Dikala kecewa menggoda

Di malam yang begitu pekat, aku terbangun. Roh yang sebelumnya telah melayang-layang di alam mimpi sekarang tlah menyatu kembali dengan ragaku. Roh yang telah terbang ke alam lain itu telah kembali kebatang tubuhku. Ya, roh itu telah kembali pada tempatnya.

Mataku terbuka. Segera kucari HP. Ternyata masih dalam kondisi di charge. Hmm, aku ketiduran semalam. Ya, Sekitar jam delapan malam tadi aku telah terkapar di ruang tamu, di rumah Bapak Kepala sekolah SD yang berada di Sungai Kakap Kalbar.

Ku tatap HP itu. Masih jam dua dini hari. Pantas suara jangkrik masih bernyanyi menghiasi kegelapan.

Fikiranku segera melayang. Terkenangkan peristiwa hebat yang tidak jadi kami torehkan. Ya, dalam liburan ini, dalam penyambutan tahun baru ini, ada beberapa hal penting yang telah kami rancang, tapi tidak jadi kami laksanakan.

Yang pertama. Awalnya kami, tim Kuburaya hendak bergabung dengan tim Sambas untuk pergi ke daerah perbatasan Indonesia-Malaysia. Di daerah itu kami berniat ingin melihat langsung kondisi warga Indonesia. Di sana kami ingin memantau langsung, apakah benar masyarakat di perbatasan itu “dihujani” oleh produk-produk Malaysia. Kami juga ingin melihat langsung, apakah dompet-dompet warga di perbatasan itu telah diisi oleh ringgit-ringgit Negeri Jiran. Dan yang ingin kami ketahui, apakah masyarakat di sana bangga atau tidak menjadi orang Indonesia.

Kita boleh berencana, tapi tetap Allah yang menentukan. Allah lah yang memberi keputusan apakah kami di izinkan kesana atau tidak. Ya, ternyata kesempatan itu belum diberikanNya.

Cuaca begitu buruk. Hujan telah mengguyur Sambas tiada henti. Air sungaipun naik hingga menimbulkan resiko tinggi jika melakukan penyeberangan selama delapan jam dengan motor air.

Karena hal itu, Tim Sambas menunda perjalanan yang direncanakan berangkat tanggal 28 Desember 2013 itu menjadi 2 Januari 2014. Tentu kami Tim Kuburaya tidak bisa ikut karena pada tanggal itu kami telah punya agenda lain. Rencana pertama gagal.

Yang kedua. Dimalam tahun baru, tentu ada “petasan-petasan” yang di letupkan ke langit untuk menyambut tahun baru. Memang kami tidak ikut mempersiapkan “bunyi-bunyian” itu. Tapi setidaknya malam itu kami bisa berkeliling kota Pontianak melihat keramaian di kota. Ya, hanya inilah kesempatan kami melihat tradisi “apa” yang ada dipontianak dalam menyambut tahun baru. Tapi karena tidak adanya kendaraan, kami hanya menghabiskan waktu di rumah singgah, hingga kami semua telah terkapar sebelum melihat “letupan” api di langit ketika pergantian tahun terjadi.

Hal yang paling disayangkan adalah,, ternyata malam itu sekitar jam setengah dua belas, Pak Syahrul ketua pengurus rumah singgah sengaja datang untuk membawa kami keluar berkeliling dengan mobil Ambulans milik dompet umat. Tapi hal tersebut tidak  terjadi karena kebanyakan diantara kami telah tertidur pulas. Yang saya sayangkan lagi, kenapa kami TIDAK DIBANGUNKAN oleh teman yang masih terjaga itu???

Kapan lagi berkeliling Pontianak di tahun baru pakai Ambulans kalau tidak malam itu?

Ini mengecewakan. Hal ini memang tidak direncanakan. Tapi seharusnya, kedatangan tiba-tiba Pak Syahrul yang hendak membawa kami keluar itu tidak “diberitahukan” oleh teman yang masih terjaga itu agar kami tidak tambah kecewa. Agar kami juga tahu bahwa malam itu yang bisa kami lakukan hanya tidur karena tidak ada pilihan lain. Ah, kenapa malam itu saya terlalu cepat terlelap.

Hal ketiga adalah,,, kami yang juga batal melihat Robo-Robo, tradisi pacu sampan di Sungai Kakap. Katanya acara tersebut meriah. Dan katanya lagi, acara yang biasanya hanya dilaksanakan oleh satu kecamatan, telah menjadi acara sekabupaten. Bahkan kemaren itu “Raja Sambas” pun ikut hadir memeriahkan. Itu hal pertama kali Sang raja hadir di acara tersebut. Dan ternyata lagi,  para bule-bule mancanegara juga ikut hadir disana. Oh tuhan.

Waktu, situasi dan kondisi tidak berpihak kepada kita. Yang kami dengar, acara Robo-robo itu dilaksanakan dari pagi hingga sore. Makanya kami yang sebenarnya telah bisa sampai ke acara itu pukul 11 siang memutuskan kerumah pak zul dulu, kepala kesolah SD itu. Ternyata kami harus berjalan kaki untuk jarak lebih kurang 2 KM kerumahnya. Dan tentu ini menyita waktu. Ditambah lagi hujanpun turun dikala kami hendak balik berangkat ke acara Robo-robo itu.

Ya, Sang air dari langit itu masih turun sampai jam empat sore. Tapi kami tetap berkeinginan melihat robo-robo itu. Tidak ingin kehilangan “moment” lagi. Akhirnya dengan sebuah mobil yang “bak” belakangnya terbuka, kami tetap “kekeh” pergi ke acara itu

Untung tak dapat diraih. Malang tak dapat ditolak. Ditengah perrjalanan kami terjebak macet. Hal yang sangat langka terjadi disana. Sepertinya kehadiran raja telah membuat masyarakat “berserakan” diacara itu. Dan ternyata, dikala kami terjebak macet itu, seorang warga memberi tahu kami  bahwa Pacu sampan itu telah selesai. Sang raja pun telah kembali. Acara yang tersisa hanyalah “pasar malam” yang sudah sangat biasa menurut saya.  Lutut kami melemas seketika.

Setelah berdiskusi dengan sesama tim, akhirnya kami kembali ke rumah kepala sekolah tadi dengan hati yang tak terkira. Ya, semua kami pasti kecewa. Meski kata-kata itu tidak terucap, tapi raut-raut wajah itu telah berbicara. Mata- mata itu tidak bisa berbohong.

Ya, sekali lagi kami kecewa. Tapi mau diapakan lagi. Semuanya telah terjadi. Waktu tidak dapat diputar lagi. Untuk menguatkan hati, aku khususnya menganggap bahwa semua yang terjadi ini adalah hal yang terbaik.

Aku menganggap, jika kami keperbatasan, kemungkinan kami bisa tenggelam di sungai yang airnya dalam itu hingga kami tak bisa lagi bertemu dengan orang-orang yang kami cintai.

Jika malam tahun baru itu kami berkeliling dengan ambulan, bisa saja terjadi kecelakaan hingga kami benar-benar jadi korban yang dilarikan dengan ambulan.

Jika kami hadir di acara robo-robo itu, mungkin ada peristiwa tidak baik lain yang terjadi disana. Apapunlah itu.

Jadi intinya, semua acara yang tidak jadi kami “hadiri” itu adalah YANG TERBAIK. Ya, apapun yang terjadi, pasti Allah telah memiliki rencana yang indah bagi kami.

Satu hal lagi yang harus selalu kita ingat adalah,,,

 Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan.

Ya, inilah prasangkaan hati yang menenangkan. Jika kami tidak berfikir seperti ini, tentu kami akan selalu diliputi rasa kecewa.

#Sungai Kakap, 2 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s