Melawan takdir

Pagi masih basah. Embun kenistapaan masih menggelayut indah di ujung tangkai daun yang mulai layu. Mungkin akan menguap sebentar lagi. Tapi kenapa ketika matahari telah tinggi memanasi, embun-embun itu masih tak kunjung lekang?

Sungguh aneh.

Siang telah naik. Dengan gagah si matahari membakar bumi. Si burung pipit masih saja bertengger indah di atas atap. Sebentar lagi mungkin akan terbang. Tapi kenapa  ketika kulit mulai terbakar, dia masih berdiam diri tanpa mencoba mencari pohon kehidupan untuk perlindungan?

Sungguh aneh.

Matahari mulai berinsut. Sore pun segera datang memagut. Si Bangau seharusnya telah kembali pulang bersama rombongan. Mungkin sebentar lagi akan ikut terbang. Tapi kenapa ketika gelap hampir datang, dia masih tak mengepakkan sayap dan hanya berdiam diri di tepian sawah?

Sungguh aneh.

Malam mulai menjalar. Kelamnya begitu pekat. Si kelelawar masih bergantung di dalam goa. Mungkin sebentar lagi akan keluar dari persemayamannya. Tapi kenapa  Ketika Sang Fajar hampir datang meraba, ia tak kunjung menggunakan kebebasannya untuk terbang mencari nilai kehidupan?

Sungguh aneh.

Ah. Mereka melawan dan menentang takdir.

6736-1-flickr - Copy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s