Menang untuk Kalah, Kalah untuk menang.

Dalam sebuah perlombaan, “kemenangan” adalah suatu hal yang sangat diinginkan oleh semua orang. Sudah pasti menjadi juara adalah target semua orang. Tapi apakah dalam sebuah perlombaan semua orang akan menjadi juara? Tentu tidak. Karena apa? Karena hanya orang –orang terpilihlah yang akan menjadi para pemenang.

Senin, tanggal 10 Februari kemarin di Kecamatan Kuala Mandor dilaksanakanlah O2SN dan FLSN. Salah satu perlombaan FLSN adalah “tari daerah.” Dan berhubung guru seni SD 21 Kuala Mandor tidak memungkinkan melatih siswa SD ini untuk menari, akhirnya sayalah yang melatih siswa untuk mengikuti perlombaan tari untuk hari itu.

Image

Sebagai pelatih yang mempersiapkan siswanya untuk mengikuti perlombaan,  tentu saya tidak hanya melatih tubuhnya saja untuk bergerak. Tapi saya tentu juga harus menguatkan mental dan menumbuhkan semangat baja dalam diri mereka.

Persiapan latihan menari ini telah dilakukan sebulan sebelumnya. Dan saya sebagai orang “Padang”, memilih tari “Badindin” untuk perlombaan  ini. Tarian yang melambangkan keceriaan para remaja. Total siswa yang menari adalah enam orang. Tiga laki-laki dan tiga perempuan.

Image

Melatih para siswa SD ini memang harus penuh kesabaran dan senyuman. Jika saja kita marah atau ada nada berbicara kita yang tidak enak, takkan segan-segan air mata mereka akan jatuh. Ya, mereka masih anak-anak. Masih sangat mudah menangis, meskipun itu laki-laki.

Pernah suatu kesempatan, guru sebenarnya yang bertanggung jawab melatih para siswa ini datang ke perpustakaan, tempat saya melatih anak-anak menari. Jadi ketika ada seorang anak laki-laki yang selalu salah melakukan gerak tarinya, sang bocah selalu ditegur dengan nada yang “agak kurang enak”. Tentu sebagai anak kecil yang dimarahi di depan umum, dia menjadi malu dan tidak bersemangat. Karena sebelumnya saya memperhatikan anak yang lain, jadi ketika saya melihat kearahnya dan tidak ada senyum di wajahnya ketika menari, saya bertanya kenapa dia seperti itu. Dia menjawab, “Saya disalahin terus Buk.”  Tak lama setelah itu pun dia menangis. Ya, saya sangat mengerti apa yang dirasakan oleh siswa itu. Memang sebelumnya kepada semua anak yang melakukan kesalahan, saya mengatakan bahwa melakukan kesalahan itu wajar karena kita masih belajar. Kalau kita sudah tahu atau pintar, tentu kita tidak perlu belajar lagi. Tapi saya juga mengatakan, kita juga tidak boleh salah terus menerus. Karena kita manusia, kita harus berubah kearah yang lebih baik. Itulah gunanya belajar.

Setelah melatih mereka dengan sabar, ketika hari “H”, banyak ujian yang datang sebenarnya. Namanya Faisal. Hari senin pagi itu, bocah ini tiba-tiba sakit ketika upacara pembukaan O2SN dan FLSN dilaksanakan. Bahkan dia sampai muntah. Kepalanya pusing katanya. Saya segera membawanya ke kelas untuk beristirahat. Memang badannya panas. Saya cemas bagaimana jika Faisal masih tetap sakit hingga malam datang. Tentu dia tidak akan bisa ikut menari. Tapi saat itu, saya segera meminumkan air untuknya dan mengusapkan minyak kayu putih ke kepala dan perutnya. Saya juga menyemangatinya agar segera sembuh. saya mengatakan kepadanya bahwa dia sebentar lagi akan sehat lagi. Dengan demikian Faisal bisa mengikuti perlombaan tari pada malam itu.

Tiap sebentar saya melihat Faisal kedalam ruangan. Memastikan apakah sakit kepalanya berkurang atau tidak. Ternyata sekitar jam 10 bocah ini ternyata masih seperti itu-itu juga. Kepalanya masih sakit katanya. Saya membuatkan dia teh manis, lalu saya suruh dia beristirahat lagi.Saya melarangnya makan mie dan es agar sakitnya tidak bertambah parah. Alhamdulillah,nasib baik berpihak kepada kita, ketika zuhur datang, keadaan Faisal sudah membaik.

Masalah dengan Faisal beres. Timbul masalah dengan anak yang lain. Ba’da ashar, saya meminta anak-anak tari untuk mengulang tarian yang telah mereka pelajari selama ini. Ketika latihan berlangsung, saya melihat seorang anak laki-laki lagi yang bernama Haikal tidak mengikuti tarian ini dengan semangat. Padahal sebelumnya gerakan yang dia kuasai sudah bagus. Saya pun langsung menanyakan kepada Haikal perihal dia yang tidak semangat itu. Bukan pertanyaan saya yang dijawab, malah dia menangis. Saya pun heran. Ada apa gerangan. Padahal saya tidak memarahinya. Kemudian salah seorang anak mengatakan bahwa tangan Haikal sakit terkena bola voly. Mendengar hal itu saya beristighfar dalam hati. Saya bertanya-tanya sendiri, kenapa ketika waktu perlombaan semakin dekat, ada-ada saja yang sakit. Kalau tadi ada anak yang demam, sekarang tangannya terkilir terkena bola voly.

Awalnya saya hanya membiarkannya menangis, sedangkan yang lain tetap menari. Karena keadaan tidak kondusif lagi, akhirnya saya menghentikan latihan disore itu. Saya pun mendekati Haikal. Saya menanyakan kepadanya siapa yang telah melempar bola voly ke pergelangan tangannya. Dia tidak menjawab. Dan dia hanya terus menangis. Karena tidak membawa balsam, akhirnya saya hanya menggunakan minyak goreng untuk “memijit” tangannya yang terkilir. Tapi dia masih menangis. Akhirnya saya menyuruhnya untuk tidur agar dia tidak menangis lagi. Tak lama kemudian dia tertidur, dan ketika saya mendapatkan balsam dari salah seorang guru, saya kembali memijit tangannya.

Jam lima saya membangunkannya. Saya memaksanya untuk bangun dan segera mandi. Dia bangun dan menangis lagi. Saya berhasil mendiamkannya. Saya katakan kepadanya, “Malam ini Haikal akan menari. Biarkan saja tangan Haikal sakit. Menarinya itu hanya sebentar. Lebih kurang 4 menit. Jadi tahan saja sakitnya. Menarilah dengan baik demi mama Haikal. Oke, Haikal mau menari demi Mama?” Dia pun mengangguk. Masalah kedua selesai.

Kepada anak-anak tari lainnya, saya melarang mereka berlarian sana sini atau bermain apapun yang menguras tenaga mereka. Saya hanya khwatir nanti mereka kecapean atau terjadi sesuatu ketika mereka berlarian. Jatuh misalnya. Dengan demikian mereka pasti tidak bisa menari jika kakinya tekilir. Untuk menghindari hal itu saya harus sangat menjaga mereka.

Magrib selesai. Tenyata perlombaan tari akan dilaksanakan setelah perlombaan nyanyi selesai. Ba’da magrib itu, saya langsung merias mereka. Saya mendahulukan meriasi anak perempuan. Meski saya sebelumnya jarang merias orang, tapi Alhamdulillah hasilnya make up nya ternyata lumayan juga.

Sebenarnya ada satu permasalahan lagi. Ini mengenai kostum. Ternyata kostum yang dibawakan oleh guru yang dipercayakan mencari baju untuk menari ini malah tidak sesuai dengan seharusnya. Kostum wanitanya malah kebaya. Sejak kapan tari Badindin pakai kebaya? Saya hanya beristigfar dalam hati. Saya mencoba memaklumi. Saya berkata dalam hati, “masih untung Ibuknya mau mencarikan. Bagaimana kalau tidak ada baju itu?

Pakai kebaya tentu yang cewek-cewek itu harus pakai songket. “Bagaimana pula ini?” Mereka akan duduk “baselo”. Ditambah mereka harus memakai sanggul. Saya hanya takut sanggul itu terjatuh ketika mereka menari. Kenapa? Karena gerakan kepala tari Badindin ini agak cepat. Dan gerakan tangannya juga punya resiko untuk menyenggol kepala teman sebelahnya.

Tapi malam itu saya menenagkan diri dan menyabarkan hati. Melihat kondisi seperti ini, saya sedikitpun tidak mengharapkan anak-anak ini mendapatkan juara. Yang saya harapkan mereka hanya tampil mempersembahkan tarian terbaik mereka. Cukup itu. saya yakin, jika mereka menampilkan yang terbaik, InsyaAllah juara itu akan mengekor.

perlombaan menyanyi selesai, tibalah saatnya lomba menari. Undian saya cabut. Kami mendapatkan urutan yang kelima. Karena masih menunggu, sebenarnya anak-anak ini memiliki kesempatan untuk melihat tarian yang ditampilkan sebelum mereka tampil. Tapi saya melarangnya. Saya tidak mau karena melihat tarian dari sekolah lain, semua gerakan tarian mereka nantinya jadi berantakan. Kenapa? Saya takut mereka tidak fokus nantinya.

Malam itu saya nervous, padahal bukan saya yang menari. Saya takut anak-anak murid saya  tiba-tiba lupa ingatan di atas pentas karena grogi atau malu. Saya hanya berdoa. Saking fokusnya saya memperhatikan mereka menari, saya akhirnya lupa merekam tarian mereka. Padahal kamera dari tadi sudah standby di tangan. Saya baru sadar setelah ada siswa yang mengingatkan. “Tidak jadi direkam Buk? Katanya. Saya baru tersadar. Saya tersenyum. Saya memberikan kamera kepadanya, dan dialah akhirnya yang merekam. Sebelum tarian mereka selesai, ternyata baterai kamera habis. *Nasib

Akhirnya tarian itu selesai. Saya pun lega. Meskipun ada satu anak yang gerakannya terlalu lambat, tapi saya memakluminya. Tadi semua anak tidak ada yang tersenyum ketika menari. Tapi tidak apa-apa, saya memaklumi mereka. Yang penting, mereka sudah tampil. Dan saya menyalami mereka satu persatu. Menghargai semua usaha mereka. Mereka pun tersenyum.

Setelah semua acara perlombaan tari usai, saya pun menemani anak-anak untuk membersihkan wajah mereka di kamar mandi. Meski kurang jelas, dari kamar mandi itu terdengar sepertinya ada pengumuman pemenang juara untuk semua perlombaan seni malam itu. Dan saya berkata kepada anak-anak seraya tersenyum,

Kita kalau ga menang ga apa-apa kan? Yang penting kita sudah tampil memberikan yang terbaik kan?”

Mereka semua juga tersenyum dan menjawab dengan kompak, “Ya, ga apa-apa Buk.”  

Kenapa saya berbicara seperti ini? Saya hanya tidak mau mereka berharap terlalu tinggi. Kenapa ? Karena malam itu saya baru tahu bahwa  jumlah siswa yang menari maksimal hanya lima orang. Sedangkan siswa yang ikut dalam tari Badindin ini ada enam orang. Jika ingin juara, tentu syaratnya harus diikuti. Tapi tentang syarat ini memang tidak ada kejelasan sebelumnya. Karena kita hanya peserta, dan jika ingin menang, tentu  harus ada satu atau dua anak yang tidak diikutkan. Tapi sudah pasti itu tidak adil bagi mereka.

Malam itu saya sudah bertekad, biar saja anak-anak itu kalah karena tidak memenuhi persyaratan. Yang terpenting bagi saya mereka semua tampil dan tidak ada siswa yang kecewa. Saya tidak membutuhkan predikat juara itu. Yang saya butuhkan adalah senyum semua para penari itu. Apalah artinya juara jika ada yang menangis? Apalah artinya juara jika ada anak yang dikorbankan? Bagi saya, kalahpun mereka nanti, mereka tetap para Sang juara di hati saya.

Belum selesai saya membersihkan wajah anak-anak itu, datanglah seorang guru ke kamar mandi. Ada kabar yang tak terduga. Ternyata anak-anak yang menari “Badindin” tadi mendapat juara.  Ya, kami juara 1. Itu berarti kamilah yang akan mewakili kecamatan Kuala Mandor di Kabupaten. Di bulan april nanti. Saya mengucapkan alhmadulillah. Saya, anak-anak dan semua “bala tentara” SD 21 senang malam itu.

ImageMenang untuk kalah. Kalah untuk menang.

Kemenangan ini bukan semata-mata semudah membalikkan telapak tangan sebenarnya. Saya yang selama ini melatih mereka harus sabar menghadapi mereka. Dengan kesabaran itu, saya  menggenggam anak-anak itu. Jadi selama latihan, saya memang harus “berpandai-pandai” menghadapi semua “tingkah” anak itu. Ketidakpatuhan mereka harus disapa dengan lembut, meski sekali-sekali tegas itu diperlukan. Kata orang, mundur untuk maju atau bisa dibilang kalah untuk menang

Dan tentang kemenangan ini tidak boleh terlalu dibanggakan. Karena, jika terlalu “dikoar-koarkan”, ini jatuh kepada ria dan sombong. Dan meskipun kemenangan ada ditangan, tetapi jika kita tidak bisa membawakan diri dengan baik, tentu kita kalah dalam memerangi sikap-sikap yang seharusnya tidak kita lakukan sebagai insan yang beriman. Secara lahiriah kita memang sebagai pemenang, tapi secara batin, kita telah kalah karena tidak bisa bersikap sebagai pemenang yang sesungguhnya.

Image

Image

 #Kuala Mandor, 15 Februari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s