Bongkar rahasia microteaching perdana saya

Pada saat pertama kali mendengar microteaching, saya tidak tahu apa microteaching itu. Setelah saya mempraktekkannya, ternyata microteaching itu merupakan kegiatan  latihan mengajar dikelas untuk menilai kemampuan mengajar seseorang.

Microteaching pertama SGI diadakan tanggal 9-10 juli 2013. Saya mendapatkan giliran mengajar pada hari kedua. Sebagai seorang sarjana yang bukan lulusan akademi keguruan, tentu saja saya kaget begitu disuruh tampil dikelas sebagai guru. Ini pengalaman pertama saya. Sebenarnya bukan hal baru bagi saya maju bicara didepan kelas, karena ketika kuliah saya sebagai mahasiswa tentunya pernah presentasi. Tapi tampil dikelas sebagai seorang guru, itu cukup membuat saya canggung.

Tidak hanya masalah “akan menjadi guru” di kelas yang saya hadapi. Materi apa yang akan saya ajarkan pun saya juga bingung. “ Apa yang akan saya ajarkan?”

Setelah puas membolak-balik silabus, akhirnya saya memutuskan untuk mengajar kelas V untuk mata pelajaran IPA. Ketika saya menatap lembaran kopian yang berisi banyak kompetensi dasar, saya memilih sistem pernapasan sebagai materi yang akan saya ajarkan.

Untuk mengajar dikelas, saya sudah mempersiapkan materinnya. Saya juga menyiapkan video proses terjadinya pernapasan agar mudah dipahami.

Ketika waktu telah berpusat kepada saya, akhirnya saya “harus” maju ke depan kelas untuk mengajar. Ada sedikit kecemasan didalam diri. Tapi saya harus mencobanya. Bagaimana saya tahu apakah saya bisa jadi guru yang baik jika saya tidak mau mencoba.

Dengan rok hitam dasar dan kemeja kotak-kotak berwarna biru, hitam & putih saya melangkahkan kaki menuju meja depan kelas. Kayu berkaki empat yang biasa digunakan oleh para guru dan motivator hebat, sekarang sayalah yang mendudukinya. Saya mempersiapkan Notebook pinjaman dari teman satu kamar untuk memperlancar “latihan mengajar” pada hari itu.

Ketika berada di depan kelas, saya tahu tidak semua mata tertuju kepada saya. Memang saat itu jam menunjukkan sekitar pukul 10.00. Saya kurang tahu pasti pas nya pukul berapa. Tetapi karena kegiatan microteaching ini telah dilakukan dari kemarin, jadi melihat teman mengajar di depan kelas bukanlah menjadi hal yang menarik. Saya sangat sadar akan hal itu. Tetapi, tetap saja saya gugup  

Saya diberikan waktu mengajar 15 menit.  Detik-detik pertama, saya terlebih dahulu menyapa semua teman yang sekarang berpura-pura menjadi anak SD. Ketika saya mengucapkan “ Pagi!”, anak-anak juga harus menjawab “Pagi!”. Dan ketika saya bertanya “ Apa kabar siswa cerdas?”. Anak-anak harus menjawab “ Alhamdulillah, luar biasa, saya cerdas!”. Jawaban sapaan ini telah saya instruksikan pada sebelumnya. Penyampaian yang cukup terbata-bata dan diiringi dengan senyuman yang terukir ketika saya mulai tidak percaya diri. Tidak apa-apa. Ini langkah awal saya menjadi guru hebat.

Sapaan awal telah lewat, selanjutnya saya memutarkan sedikit cerita inspiratif berdurasi empat menit lewat beberapa detik. Cerita ini memberikan nasehat bahwa sesulit apapun hidup, kita harus tetap menghadapinya dengan senyuman. Karena, meskipun kita menangis, hidup itu akan tetap dilalui. Motivasi ini saya berikan agar semua anak yang belajar dikelas, meskipun memiliki masalah, tapi harus tetap tersenyum agar semua pelajaran dapat diserap dengan baik. Tetapi sepertinya bagi teman-teman yang berperan sebagai anak SD, saya tahu ceriat ini sangat tidak menarik bagi mereka. Tapi ya sudahlah. Saya sudah mencoba.

Berbeda dari teman-teman lain, saya tidak memberikan ice breaking. Saya langsung saja masuk ke materi ajar karena saya fikir waktu sudah tidak cukup lagi.

Ketika  saya mengajar, saya masih belum bisa menguasai kelas. Saya hanya berdiri di depan kelas menjelaskan materi tentang sistem pernapasan. Saya belum bisa mengajak murid-murid tertarik dengan pelajaran yang saya ajarkan. Hal ini dapat saya lihat dari kurangnya perhatian terhadap apa yang saya terangkan. Di akhir mikroteaching akhirnya saya tahu bahwa kata mereka materi yang saya ajarkan terlalu berat.

Ketika melihat video rekaman saat saya mengajar, saya hanya bisa tersenyum sendiri. Saya merasakan bahwa betapa beratnya perjuangan guru itu untuk mengajar. Betapa sulitnya guru itu mengendalikan murid-murinya yang banyak. Setiap kepala memiliki tingkah yang berbeda-beda. Suatu tantangan untuk bisa mengendalikan semua murid itu.

Saya akui, saat ini saya memang belum bisa karena belum terbiasa. Tapi suatu saat, saya akan bisa karena telah terbiasa.  J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s