Langkah Awal Menuju Perbedaan

“Hidup itu pilihan”. Kita sering sekali mendengar kutipan ini. Memang dalam menjalani apapun, kita harus memilih apa yang akan kita lakukan. Kita mempertimbangkan apa yang akan kita perbuat untuk diri kita. Untuk masa depan kita. Untuk keluarga kita. Dan untuk Negara kita.

Tanggal 23 maret 2013, saya melangkahkan kaki ke SD negeri 3 Jampang. Sebagai mahasiswa SGI (Sekolah Guru Indonesia), saya akan magang disekolah tersebut. Tidak hanya sendiri, saya ditemani oleh dua rekan saya yaitu kak Chica dan kak Mar’ah.

Selama perjalanan terfikir dalam benak saya, “apa yang akan saya lakukan disana nantinya?” ini pengalaman pertama saya menjadi guru. Sebentar lagi saya akan menjadi orang yang menyebutnya “pahlawan tanpa jasa”.

Ada kecemasan dalam diri saya. Saya sama sekali tidak memiliki keterampilan menjadi guru karena saya memang tidak berasal dari latar belakang keguruan. Tapi inilah pilihan saya. Saya sudah memutuskan untuk saat ini mengabdi kepada Negara. Mungkin terlalu berat kata-kata yang saya gunakan. Baiklah, saya turunkan sedikit, saat ini saya sedang menjalani hal yang berbeda dari rutinitas “perkuliahan farmasi” yang pernah saya jalani. Saya ingin mencari sesuatu yang mungkin nanti tidak akan lagi saya dapatkan. Inilah saatnya saya menikmati masa muda saya. Masa yang takkan terulang lagi jika manisnya tidak saya dapatkan sekarang.

Memang cara kita menghabiskan masa muda itu berbeda-beda. Dan inilah cara saya. Ingin menjadi seorang guru dipelosok yang saya tidak tahu sama sekali rimbanya. Mengabdi kepada sekolah yang masih belum terjamah oleh indahnya pendidikan. Semoga dalam waktu setahun nantinya, saya bisa jadi seorang guru yang bisa menginspirasi murid saya. Semoga Allah memudahkannya.

Kembali pada topik pertama, saya magang disekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari BPI (Bumi Pengembangan Insani) tempat saya dan teman-teman lainnya ditempa. Cukup berjalan lebih kurang 5 menit, kami para “pencari cinta anak SD” sampailah di bangunan yang akan menjadi tempat kami mengaplikasikan ilmu yang baru kami dapatkan. Semoga ini berguna sebelum kami dilempar ke wilayah terpencil negeri. Ke pelosok “surga Indonesia” nantinya  semoga.

Sesampainya di sekolah yang kami tuju, ternyata belum ada kehidupan disana. Lebay saya mengekpresikannya. Maksudnya disekolah itu aktivitas belajar mengajar belum dimulai. Saya melihat HP untuk melihat jam berapa sekarang. Ternyata masih pukul setengah tujuh lewat lima menit. Saya tersenyum. Kamilah yang datang terlalu cepat. Tapi saya cukup senang di hari pertama saya akan memulai menjadi guru, saya telah datang lebih awal dari yang lainnya.

Saya menebar pandangan keseluruh lingkungan sekolah. Banyak susunan batu bata yang belum terbalut semen. Dinding  telanjang itupun belum beratapkan seng. Sebagian besar bangunan itu memang baru akan didirikan.  Tempat yang akan menjadi saksi bisu para pemimpin negeri akan dilahirkan.

Image

Image

Setelah saya mengabadikan gambar sekolah ini, saya pun berdiskusi dengan rekan tentang apa yang nantinya akan kami lakukan ketika para “pahlawan tanpa jasa” yang sesungguhnya telah datang. Setelah selesai menyusun strategi perang, saya pun hanya sibuk dengan HP. Melihat hasil jepretan kamera.

Singkat cerita, akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga.  Seorang lelaki paruh baya memakai batik datang dengan motornya. Dia mematikan mesin dan kemudian membuka ruangan kesekretariatan guru. Sepertinya bapak itu salah seorang guru disana. Tapi dia tidak melihat kearah kami. Tanpa fikir panjang kami pun segera permisi masuk keruangan tersebut dan memperkenalkan diri. Bibir bapak itu merekah penginsyaratan kami diterima dengan senang hati.

Disana kami juga bertemu dengan kepala sekolah. Lelaki yang juga berbaju batik itu menyambut kedatangan kami dengan tangan terbuka. Selain itu, kami berbincang-bincang dengan beberapa guru. Semua gurunya memang baik. Tapi yang paling baik menurut saya adalah pak Wawan, sosok yang cukup memiliki pengaruh disekolah itu. Lelaki berkacamata itu bersedia membantu kami dan meminta kami untuk melaporkan apa saja nantinya yang tidak mengenakkan yang kami terima selama magang disekolah tersebut.

ImageImage

Untuk menentukan kelas mana yang akan kami ajar, maka observasi ke semua kelas pun kami lakukan. Dengan banyak pertimbangan maka kami memutuskan untuk mengajar dikelas enam. Kelas enam terdiri dari dua kelas. Kelas A dan kelas B. Saya dikelas A dan kak mar’ah di kelas B. Sedangkan kak chica mengajar di gabungan dua kelas ini. Jatah mengajarnya telah kami atur sedemiakian rupa.

Pak guru yang menjadi wali kelas A masih muda. Lelaki yang kata teman saya “manis” itu telah mengajar sejak tahun 2006 di sekolah itu. Selama 21 hari nanti, setiap hari saya akan mengambil alih dua jam mata pelajaran jatah bapak tersebut. Dia menerimanya dengan senang hati.

Untuk penulisan RPP, tentu saja  saya harus tahu sudah sejauh mana masing-masing pelajaran itu telah dipelajari. Hal ini penting saya ketahui agar saya tidak mengajarkan kembali materi yang telah diajarkan. Karena saya tidak mau terlalu lama mengganggu bapak yang sedang mengajar itu, jadi saya hanya meminta no HP nya agar nanti saya bisa menanyakan hal tersebut melalui alat komunikasi ini. Ketika saya bertanya apakah nanti bapak tersebut terganggu atau tidak ketika saya menghubunginya, bapak tersebut tersenyum dan menjawab bahwa dia takkan terganggu karena dia masih lajang. Saya pun tersenyum. saya mencoba untuk tidak ke-GR-an. Lajang maksudnya disini yaitu dia belum punya anak dan istri sehingga tidak akan terganggu jika saya menanyakan tentang materi ajar tersebut ketika dia sedang berada dirumah.   😀 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s