Syndrom Munir

Di malam itu.

Secangkir teh yang ku suput menggelorakan sesuatu yang pernah mati.

Begitu ku nikmati.

Aku tak bisa melawan waktu yang membuatku melangkah.

Tapi tetap, manisnya setiap serupan teh itu masih terasa.

Dan tak ternyata, tak hanya otak, lambungku pun ikut menggelora.

Aku memuntahkan cairan hijau itu.

Sedap-sedap ngeri ku melihatnya.

Meski ku mencintai warna hijau,

lantas bukan inginku pula memuntahkan cairan seperti itu.

Tak ada indah-indahnya.

Energiku habis.

Kekuatanku musnah.

Hanya kurebahkan tubuh itu ke kapuk itu.

Tenggorokan kering. Aku haus.

Ingin berbicara, suara ku serak perlahan hilang.

Ah, sepertinya ada yang ingin membunuhku.

Untuk arsen yang tak ku sadari.

Siapapun yang memasukkannya ke cangkir teh itu,

Terima kasih.

#Aku munir kedua.ah tidaklah. Wkwkwwkkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s