Puisi : Rasa-Rasa Ubi Ungu

Semangkok kolak ubi ungu di atas meja.
Memberi rasa yang berbeda, dikala bercampur dengan si kacang yang berwarna hijau pula.
Akhirnya si ungu muda berubah jadi ungu tua.
Seperti itu pun kehidupan.
Tambah tambah dapat mengubah.
Sudah pasti tak dapat terbantah.

Kolak ubi ungu di atas meja.
Manisnya cukup seadanya.
Membuat lidah selalu ingin tambah.
Begitu pun dengan kata.
Keluarkanlah sebijaksananya.
Hingga ucap itu dirindukan kehadirannya.

Kolak ubi ungu yang masih tersisa.
Panasi saja secukupnya.
Jikalaulah terlalu lama, maka hanguslah dia.
Begitu pula dengan kita.
Jika marah, marahlah sekedarnya.
Jangan disimpan api itu terlalu lama.
Akan hangus hati jadinya.
Dan yang rugi pun adalah kita.
Energi positif telah terbang bersamanya.
Yang tersisa hanyalah debu yang menyesakkan dada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s