Jaga nikmatNya

Tidak selamanya uang itu membahagiakan. Tapi yang pasti ketika uang datang, kebanyakan orang berbahagia menerimanya. Namun kita sama-sama tahu tidak semua kunci kebahagiaan itu datang dari uang. Namun kita juga sadar, jikalau uang tidak ada, maka bahagia itu juga terasa kurang.

Manusia yang tidak pernah puas dengan “uang” pasti akan selalu merasa kurang. Karena, semakin banyak uang, semakin banyak kebutuhan yang hendak dibeli. Semakin tinggi pendapatan, semakin berderetan pula daftar barang-barang yang hendak dimiliki.

Ya begitulah manusia. Karena itu, jumlah uang yang dimiliki itu dikatakan “cukup” tergantung pada pribadi masing-masing. Bagi orang yang biasa mendapat uang seratus ribu sehari, kemudian mendapatkan duit seratus lima puluh ribu, maka ini akan sangat cukup baginya. Bahkan berlebih.

Tapi coba bandingkan dengan orang yang biasa mendapatkan uang satu juta sehari, kemudian pendapatannya menurun lima ratus ribu, maka dengan pasti mereka mengatakan “tidak cukup” mendapatkan uang. Padahal uang yang didapatkannya sudah tiga kali lipat bahkan lebih dibanding orang pertama tadi. Jadi sekali lagi, “cukup ataupun tidak cukup “ uang yang kita miliki, itu tergantung pada pribadi masing-masing.

Kadang kita mengeluh atas apa yang telah dilebihkan Allah kepada kita tanpa tahu banyak orang lain masih kekurangan. Tak hanya uang yang kita permasalahkan, tapi juga dengan makanan.

Kita akan protes jika kita makan tiga kali sehari dan tiga kali pula lauknya ikan asin. Kita sering merasa makan tidak enak jika nasi hanya bertemankan telur “dadar” saja setiap hari. Tidakkah kita sadar bahwa diluar sana begitu banyak orang yang makan hanya sekali sehari.  Mencari uang dipagi hari untuk membeli sesuap nasi disore hari.

Lalu apakah kita pantas marah kepada nasib yang kita anggap hanya memberi kita makan “apa adanya”?

Bahkan adakalanya juga ketika makanan telah dihidangkan di meja makan, tapi kita malah tidak menyentuhnya. Alasannya cukup sederhana. Malas makan. Padahal sang ibu telah bersusah payah memasak nasi dan lauk untuk mengenyangkan perut kita. Kita tidak sadar telah mengecewakan Ibu yang lebih mengutamakan “kekenyangan” perut kita dibanding “perutnya” !

Kenapa kita sering tidak mensyukuri nasi yang selalu tersedia ketika kita lapar? Jika perut kosong, tangan hanya tinggal “menyuapnya” ke mulut.

Lalu apalagi?  Lagi-lagi kita sering tidak sadar, diluar sana, banyak orang yang mencari sisa makanan yang ada di tong sampah untuk menghilangkan rasa laparnya. Tapi mereka tetap tersenyum. Sedangkan kita? Selalu menggerutu atas apa yang telah kita miliki.

Kita juga sering lupa bahwa perut itu sumber penyakit. Meski sayur, ayam dan ikan telah tersedia, tapi terkadang  kita tidak memakannya. Alasannya sederhana lagi.  Kita tidak suka. Kita lebih menyukai mie instan yang enaknya hanya sekejap saja. Kita mengorbankan kesehatan kita untuk kelezatan yang hanya sampai dilidah tanpa memikirkan akibat kedepannya.

Dan yang paling parah lagi adalah orang yang tidak makan meski punya banyak uang dan bisa membeli makanan apa saja. Lagi dan lagi alasannya bukanlah seperti alasan orang yang tak berpunya. Karena tidak lapar dan tidak berselera. Tidak habis fikir tentang “apa maunya”.

Perut yang selalu bergerak itu selalu meminta untuk diisi. Jika perut seringkali kosong, lalu apa yang hendak dicerna si pulau tengah? Kita tidak bisa menyuruhnya berhenti kecuali kita mati. Oleh karena itu, selama kita masih hidup, jangan abaikan lambung kita karena lambat laun ia bisa terluka.

Ketahuilah, tidak ada yang bisa menjaga kesehatan kita  kecuali diri sendiri. Berkoar-koarpun orang mengingatkan, berbusa-busapun mulut seseorang memberi peringatan, namun jikalau telinga tidak mau mendengarkan, kesadaran untuk tetap menjaga “nikmatnya” tidak akan pernah ada.

*sadarlah sebelum penyakit itu yang menyadarkan kita.

#Pontianak DU, 22.15 WIB, 23 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s