@*(^(#$%^*&*(%%

Mengenai hati. Sebongkah gumpalan darah yang berada dalam genggaman tuhan. Pusat pengendali jiwa yang mudah dibolak-balikkan oleh Sang Maha Kuasa.

Apapun yang dirasakan hati, tentu atas izin Tuhan. Tapi seperti yang dikatakan dalam ayatnya yang intinya, seburuk apapun kondisi hati, jika kita tidak berusaha memperbaikinya, hati itu akan selamanya merasa tidak baik.

Jikalau hati sudah merasa tidak tenang dan tidak tentram, lalu bagaimana sang raga dapat menjalani hidup. Raga itu pengekor jiwa. Raga itu  tergantung jiwa. Jika jiwa si raga tidak bersinar, tentu tidak bersinar pula aura si raga kelihatannya.

Wajah yang lesu dan tidak bersemangat indikator jiwa sedang memiliki proplema. Gerak tubuh yang tidak bergairah tanda si jiwa sedang dalam masalah. Apapun masalahnya, jika hati tidak bisa meng”handle” semuanya, tentu anggota tubuh mulai dari ujung kaki hingga ke ujung rambut akan tidak tertata dengan indah.

Beruntunglah orang yang bisa menata hatinya. Beruntunglah orang yang bisa menatap masalah dengan mudah. Dan beruntunglah orang-orang yang bisa menangkis semua kegalauan di dalam dadanya.

Banyak hal yang bisa membuat manusia itu galau. Bahkan rasa malas dan bosan adalah virus ampuh yang meluluhlantahkan semua asa. Tapi semua itu tidak akan terjadi jika kita tidak mengizinkan malas dan bosan menggerogoti mimpi kita. Usaha perlawanan itu yang harus kita lakukan.

Berbicara untuk melawan rasa malas dan bosan itu memang tidak mudah. Tidak segampang membalikkan telapak tangan. sebenarnya beruntunglah orang-orang yang mudah terbakar melihat kesuksesan orang-orang lain. Beruntunglah orang-orang yang bisa berlari ketika melihat seseorang telah mendahuluinya. Kenapa beruntung? Karena tanpa perlu diinstruksikan lagi, melihat orang-orang disekeliling telah berlari meninggalkannya, maka mesin hatinya akan tergerak untuk berlari pula. Dan tentu dengan terjadinya hal ini, rasa malas dan bosan itu telah tersingkirkan. Telah musnah. Tekad tidak ingin “dipandang” remeh dan tidak berguna bisa menjadi mesin penggerak untuk maju.

Sekali lagi hati itu mudah dibolak-balikkan oleh sang Pencipta, jika jam delapan pagi semangat itu masih membara, tapi tak jarang jam sepuluh pagi bara hati itu telah meredup meski matahari belum tenggelam. Masih untung, kadang dalam sekejap, semangat itu bisa lenyap seperti hilang ditelan bumi. Pergi entah kemana. Kesuksesan orang-orang disekeliling yang tadinya menjadi bahan perbandingan malah tidak ampuh sama sekali. Hati berkata, “mereka adalah mereka. Saya adalah saya”. Karamlah kapal kehidupan jika kita telah beasumsi seperti ini. bagaimana jiwa bisa bangkit dari lumpur penderitaan jika hati iklhas-ikhlas saja menerima semua rasa yang tidak akan menjadikan jiwa raga menjadi pribadi yang sukses.

Sungguh kasihan sekali jika ada orang yang seperti ini. Bahkan harus lebih dikasihani dibanding para pengamen yang bertebaran di jalanan. Para pengamen itu masih berusaha mengumpulkan recehan untuk sesuap nasi. Sedangkan orang yang malas dan bosan hidup ini tentu lebih memilih meringkuk di dalam selimut hangatnya. Kehangatan sementara yang akan mengntarkannya berkumpul menjadi orang udik. Jika kita telah seperti ini, Betapa meruginya kita. Membiarkan otak yang cerdas tersimpan dalam raga yang malas. Beristirahat sebelum lelah.

Jika ini telah terjadi, lalu apa yang harus kita lakukan untuk bangkit? Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak menjadi orang yang merugi? Jikalau ingin menangis, menangislah atas setiap kesia-siaan yang telah kita lakukan. Mengadulah padaNya. Bukankah Allah itu bahkan lebih dekat dengan nadi kita? Lalu kenapa kita tidak bercerita padanya? Udara yang tidak terlihat tidak membuat kita berhenti bernafas. Begitu juga dengan Allah, meski Allah tidak pernah kita lihat, tapi itu bukan berarti kita harus berhenti mempercayainya.

Jadi, jika kita telah gelisah, rasa malas mendera dan bosan hidup datang tiba-taba, maka ambillah wudhu. Menangislah menghadapNya. Mintalah segala sesuatu apapun yang kita minta. Sampaikan segala keluh kesah kita padaNya. apapun masalah kita. Minta lah petunjuknya. Ceritakan semuanya. Jangankan masalah kesuksesan kita yang sedang terncam, tentang sandal kita yang hilang pun Allah akan setia mendengarnya.

**Ya Allah, tiada tuhan selain engkau. Dalam genggamanmulah nasib kami dipertaruhkan. Didalam genggamanMu lah semangat hidup kami tersimpan.  Jika Engkau tak lagi rela menggenggam kebahagiaan kami, merugilah kami sebagai manusia. Tapi kami percaya dengan janjiMu ya Allah, Engkau tidak akan pernah meninggalkan kami. Bahkan meski hanya selangkah kami mendekatiMu, Engkau akan mendekati kami seribu langkah. Berkahi kehidupan kami ya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s