Hal yang Disukai Siswa dari Seorang Guru

Hari ini,  para guru yang mendapat sertifikasi, diminta untuk menghadiri sebuah acara. Dan artinya para guru tersebut berhalangan hadir datang ke sekolah. 

Salah seorang guru yang ikut sertifikasi itu adalah guru kelas IV. Jadi beliau meminta saya memberikan tugas kepada siswa tersebut.

Amanah dari beliau pun saya laksanakan. Tapi karena anak-anak begitu cepat menyelesaikan tugas titipan dari wali kelas, sedangkan waktu masih tersisa, maka saya memberikan tugas tambahan kepada mereka agar mereka tak ribut ketika saya kembali masuk mengajar dikelas 3.

Tugas yang saya berikan itu adalah menuliskan apa saja yang mereka sukai dari seorang guru. Setelah saya baca tulisan mereka, inilah tulisan polos mereka yang tertulis di kertas itu, perihal yang mereka sukai dari guru:

1. Hatinya baik
2. Guru yang tidak bermain kekerasan
3. Yang mengajari saya dengan baik
4. Yang membimbing saya dengan tenang
5. Dia tidak marah
6. Dia dengan cantik sopan kepada guru-guru lain.
7. Aku ingin guru yang lembut
8. Aku ingin guru yang cantik
9. Aku ingin guru mengajariku sampai pandai.
10. Guru mengajak bermain-main.

Itulah gabungan ”hal yang disukai dari guru” oleh beberapa anak. Dari poin-poin kalimat yang mereka buat, terlihat betapa lugunya apa yang mereka tulis. Karena memang tidak ada kalimat yang saya edit. Dan rangkaian kata mereka itu berisi harapan yang begitu sederhana.

Mereka hanya mau guru itu baik hati, yang rela mengajari mereka hingga mereka pandai. Mereka menginginkan seorang guru yang mengajari mereka dengan tenang tanpa perlu marah-marah atau memakai kekerasan. Ya, mereka mau guru yang cantik yang mengajari mereka dengan lembut. Dan yang tak terduga oleh saya sebelumnya, ternyata dihati para murid itu terselip rindu untuk bermain dengan guru mereka tercinta.

Saya tersenyum akan kejujuran mereka. Sekali lagi, mereka ingin bermain dengan guru mereka. Apakah ini menandakan kebanyakan guru terlalu serius ketika mengajar di kelas? Ataupun jika memang terkadang keseriusan itu menjadi tuntutan, namun selepas istirahat, apakah para guru hanya bercengkrama dengan sesama guru, tanpa ikut menghabiskan waktu bersama anak didiknya walau hanya sekedar bercerita-cerita dengan mereka?

Ternyata para guru juga dirindukan oleh muridnya sebagai sahabat dan temannya dalam bermain. Dan seperti yang kawan ketahui dan yang kawan lihat, memang terkadang guru hanya berkomunikasi dengan siswanya ketika berada di dalam kelas saja, ketika sedang dalam proses pentransferan ilmu. Setelah keluar dari kelas, komunikasi antara murid dan siswa hanya terjadi ketika mereka berpapasan di jalan.

Dan tentang keinginan siswa yang ingin dekat dengan guru-gurunya, hanya sedikit dari para guru itu yang sadar. Sehingga komunikasi yang tidak lancar membuat hubungan antara murid dan guru menjadi kaku. Dan akhirnya, para murid pun takut bertanya ketika ada hal yang tidak dipahaminya ketika belajar.

Sebenarnya saya, sebagai seseorang yang baru terjun di dunia pendidikan, khususnya menjadi seorang guru, memang perlu mendekati siswa itu dengan cara yang lain. Dari sisi yang berbeda sehingga mereka merasa nyaman.

Ada seorang siswa yang menuliskan, “Aku diajak jalan sama ibu sri wahyuni”.

Apakah itu keinginannya? Apakah itu yang disukai oleh siswa yang bernama Lulu ini? Hmm, mungkin dia melihat saya pergi bermain ke kota pontianak bersama kakak kelasnya Sila dan Waroh waktu itu. Dan memang, urutan pertama hal yang dituliskan Lulu adalah ” Aku diajak bermain ke ponti”. Sepertinya dia berpengharapan seperti itu. Semoga saja nanti jika ada waktu, aku akan mengajaknya pergi ke Pontianak bersamaku. Sebelum aku meninggalkannya. Meninggalkan semua siswa yang ada di SD 21 Kuala Mandor B ini.

Ada satu siswa lagi yang membuat saya tersenyum membaca kata-kata coretan  tulisan tangannya. Dia bernama Aliza. Di kertas itu, diurutan kesepuluh tertulis dia menuliskan hal yang dia sukai dari guru:

”dan dia orangnya manis imut lucu dan aku suka banget dengan ibu sri wahyuni.”

Saya benar-benar tertawa membaca tulisan siswa ini. Tak habis fikir, kenapa dia menulis itu. Tapi itu haknya. Bukankah anak yang masih kecil itu selalu jujur? *ngarep banget orang lain setuju dengan poin kesepuluh yang dituliskan Aliza ini. Haha

Kata yang tertulis ini pasti memang ada alasannya. Mungkin dia sudah merasa dekat dengan saya.

Dan sedikit keluar dari pembahasan, memang ada siswa lain yang juga dekat dengan saya hingga dia suka bermanja-manja dengan saya. Ada beberapa siswa. Ya, mereka bahkan tak segan mendekati saya, kemudian memegang tangan saya dan tersenyum manja. Bahkan ada yang berani memeluk saya. Saya hanya tersenyum. Saya mengerti. Sangat mengerti. Anak ini ingin di manja.

Tapi karena saya tidak mau kehilangan wibawa di depan siswa-siswa yang lain, akhirnya saya berbisik dan berkata dengan hati-hati, ”Sayang, kalo mau meluk Ibu, jangan ditempat orang ramai ya, Ibu malu.”

Dan dia tersenyum.

**Kuala Mandor B, 11 September 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s