Bubu dan Bebe

Kawan, dikala sepi datang, sebenarnya nikmat sebentar lagi akan menghampiri. Disaat kesunyian datang, sebenarnya karunia sebentar lagi akan menemani. Tak perlu ragu kawan, itulah yang akan terjadi, karena disaat itulah segala sesuatunya kita renungi.

Disaat rasa tak menentu, sepertinya pojokan akan menjadi tempat mengadu. Begitu pun dengan seekor beruang yang terletak di sebuah sudut ruangan keluarga. Beralaskan karpet merah, kaki terjulur, matanya hanya menatap ke depan. Tanpa berkedip. Ia bersandar ke dinding yang berwana putih. Tak seutuhnya putih. Agak belang karena hanya di cat selapis. Meski dibelakangnya ada jendela, tapi ia tak kuasa melengokkan kepala ke belakang sekedar untuk menghirup udara segar.

Di samping kiri beruang, ada seekor anak buaya berwarna hijau. Ia hanya tergeletak di atas sebuah meja beralaskan kain berwarna merah bercampur emas. Elok memang posisinya. Tapi ia pun tak kuasa bergerak. Kakinya lumpuh. Kaku tiada berdaya.

Mereka terjebak. Bukan. Bukan. Mereka hanya telah memiliki takdir yang telah jelas. Ya, mereka hanya ditakdirkan untuk duduk, dimanapun ia diletakkan.

“Hai Bubu, tak bosankah kau duduk disana?” Tanya Bebe disuatu siang. Tiada yang menyangka, dalam kebisuan mereka bersuara.

“Ah, Bebe. Kau tanya lagi mengenai kebosanan itu kepadaku. Tentu ia lah. Tapi masih mendingan aku dari pada kau. Aku masih bisa melihat dunia dari jendela. Aku masih bisa melihat orang-orang lalu lalang. Sedangkan kau? Kau hanya duduk tergeletak menatap isi rumah. Hanya itu-itu saja.” Jawab si Buaya kepada si Beruang.

“Lalu aku harus bagaimana bubu? Jika kaki ini dapat kulangkahkan, maka takkan disini lagi aku sekarang. Dan mungkin kita takkan bersua lagi.”

” Memangnya hendak kemana kau?”  Tanya Buaya kepada beruang tanpa mengernyitkan alis.

“Hei Bubu. Tak tahu kah kau, dapat kudengar dari celoteh mereka yang meletakkan kita disini bahwa dunia ini luas. Dan begitu pun yang dapat kulihat dari tv yang mereka nyalakan. Sepertinya kulit manusia itu berbeda-beda warna.” Jawab beruang seperti banyak tahu.

” Iya sih Be. Orang yang lalu lalang yang kulihat tiap hari, juga berbeda-beda warna kulitnya. Tapi raut wajahnya sama saja kulihat.”

“Ah Bubu, sebenarnya ini bukan perihal perbedaan warna kulit. Tapi tentang kebiasaan mereka yang berbeda-beda dan tentang apa saja hal-hal unik dari mereka, yang dapat kita tiru. Jika kita disini-sini saja, tak ada hal baru dan pengetahuan baru yang bisa kita didapat.”

“Iya. Seharusnya kita bisa keliling dunia, seandainya kita punya kaki yang sesungguhnya.” Imbuh Bubu menutup pembicaraan.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s