Senyummu bahagiaku

Sabtu, 31 agustus 2013

Pagi begitu cerah. Matahari bersinar dengan malu-malu. Goyangan dedaunan yang ditiup angin menambah romansa kesejukan dipagi ini.  Berbeda dengan ku, pagi yang cerah bukanlah perwakilan hatiku. Aku kosong pagi ini. Semua sarapan yang kusantap tadi entah tersalur kemana. Hilang tak berbekas.

Dengan langkah gontai atas kewajiban yang harus ku lakukan, aku mencoba untuk tersenyum. Tapi tetap, ragaku terasa hampa. Dalam setiap langkah yang meninggalkan jejak dijalanan, otak ku berfikir keras. Kenapa aku selalu begini. Ya Allah, apa yang terjadi padaku. Saat ini memang aku tidak bisa merasakan nafasMu meski ku tahu engkau lebih dekat dari nadiku.

Mau tidak mau aku harus melaksanakan kewajibanku. Suka tidak suka jalan ini telah kupilih. Dan lebih parahnya lagi, darah ini telah dialiri dana zakat. Setiap suap nasi yang masuk perut harus ku pertanggung jawabkan. Setiap air yang ku minum akan diperhitungkan. Aku tidak mau menjadi pengkhianat untuk diriku sendiri. Ya Allah. Tolong bantu aku.

Saat langkah telah mengantarku sampai di bangunan yang akan mencetak calon pemimpin itu, ku hanya duduk dibelakang melihat temanku mengajar. Wanita berkerudung biru itu begitu teduh ketika kupandang. Saat ini sosok berhati lembut itu sedang menceritakan sebuah dongeng di kelas dua dengan semangatnya. Senyum indah melekat dibibirnya meski ku tahu saat ini dia sedang memiliki masalah keluarga. Aku sangat tahu kegundahan yang bergelayut di hatinya. Sungguh dia telah professional. Dia tahu bahwa anak-anak ajarnya pergi kesekolah untuk belajar, bukan untuk melihat wajah susahnya.

310820136138Ku manatap handphone ku. Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Tidak lama lagi, pukul delapan lewat dua puluh lima menit, giliranku lah yang akan mengajar. Berbagi ilmu dengan siswa tahun akhir di SD itu. Kelas VI A. Aku mencoba menyemangati diri. Saat ini tak ada satupun yang bisa memperbaiki keadaanku selain diriku sendiri.

Setelah sampai di depan kelas, mata pelajaran yang di ajarkan oleh guru lain belum selesai. Jadi aku hanya menunggu di ruangan sebelah. Disana ada wali kelas VI B. Sembari menunggu waktu ajar menghampiri, ku berdiskusi dengan beliau. Sosok yang memakai baju kaos itu sedikit bertanya tentang kuliah ku dulu. Tentunya sebagai calon seorang guru, aku harus menunjukkan wibawaku. Aku mencoba menjawabnya sebaik mungkin dengan postur duduk yang tegap. Aku tidak duduk seperti orang yang enggan duduk. Ini masalah harga diri menurutku. Bagaimana mungkin orang bisa menghargaiku jika ku sendiri tidak bisa menghargai diriku sendiri.

Semangat yang ku paksakan membuat keadaan jiwaku lebih baik dari sebelumnya. Memang ketika kita berinteraksi dengan orang, maka kotoran pesimisme itu akan terkikis. Kutatap lagi jam yang tertera dilayar HP, sekarang waktu ku mengajar telah masuk. Aku segera undur diri dari pahlawan tanpa tanda jasa itu dan segera memasuki kelas.

Kaki ku mulai menapaki lantai ruangan sederhana itu. Melihat sosok ku yang berjilbab kuning muda dengan senyum di bibir membuat para siswa bertepuk tangan. Sepertinya mereka menanti-nanti kedatangan ku. Mereka sangat menginginkanku di kelas itu.

Jiwaku mengharu biru. Alhamdulillah, ternyata aku berarti bagi mereka. Aku bahagia ketika aku melihat senyum tulus diwajah mereka. Semangatku mulai bangkit. Aku harus semangat. Bagaimana mungkin aku bisa menyemangati mereka jika aku sendiri tidak semangat. Aku harus professional. Ini adalah tugasku. Tanggung jawab ini tidak boleh ku abaikan. Lagi-lagi ku mengingat sari-sari makanan yang ada dalam darahku ini berasal dari para insan berhati mulia yang hendak membuat Indonesia ini lebih baik ke depannya. Aku meyakinkan diriku. Aku pasti bisa. Aku bisa. Aku harus bisa.

310820136131Alhamdulillah, pelajaran kesenian pagi ini berjalan lancar. Awalnya aku tidak tahu akan mengajarkan apa. Malam tadi aku sudah memutar otak mencoba memikirkan materi apa yang akan ku ajarkan pagi ini. Aku tidak mau hanya mengajar membuat “pola batik” karena menurutku itu sudah sangat biasa. Aku berniat membuat hasil kesenian dari barang bekas. Namun aku belum menginstruksikan kepada mereka untuk membawa peralatan yang diperlukan. Jadi sebagai alternatifnya, aku mengajar lagu nasional saja.

Setelah berdoa bersama, aku langsung memutar musik lagu “Garuda Pancasila”.  Aku menyuruh anak-anak untuk berdiri dan menyanyikan lagu tersebut. Aku langsung menjadi dirigennya. Mereka mengikuti dengan senang hati. Anak-anak yang tidak serius mengikuti, ku suruh maju kedepan menemaniku menjadi dirigen. Akhirnya mereka menyanyi dengan pas setelah di ulang beberapa kali.

Aku lupa melakukan absensi yang ternyata ada dua siswa yang tidak hadir. Aldi dan riska. Aku baru sadar atas ketidakhadiran mereka ketika ku melihat daftar nama siswa yang hendak ku ingat-ingat. Kutanyakan kabarnya kepada seluruh siswa yang hadir. Tidak satupun yang tahu alasan ketidakhadiran mereka.  Semoga tidak terjadi sesutu yang buruk pada mereka.

Kulanjutkan kegiatan berikutnya. Tadi aku sengaja tidak memberikan ice breaking terlebih dahulu karena menurutku menyanyikn lagu nasional telah memuaskan otak reptil sehingga mereka dapat mengikutinya dengan baik.  Tapi sekarang untuk lebih semangat lagi, aku mengintruksikan para siswa untuk menyanyikan lagu kebangsaan kelas VI A yang berjudul “marina menari di menara”. Lagu ini mengiringi ice breaking yang beberapa hari ini kami lakukan. Betul dugaanku, mereka menyanyikannya dengan semangat. Saat ini aku sangat sadar, bahagia itu adalah ketika aku bisa membuat mereka bergembira dan mengukir senyum diwajah mereka.

Satu pelajaran penting yang kudapat dari mengajar hari ini adalah ketika kita memberikan kebaikan pada siapapun, maka kebaikan itu akan kembali kepada kita. Senyum manis yang kita ukir di wajah polos mereka akan mengukir bahagia dalam hati kita. Dan terakhir, ketika kita menyemangati orang lain, secara tidak langsung kita menyemangati diri sendiri. Kesempatan ini sungguh indah. Terima kasih ya Allah. Meski di awal semuanya terasa berat, namun ketika dijalani Engkau memberikan kemudahan bagi hambamu yang mau mencoba. Ya Allah, jadikan aku lebih baik kedepannya.

Advertisements

2 thoughts on “Senyummu bahagiaku

  1. Sya tidak akan pernah melupakan saat ibu mengajar di kelas saya , karena ibu guru yg baik dan yg slalu membuat saya tersenyum walau hanya tinggal 2 hari lg kita berpisah tapi ibu tidak akan pernah sy lupakan karena ibu adalah guru terbaik sayaa ! Saya harus tetap semangat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s