Insha allah akan ada kemudahan

Semuanya dari Allah, dan dikembalikan kepada Allah. itulah yang saya tekankan di dalam hati saat ini.

Ujian kompre Apoteker adalah hal yang paling ditakuti mahasiswa apoteker. Begitupun dengan mahasiswa  di Universitas Andalas Padang. Karena itu, tak sedikit kawan yang “merengek” kepada orang-orang terdekatnya. Bahkan kemarin, ada dua orang teman saya yang mengaku berkali-kali menangis. Yang satu menangis tiga hari dan yang satunya lagi menangis setiap menelpon dan mengadu tentang kompre ini kepada orang tuanya.

Ada apa gerangan dengan kompre?

Seperti yang kawan-kawan tahu. Kompre adalah ujian akhir dari semua ujian di kampus hingga didapatkan ijazah. Namun perlu kawan-kawan tahu, kompre apoteker berbeda dengan kompre ketika S1.

Di ruangan tertutup mahasiswa akan menghadapi lima dosen penguji. Setiap dosen memiliki bagian masing-masing, mulai dari pengetahuan tentang Apotik, industri, rumah sakit, sains dan umum. Tentang teori dan aplikasinya. Lengkaplah semua.

Dan lulus dan tidak lulusnya mahasiswa, tergantung keberuntungan, terlepas dari usaha dan doa. Intinya, kalau dapat penguji yang tidak “killer”, beruntunglah. Namun jika sedang tidak beruntung, alamaaak, menangislah keluar dari ruangan kompre. Entah apalah yang telah terjadi di dalam.

Daaan kalau itu terjadi, dipastikan tidak luluslah mahasiswa, yang berarti harus mengulang ujian kompre lagi tiga bulan bulan berikutnya.

Mungkin membayangkan kemungkinan-kemungkinan sulit yang akan terjadi di ruangan kompre membuat nafas kawan-kawan terasa sesak. Sedangkan saya, karena tidak membayangkan hal itu, saya tenang-tenang saja. Namun ketenangan itu berakhir tadi pagi.

Berita naas, dosen yang paling ditakuti itu ternyata akan menjadi salah satu dosen penguji di hari senin, jadwal saya kompre. Padahal saya berharap bapak itu menjadi penguji dihari selasa-jumat atau hari senin satunya lagi.

Tentang info ini, awalnya saya tidak percaya dan tenang-tenang saja. Tapi akhirnya saya percaya kevalidan informasi yang disampaikan.

Saya mulai gelisah.

Meskipun dalam setiap shift ada lima ruangan, dan saya tidak tahu di ruangan mana bapak tersebut  akan berada, tapi tetap ada kemungkinan bapak itu ada di ruangan ujian saya nantinya. Dan itu membuyarkan kosentrasi. Karena cukup besar kemungkinan bapak itu menjadi penguji saya, 20%.

Saya masih berharap, bapak ahli industri itu masuk ke industri yang memproduksi tablet sesuai keahliannya, bukan industri vaksin tempat saya berpraktek. Saya tertawa. Tapi lagi-lagi, bisa saja bapak tersebut masuk di ruangan saya, dan menanyakan apapun yang disuka.

Saya tersenyum kecut. Apakah saya mulai takut?

Ah, masih ada dua hari waktu untuk belajar, dan saya sangat tahu itu takkan cukup. Namun tetap saya berharap,  semoga Allah memberikan kemudahan di jalan saya berjihad.

Amin.

Advertisements

4 thoughts on “Insha allah akan ada kemudahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s