Sajak

Gelap mendekap.
Berpagut sunyi di tengah dinginnya hari.
Kesepoyongan berdiri di tepi.
Bersama si kucing putih.

Terdengar derak jendela yang dibuka.
Tak perlu dikasih tahu, orang-orang sudah mengerti betapa tuanya rumah itu.
Setiap engselnya selalu memekik ketika digeser.
Oleh siapa pun.
Termasuk aku.

Tapi ku paksa kaki melangkah ke dalam.
Berlindung dari bisa malam yang menusuk tulang.
Meski kadang harus ku ikhlaskan.
Jika nanti mati tertimpa rumah penuh kenangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s