

Mendengarnya berkata seperti itu, kami hanya menguatkan.

Ia pun kembali bercerita, karena penyakit yang ini tak kunjung sembuh, sesak kencing tak henti-henti, maka beliaupun selalu memakai “alat penampung kencing”. Bahkan meski beliau sedang bekerja.

” Ya mau gimana lagikan, dah diobati tapi tak sembuh-sembuh juga. Terpaksalah pakai kateter terus.” Ucapnya sambil tersenyum.

Saya kaget. Dasyat sekali ibu ini. Memakai kateter kemana-mana.

” Saya ikatkan kesini” ucapnya menunjuk ke bagian pinggang. Mungkin diikat pakai tali.

” Tiap setenngah jam saya ke kamar mandi untuk membuangnya” Tambahnya kemudian.

” Waduh Bu. Ga nyilu Bu?” Ucap saya mengernyitkan kening yang dari tadi hanya diam menyimak.

“Ya adalah Dek. Lebih hati-hati saja.”

Saya angguk-angguk. Saya berguman dalam hati, begitu kuat ibu ini. Meski dalam keadaan sakit, tapi beliau masih tetap bekerja. Padahal ibu ini kerjanya di rumah sakit bukanlah dibagian administrasi atau keuangan yang hanya duduk-duduk. Melainkan kerjanya bergerak sana sini. Mencuci.

Ya, sungguh hebat. Beliau bekerja dibagian laundry. Mengambil pakaian yang kotor, seprai yang kotor. Dari lantai satu ke lantai lima. Kemudian di cuci. Diantar lagi. Tentu banya gerak ini membuat potensi datangnya ngilu dibagian yang dipasang kateter itu akan semakin besar, bukan?

Ya Allah. Demikian hebat ujianMu, beliau masih tetap tersenyum seperti tak terjadi apa-apa saat beberapa lalu aku berpapasannya dengannya.

Saya merasa tertampar. Segera bersyukur atas nikmat kesehatan yang masih diberikan Allah kepada saya.

Begitupun Anda seharusnya kawan. Bersyukur jugalah atas kesehatan yang masih melekat di badan šŸ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Kisah ketabahan wanita paruh baya yang bisa menampar kita jika membacanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s