Hal yang sering terjadi

Segerombolan mahasiswa sedang bercengkrama. Senyum terpancar dari wajah mereka. Gelak dan tawa dapat terdengar jelas. Ada sesuatu yang membuat mereka bahagia.

Perjuangan mereka sudah terbayar. Melalui sebuah amplot berisi informasi yang menuntun nasib. Satu kata yang diharap sudah terbaca. LULUS, yang tulisan TIDAK LULUS-nya tercoret garis hitam.

Kebahagiaan berujung pada acara makan-makan.

Baru lima belas menit terduduk di sebuah kafe, adzan pun berkumandang. Nak sholat, makanan belum terhidang. Perut sudah lapar. Akhirnya, sholat tepat waktu terabaikan.

Sementara seminggu sebelum ujian, ketika adzan datang, mereka  langsung berwudhu dan menunaikan sholat. Dan tak lupa alqur’an pun dikumandangkan. Berharap agar Allah memberi kemudahan ketika ujian dilangsungkan.

Tapi apa? Setelah ujian terlewatkan dan hasil yang diinginkan telah didapatkan, seolah-olah Allah dilupakan. Seperti ingat Allah hanya ketika dibutuhkan. Seperti Allah didahulukan ketika ‘ada perlu’nya saja. Astaghfirullah.

Begitulah kita. Manusia. Tak sekali dua kali. Siapapun, pasti mengalami. Karena itu, mari bersama-sama kita memperbaiki diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s