Mencoba menjadi orang baik

Ketika kita merindukan kesejukan hujan, air dari langit itu tidak akan langsung turun. Ketika kita merindukan indahnya pesona pelangi, susunan warna-warni yang melengkung di bawah awan itu tidak akan langsung muncul. Semua itu baru terjadi jika waktunya telah tiba. Semua itu baru akan terukir jika masanya telah datang.

Tentang semua kejadian yang kita alami, katanya itu telah tertulis di suratan takdir kita masing-masing. Dan tentang potongan kecil peristiwa hari ini, pasti sebelumnya juga telah tertulis di “kertas” nasib kita.

Sebuah pertanyaan dari saya, apakah kita menjadi orang yang “baik” atau “buruk” itu juga telah ditetapkan Allah sebelumnya? Tapi kembali saya teringat dengan salah satu ayat alqur’an yang intinya, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha mengubah nasibnya”

Sepenggal ayat tersebut membuat saya berfikir, baik dan buruknya hidup kita, kitalah yang menentukan. Jika kita telah berusaha menjadi orang baik, maka Allah akan menjadikan kita baik. Namun semua itu kembali lagi kepada usaha kita.

Orang baik. Sebenarnya apa “indikator” seseorang itu dikatakan “baik”? Itu yang menjadi pertanyaan saya saat ini karena saya belum menemukan “rubrik” penilaian yang objektif (jadi ingat Pak Asep,hehe) Kepolosan otak saya menjawab sendiri, baik itu sudah pasti orangnya suka tersenyum, suka membantu orang lain, rajin sholat, dan rajin melakukan ibadah-ibadah lainnya.

Jujur, saya ingin menjadi orang baik. Tapi terkadang ada hal yang membuat saya “merasa tidak lebih baik” daripada seorang teman. Seorang teman itu mengajarkan saya tentang arti “ketulusan”. Dia mengajarkan saya untuk selalu mengerti keadaan orang lain. Dan inilah hal yang tidak bisa, maksudnya belum bisa saya lakukan. Saya ingin mengerti orang lain. Tapi disisi lain saya juga ingin dimengerti oleh orang tersebut sehingga saya mendapatkan apa yang seharusnya saya dapatkan.

Pernah suatu ketika saya mengatakan padanya “kamu lebih baik dariku kawan. Aku masih belum bisa sebaik dirimu”.

Dia bertanya-tanya, ada apa gerangan saya berkata demiakian. Tapi saya tidak menjawab.

Dia adalah orang yang selalu bersedia menolong temannya. Saya bisa melihat cahaya keikhlasan di dalam bola matanya. Bahkan sepertinya dia bisa mengorbankan apa saja yang dia cintai demi temannya tersebut. Sekali lagi, hal terakhir  inilah yang belum bisa saya lakukan.

Hal yang dicintai yang saya maksud bukanlah “orang”, melainkan sebuah benda. Dia rela berbagi barang kesayangannya kepada teman lain. Bukan saya tidak ingin berbagi dengan yang lain tentang benda tersebut, melainkan saya juga selalu menggunakan benda kesayangan itu.

Tapi yang saya salutkan, dia lebih mengedepankan keperluan teman itu dibandingkan kepentingannya.

Sebelum pergi ke daerah penempatan masing-masing, kita sempat bertukar buku. Ternyata dibuku tersebut ada tanda tangan “Munif Chatib”. Kemarin saya baru sadar dia telah menukarkan buku dari “saya yang biasa saja” dengan buku yang ada tanda tangan Sang idolanya itu. Sempat terputar kembali rekaman otak saya. Masih teringat jelas bagaimana dia menenteng buku itu kekelas yang diajar langsung oleh bapak itu. Pasti itu berharga. Apakah dia lupa?

 Ya, saya sebenarnya sangat menghargai semua kebaikan beliau. Saya yakin, dimanapun beliau berada, orang-orang akan seperti semut mengerubunginya karena kebaikan dan ketulusan yang dia punya. Saya beruntung pernah mengenalnya.

Karena kebaikan-kebaikannya itu, sempat tertulis sebuah pesan dibuku itu,

Berikanlah aku penerangan dikala aku tersesat dalam kegelapan.

Ulurkanlah kayu padaku jika aku terbenam dilumpur yang dalam.

 Selain Tuhan, aku tidak bisa hidup tanpa bantuan teman”.

Tapi maaf ku gunting tulisan itu karena sesuatu dan lain hal.

**Terima kasih kawan atas kebaikan-kebaikan dan pengertianmu selama ini kepadaku. Maafkanlah semua kesalahan yang telah kulakukan. Tak ada maksudku untuk menyakitimu.

#Kuala Mandor, Pontianak 13 Desember 2013 22.41WIB.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s