Meneladani matahari

Ada tiga pilihan. Jika kawan-kawan harus memilih, pilihan mana yang akan kawan genggam?

1. Dekat dengan makhluk, jauh dari  Sang Pencipta makhluk.

2. Jauh dari makhluk, dekat dengan Sang Pencipta makhluk.

3. Dekat dengan makhluk dan Sang pencipta makhluk.

Pilihan yang baik jatuh kepada yang no 2 dan 3, kan? Tapi yang paling baik diantara keduanya adalah pilihan yang ketiga, bukan? Kawan sepakat?

Mengenai pilihan pertama, saat ini banyak sekali diantara anak muda yang tidak berfikiran panjang. Menjalin hubungan dengan seseorang yang belum lagi halal. Sehingga perbuatan yang tidak dikehendaki Allah, membuat sholat dan ibadah kita sia-sia. Bukankah begitu?

Pilihan yang kedua. Jauh dari makhluk dan dekat dengan Sang pencipta makhluk. Ini untuk pemuda pemudi yang memegang prinsip islam dengan kuat. Lebih kepada hubungan antara lelaki dan perempuan yang belum muhrim, bukan kepada masyarakat sosial. Jujur. Saya jarang menemui makhluk seperti ini. Meski dia berpenampilan seperti ikhwan dan akhwat, tapi tetap mereka tidak bisa menjaga hati. Tapi itu kembali kepada pribadi masing-masing.

Seseorang yang berakhlak baik, pasti berpakaian dengan baik. Tapi seseorang yang berpakaian yang baik, akhlaknya belum pasti baik. Tapi tak mengapa, setidaknya, berpakaian yang baik tidak menambah dosanya mengenai kewajiban menutup aurat.

Kembali kepada pilihan yang kedua ini, saya pernah membaca sebuah kalimat. ”Sebelum mengambil hati seorang makhluk, dekati dulu Sang pencipta makhluk itu”. Betul sekali. Agar suatu saat nanti, jika kita dekat dengan makhluk tersebut, itu terjadi atas ridho dariNya.

Mari mengingatkan jika terkadang kita terlupa.

Pilihan yang ketiga, pasti ini adalah sebuah rahmat dan sebuah kenikmatan. Dekat dengan makhluk sekaligus dengan Sang pencipta makhluk. Tidak asal dekat, tentu harus ada ijab kabul sebagai permulaan dari kedekatan yang halal itu. Melakukan apapun, bahkan hanya dengan memandangnya saja, ridho Allah ada dalam genggaman kita. Maka, menikahlah. Sebagai penyempurnaan separuh dari agama kita.

Rasa khwatir itu pasti ada, maka bagi kita yang belum tiba masanya, bersabarlah. Berdoalah agar nantinya dia akan segera datang dengan senyum yang takkan terlupa.

Namun jika kita pernah berbuat khilaf dan salah, kita segera bertaubat saja. Mohon ampun padaNya dengan memperbaiki diri. Karna Allah pun paham, kita adalah manusia yang cendrung berbuat salah. Ya, Allah mengerti dan menanti kedatangan kita saat kita kadang melupakanNya.

image

#jika belum tiba masanya, kadang kita harus meneladani matahari. Dia cinta pada bumi tapi ia mengerti. Mendekat pada sang kekasih, justru membinasakan dan mematikan hati. @nikahbarokah
Ciyye 😀 😀

Advertisements

One thought on “Meneladani matahari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s