Si Otak Encer Pemilik Senyum

Image

Siapakah bocah di atas yang tersenyum  begitu lepas?

Dia adalah Paud Ismi. Bocah yang memakai baju koko biru ini adalah Sang pemenang sejati. Dialah si otak encer yang selalu rajin datang ke perpustakaan untuk belajar matematika bersama saya setiap sore. Dia anak yang tidak kenal lelah. Meski pulang sekolah dasar sekitar jam dua belas, jam satu hingga jam tiga dia telah berada di sekolah madrasah untuk belajar ilmu agama. Lalu jam setengah empat dia sudah berada lagi di sarang saya, perpustakaan. Dia belajar matematika hingga magrib. Ba’da magrib dia harus “mengaji” lagi di TPA. Salut dengan bocah kecil ini. Mulai belajar setelah membuka mata hingga menutup mata lagi.

Meski banyak rentetan kegiatan belajar yang dia lakukan, tapi dia tidak pernah mengeluh kepada saya. Sekali lagi, disetiap sore, dia selalu datang keperpustakaan. Saya salut kepadanya. Selain tak kenal lelah, ada hal lain yang saya pelajari dari dirinya.

Tanggal 20 Februari, bocah yang memakai sarung ini seharusnya pergi bersama saya mengikuti olimpiade matematika FLSN tingkat kecamatan. Sayang sekali, dia jatuh demam setelah mengikuti lomba takraw O2SN  tanggal 13 Februari 2014 lalu. Kondisi tubuhnya terus menurun, hingga hari H olimpiade matematika dilaksanakan, tubuhnya masih melemah.

Jujur saya kasihan dengannya. Dia yang telah belajar keras dan tak pernah lelah, tidak bisa mengikuti lomba yang telah direncanakan sebelumnya. Saya agak kecewa sebenarnya meski olimpiade matematika ini telah dijuarai oleh kakak kelasnya Rusli, anak didik saya juga. Mestinya keduanya menjadi juara. Bukan ingin membanding-bandingkan, dari segi otak, Paud ini “lebih” dari Rusli. Begitu juga dengan kedisiplinan, Paud juga lebih unggul dari Rusli. Jadi jika Paud ikut lomba waktu itu, Paud juga bisa mendapatkan juara.

Hal ini membuat saya sedih. jika keadaan dibalik, dia mengikuti lomba dan tidak mendapatkan juara, itu tidak mengapa bagi saya. Tapi dia tidak ikut karena sakit inilah yang membuat saya merasa ada sesuatu yang tidak enak. Sang juara ini tidak sempat menjadi juara.

Tadi siang, ketika saya meilhat Paud keluar kelas, saya memintanya kembali datang belajar di sore hari seperti biasa di perpustakaan. Ya, saya memintanya untuk belajar bersama lagi dengan Rusli. Biar saya tidak mengajar satu orang saja. Biar Rusli yang kadang malu-malu dengan saya tidak merasa kikuk kalau saya hanya mengajarnya sendiri. Maksud lainnya juga adalah untuk persiapan lomba olimpiade matematika tahun depan.

Di sore tadi, kurang dari pukul empat, Paud telah datang bersama Faisal. Saya tadi juga meminta Faisal untuk datang belajar. Ya, untuk persiapan olimpiade tahun depan. Jadilah mereka beriringan datang berdua ke pespustakaan. Sedangkan Rusli? Saya tidak tahu kabarnya. Tadi dia tidak masuk sekolah. Kata temannya dia sakit. *Semoga lekas sembuh.

Selesainya Faisal dan Paud mengerjakan soal yang saya berikan, saya sedikit bertanya kepada Paud tentang lomba yang tidak jadi dia ikuti.

“Paud, gimana itu lomba yang ga jadi di ikuti kemarin? Gimana perasaannya?

Dia menjawab dengan senyuman yang tetap merekah,

“Tidak apa-apa Buk”.

“Kecewa ga?”

Ga buk,” Jawabnya masih tersenyum.

Kenapa?

“Kan masih bisa ke Kabupaten Buk, Takraw”.

Saya mengangguk. Dia yang juga tergabung dalam tim takrau telah mendapatkan juara satu di kecamatan. Tidak ada niat menghancurkan harapannya, saya pun segera menjawab,

“Katanya takraw di Kabupaten ditiadakan. Nanti tidak akan ada lomba takraw . Tenis lapangan juga”. Saya menginfomasikan berita yang saya dengar dari rekan guru beberapa hari yang lalu.

Dia masih tersenyum. “Tidak apa-apalah Buk.”

Ga kecewa? Ga sedih?”

Ga Buk”. Senyumnya belum lepas. Aku malah tersenyum dengan jawabannya.

Saya berfikir, kenapa dia tidak sedih dengan berita yang dia dengar barusan. Tidak mengikuti olimpiade matematika mungkin terobati jika dia mengingat tetap akan ke kabupaten karena mewakili Takraw. Tapi sekarang dia sudah tahu bahwa harapannya ke kabupaten telah pupus setelah mendengar kabar dari saya tadi. Tapi apakah dia kecewa? Tidak.

Saya salut dengannya. Apapun yang terjadi, dia tidak pernah merasa kecewa. Dia tidak pernah merasa sedih meski cobaan datang beruntun padanya. Sudah belajar keras, tapi tidak jadi lomba karena sakit. Sudah juara satu lomba takrau dikecamatan, tapi malah ditiadakan perlombaan itu. Tapi apa yang terjadi dengan anak ini? DIA TETAP TERSENYUM.

Dia masih kelas empat SD. Jika dia dimasukkan ke sekolah dasar dengan umur yang normal oleh ibunya, kira-kira dia masih 10 tahun sekarang. Dengan umur yang begitu muda, dia telah belajar ikhlas. Sangat ikhlas. Merelakan segala sesuatu yang terjadi meski itu di luar kehendaknya.

Bagaimana dengan kita? Coba tanyakan pada diri kita, apa yang kita rasakan disaat kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan? Apa yang kita rasakan disaat kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan? Kecewa? Menangis?

Jikalau begitu, anak yang masih berumur sepuluh tahun ini lebih pantas sedih. Lebih pantas meangis. Menangis atas apa yang tidak dia dapatkan. Menangis karena tidak jadi keKabupaten karena suatu alasan yang tidak dia ketahui. Tapi apa? Dia masih tersenyum. Tidak membiarkan sesuatu apapun merenggut senyumnya.

Setelah mengetahui fakta ini, kita mestinya tertampar jika masih sedih dan menangis untuk hal-hal sepele.Meski masih kecil, kita sudah harus belajar tentang arti iklhas ini dari Paud Ismi. Kita memang tidak hanya berguru kepada yang tua saja. Tapi kita juga bisa berguru kepada siapapun, termasuk anak kecil.  Dan saat ini, saya berguru degan murid saya. Tentang keikhlasan.

Image#Kuala Mandor, 25 Februari 2014

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s