Mari Hidupkan Senyum Mereka

IMG_20140829_203158Coba lihat gambar di atas. Gerakan mereka begitu lepas. Berlari kesana kemari tanpa beban. Melakukan apa yang mereka senangi dengan sepenuh hati.

Jika saya ulang rekaman hidup saya dimasa lalu, ternyata saya juga melakukan hal yang sama seperti mereka. Berlari kesana kemari, berkejar-kejaran, berteriak sesuka hati.

Tak dapat dipungkiri, memang itulah masanya. Masa anak-anak adalah masanya untuk bermain. Bercengkrama dengan teman seusia, melakukan hal apapun yang mereka suka.

Sekali lagi coba kita lihat bagaimana potret gerak tubuh mereka. Meski foto di atas tidak menangkap dengan jelas wajah-wajah mereka, tapi dapat saya pastikan mereka tersenyum lepas ketika bermain kasti dilapangan itu. Dan coba segera kita bayangkan ketika mereka sampai kedalam kelas, apakah senyum seceria itu masih melekat diwajah mereka? Apakah tawa Itu masih terpancar indah di raut muka mereka?

Tidak usah banyak bertanya. Kita sama-sama tahu faktanya, dikelas yang dibatasi dinding itu, tawa mereka pun ikut tersekat. Diruangan yang terkadang panas itu siswa tak dibiarkan untuk menghirup sejuknya aura pengetahuan.

Kenapa hal ini terjadi? Karena guru. Sang guru telah meredamkan senyum anak didiknya. Mengekang kebebasan mereka. Tidak memberikan kemerdekaan kepada mereka.

Ya, para anak bangsa itu hanya dibiarkan duduk dengan manis tanpa boleh bersuara. Mereka hanya duduk diam untuk mendengarkan suara-suara yang berceramah. Tanpa melibatkan mereka. Tanpa bertanya kepada mereka, apakah siswa itu menyukai cara kita gurunya mengajar selama di kelas?

Memang sekali-kali kita harus berbicara dari hati ke hati dengan murid kita. Menanyakan apa mau mereka. Menanyakan apa yang diinginkan mereka.

Jika memang berlarian yang mereka suka, tidak ada salahnya guru mentransfer ilmu dengan memakai model pembelajaran yang ada aktifitas berlari didalamnya. Jika siswa suka berteriak-teriak selama belajar, tak ada salahnya juga guru merangkai pembelajaran yang bisa menyalurkan kesenangan mereka tersebut dalam belajar. Jika hal itu tidak bisa dilakukan didalam kelas, maka sang guru bisa membawa prajurit kecilnya itu berekpresi dilapangan.

**Mari menjadi guru kreatif yang mencerdaskan anak bangsa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s