Bersama Para Juara

Kamis, 20 Februari 2014 adalah hari yang bersejarah. Hari ini, anak didikku yang mengikuti perlombaan olimpiade matematika dan IPA masing-masingnya mendapat juara. Jika Haikal mendapat juara 2 di olimpiade IPA, maka Rusli lebih beruntung mendapatkan juara 1  dibidang matematika.

Image

Image

Dulu sebelum aku ditunjuk oleh kepala sekolah untuk melatih para anak itu, aku memang sangat ingin berbagi ilmu dengan para sang juara yang akan mendapat piala. Berhubung memang aku yang mengajarkan IPA dan Matematika dikelas lima, jadinya memang aku sebagai guru bidang studi yang bertanggung jawab melatih mereka. Kata kepala sekolah, tentu aku yang lebih tahu siapa yang pantas untuk mengikuti olimpiade ini. Aku bersyukur telah diberi kepercayaan. Aku juga sangat bersyukur karena ini adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali.

Sebelum aku menetapkan siapa yang akan mengikuti olimpiade bidang studi ini, aku membiarkan kesempatan kepada siapa saja yang mau. Waktu itu aku tidak membatasi siapa saja yang boleh ikut. Tidak hanya para juara kelas. Siswa yang rangking terakhirpun akan ku izinkan jika dia mau. Jadi memang lebih dari dua orang siswa yang mengikuti pelatihan olipiade ini.

Dua minggu ku bimbing anak-anak itu, akhirnya aku pun memberikan tes kepada siswa-siswa itu. menentukan siapa yang layak untuk mengikuti bimbingan lanjutan. hal ini bertujuan agar sang anak yang benar-benar “mau” tidak dirugikan oleh temannya yang tidak serius dalam belajar. Tentu ini akan menunda kelanjutan pembelajaran selanjutnya jika mereka tetap ikut, sedangkan ada hal yang harus dikejarkan.

Dari tes itu, aku mengambil dua nilai anak yang tertinggi. Kebetulan untuk yang IPA, satu orang kelas empat dan satu orang kelas lima. Begitu juga dengan kelas lima. Sangat tidak sengaja sekali karena memang para guru menyarankan agar mengambil masing-masingnya kelas empat dan kelas lima. Karena nilai yang menentukan telah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para guru, jadi aku tidak perlu bingung lagi.

Olimpiade IPA diwakili oleh Soleha dari kelas lima dan Haikal dari kelas empat. Yang lebih rajin datang adalah Haikal. Jika diukur-ukur kepintarannya, sebenarnya Soleha itu lebih pintar dibanding Haikal. Namun sayang sekali Soleha tidak selalu rutin mengikuti bimbingan ini. Perlu diketahui sebelumnya bahwa awalnya olimpiade IPA dari kelas lima diwakili oleh Didi. Berhubung Didi juga mengikuti perlombaan pantomin, takut jadwalnya bentrok, akhirnya aku memutuskan Soleha menggantikan Didi. Kenapa aku memilih Soleha? Karena daya tangkapnya cukup cepat. Tapi kenapa dia tidak mendapatkan juara? Karena dia tidak seulet Haikal. Meskipun daya tangkap Haikal tidak sehebat Soleha, tapi karena kelebihan kebiasaan Haikal ini mengantarkan Haikal pada juara 2. Aku pun teringat bahwa kemenangan itu bukan dimiliki oleh otak yang pintar, melainkan oleh kebiasaan.

Olimpiade matematika diwakili oleh Rusli dan Paud. Rusli dari kelas lima dan Paud dari kelas empat. Meskipun Paud masih dikelas empat, tapi Paud ini lebih cepat mengerti dan lebih cepat mengerjakan soal-soal yang aku berikan dibanding Rusli. Dan waktu kemarin itu memang ada guru yang mengatakan Rusli itu “biasa-biasa” saja. Tapi saya meyakinkan guru itu kalau Rusli “bisa”.

Tapi sayang sekali, pada perlombaan Olimpiade matematika hari ini, Paud tidak bisa mengikuti. Bocah cerdas ini sakit. Sudah seminggu. Kemarin ketika saya menjenguknya, memang badannya sudah agak kurus. Sakit itu menyerangnya pasca lomba takraw yang juga dia ikuti tanggal 10 Februari kemarin. Sepertinya karena kecapean dan terlalu banyak makan es, akhirnya kondisi tubuh Paud nge”drop”. Hingga sore kemarin, lelaki kecil yang berambut lurus ini hanya terbaring lemah ditempat tidurnya. Aku meminta kepada ibunya agar Paud banyak diminumkan air putih hangat. Dan waktu itu saya mengatakan kepada ibunya semoga Paud bisa sembuh malam ini agar dia bisa mengikuti perlombaan olimpiade matematika.

Sebagai manusia kita hanya bisa berdoa. Paud yang saya tunggu-tunggu tidak datang. Itu berarti dia masih sakit. Sangat disayangkan sekali. Jika dia ikut pasti dia juga akan mendapatkan juara. Saya yakin itu karena saya tahu kemampuannya.

Hal ini mengajarkanku bahwa jika kita ingin mempersiapkan “tentara” untuk perang, jumlahnya jangan terlalu di“ pas”kan. Setidaknya ada cadangan yang bisa menggantikan jika ada prajurit yang tidak bisa ikut bertempur. Tapi sebenarnya alasan kenapa saya tidak menyiapkan cadangan, karena jika nanti ada yang tidak ikut lomba padahal sama-sama ikut pelatihan, saya tidak mau membuatnya kecewa. Hanya itu. Tapi saya tahu saya kalah. Justru disanalah letak “persaingannya” agar mereka serius belajar.

Tapi apapun yang tejadi, yang terjadi biarkan sajalah terjadi. Tidak usah disesali. Yang patut disyukuri sekarang adalah para bintang itu telah memancarkan sinarnya masing-masing.

ImageImage#Kuala Mandor, 20 Februari 2014. 19.30 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s