Jangan berharap

Pagi ini ujian dengan salah seorang dosen. Waktu mengerjakan habis dan dosen meminta mahasiswa untuk tidak menulis lagi. Meski begitu, dosen tak langsung mengumpulkan kertas jawaban.

Dosen malah membahas soal ujian dengan meminta mahasiswa lain menjawabnya.

Ah, kejujuran sangat di uji dalam hal ini. Ada beberapa mahasiswa yang masih menulis. Walau sebenarnya yang ditulis itu bukanlah jawaban yang telah dibahas, melainkan menjawab pertanyaan yang belum sempat terjawab.

Saya tergoda melakukan hal yang sama. Memang ada beberapa item soal yang belum terjawab.

Ah, tapi tak saya lanjutkan hingga selesai. Saya berfikir, ujian ini tak hanya sekedar menguji otak bukan? Tapi juga perilaku kita.

Mungkin di dalam dunia pendidikan dikenal dengan aspek afektif. Jadi, tak hanya aspek kognitif saja yang dinilai.

Poin yang bisa diambil dari sini adalah mengenai kejujuran. Bukankah kejujuran itu dimulai dari hal yang kecil?

Saya pun teringat, bukankah kemelaratan Indonesia terjadi karena ketidakjujuran pada bangsanya?

Saya berfikir, kita tak usah terlalu berkoar-koar hendak mengubah Indonesia, tapi cobalah untuk memperbaiki diri terlebih dahulu untuk mengharapkan Indonesia yang lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s