“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”.

Kalimat yang sederhana tapi bermakna dalam. penerapannya memang berat,   dan tak semua orang bisa melakukannya. Tentang kebesaran hati atas semua yang terjadi.

Karya tere liye ini cukup menyentuh. Seorang gadis yang mencintai lelaki bak seorang malaikat yang telah hadir menerangi setiap inci kehidupannya.

Kebaikan lelaki itu membuat perasaan itu tertanam dalam, meski dia tak pernah meminta rasa itu untuk datang. Tapi apalah daya, yang katanya “cinta itu anugrah’’ dari Sang kuasa tak bisa ditampik. Dan rasa itu tetap bertahan meski tak mungkin baginya menggenggam cinta yang perlahan menyinari kehidupannya.

Dan memang, setelah lama penantian, cinta itu bukan untuknya. Ah, bukan takdirlah yang bersalah dalam hal ini. Tetapi ketidakberanian dan tidak adanya pengakuan dari kedua belah pihak menjadikan semuanya menjadi abu.

Telepati atau salam rindu yang dikirim melalui udara hanya omong kosonglah itu. Ya, cinta butuh pengakuan. Setidaknya, ada salah seorang yang mengungkapkan.

Ah. Mungkin memang bukan jodohnya. Tak mengapa meski cinta tak dimilikinya, setidaknya cinta itu pernah hadir menyemangati dan menemani setiap hari yang berganti.

Ya, tentang cinta itu. Yang terungkap ataupun tidak, syukuri saja. Jangan salahkan kehadirannya yang menelusup diam-diam kesanubari hati. Biarkan saja. Ya, biarkan saja. Jika pada akhirnya cinta itu bukan untuk kita, yakinlah cinta itu akan berganti dengan cinta yang lebih baik, dari Sang Pemilik Cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s