Belajar untuk mengajar

Jika blog saya bertajuk “hidup tak hanya untuk hari ini”, maka ada blog seorang teman yang menuliskan “Belajar untuk mengajar”.

Awal pertama saya melihat sebuah kalimat yang meski hanya terdiri dari tiga kata ini, saya tahu kalimat ini sarat makna. Sederhana, tapi begitu dalam. Jika dilihat sekilas, mungkin kita tidak akan terlalu mempedulikan perihal kalimat ini. Namun perlu kita ketahui,  jika kalimat sederhana ini dapat diaplikasikan oleh semua orang, apalagi seorang guru, tentu tak mustahil Indonesia tak lama lagi akan menjadi  Negara maju.

Belajar untuk mengajar. Jika seorang guru yang mengajar di kelas bukanlah seseorang pembelajar, tentu apa yang akan dia ajarkan kepada muridnya hanya itu-itu saja. Tidak ada pembaharuan, tidak ada inovasi dan tidak ada kreativitas yang timbul akibat tidak adanya usaha untuk perbaikan.

Apalagi di zaman yang modern ini, jika guru tak mau belajar, bahkan muridnya bisa lebih pintar dari sang guru. Seperti yang kita ketahui, sumber belajar siswa bisa darimana saja. Apalagi jika siswa telah kenal dengan internet. Begitu mudahnya siswa mengakses apapun yang dia mau, membuatnya bisa lebih tahu dari sang guru. Ya, dengan adanya internet, anak bisa searching semua yang ingin dia ketahui.

Coba bayangkan, jika di kelas, ada seorang siswa cerdas yang rasa penasarannya tingkat tinggi sehingga mempertanyakan hal-hal yang tidak diduga oleh sang guru. Jika sang guru tidak tahu, maka guru harus bisa mensiasati jawaban dengan berkata seperti ini, “Oke anak-anak, seperti yang kalian dengar tadi, ada pertanyaan dari teman kalian. Ibu sebenarnya tahu jawabannya, tapi  Ibu mau kalian berusaha dulu untuk mencari tahunya. Jadi silahkan di cari di rumah, minggu depan kita diskusikan.”

Nah, itu jika sang guru cerdas mensiasati ketidaktahuannya agar tak terlihat bodoh di depan muridnya. Namun coba bayangkan jika sang guru terlalu polos dan berkata, “Maaf, Ibu lupa. Minggu depan ibu kasih tahu ya.” Yang lebih merusak imej lagi bila sang guru berkata seperti ini, “ Maaf Nak, Ibu ga tahu”.

Jika sang guru berkata seperti ini tentu si anak akan menjawab begini, “Ah ibu. Masa Ibu sebagai guru ga tahu sih?”.

Jika memang ada siswa yang berkata seperti ini, maka langsung gondoklah sang guru. Tentu  guru ini pun akan malu karena didengar oleh banyak anak.

 Akhirnya guru pun marah, “Abis pertanyaan kamu itu ngawur. Pertanyaan kamu jangan yang macem-macem dong”.

Dalam hal ini, jikapun siswa bertanya yang “macam-macam” seperti yang dikatakan guru, itu menandakan siswa itu peduli tentang apa yang dipelajari. Otaknya berfikir tentang peristiwa sebab akibat yang dipelajari di materi pembelajaran. Justru itu menandakan sang anak adalah siswa yang cerdas.

Namun jika jawaban guru seperti itu, tandanya sang guru tak bisa menfasilitasi keingintahuan anak. Ditambah lagi dengan menjatuhkan mental anak, maka  secara tidak langsung guru itu membunuh potensi anak secara perlahan.

Oleh karena itu, apa jalan keluarnya? Sebelum mengajar, berarti sang guru harus belajar dulu. Karena jika pun sang guru telah mengajar selama dua puluh tahun, yang diajarkan hanya itu-itu saja, berarti itu sama dengan mengajar satu tahun yang melakukan pengulangan sebanyak dua puluh kali. Itu tandanya selama mengajar dua puluh tahun, tidak ada perbaikan dalam mengajar. semuanya diulang-ulang sehingga terlihat monoton dan sangat tidak menarik.  Jadi kualitas guru yang mengajar dua puluh tahun ini dapat disamakan dengan kualitas guru yang mengajar satu tahun. Bahkan, kualitas guru yang satu tahun ini bisa lebih baik dari guru yang telah mengajar  dua puluh tahun ini jika dia adalah sang pembelajar. 

Image

Sri Wahyuni

Guru Muda SGI Dompet Dhuafa

 #Kuala Mandor B, Kalimantan Barat

## 17 Mei 2014

Advertisements

2 thoughts on “Belajar untuk mengajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s