Sehari bersama Zei Hanan

Mataku terbuka. Tidak seperti biasanya, sekarang  aku terbangun sendiri.  Sontak tanganku menjelajahi pulau kapuk mencari handphone ku. Mata ku menatap layar HP Samsung hitam itu. Pukul 03.50. Mengetahui bahwa sahur sudah bisa dilaksanakan, aku tidak mungkin lagi melanjutkan tidurku. Besok aku masih harus memenuhi kewajibanku sebagai muslim. Meski saat ini ku sangat sadar bahwa aku masih belum menjadi hambaNya seutuhnya, tapi puasa dan sholat tidak boleh kutinggalkan. Maafkan aku ya Allah.

Sahur selesai, waktu sholat subuh pun datang. Seperti biasa aku dan teman-teman di pavilium lima melaksanakan sholat berjamaah. Yang menjadi imam shoat adalah anggota pavilium yang mendapat tugas kebersihan pada hari itu. Jadi, semua kami pasti akan bergiliran menjadi imam.

Selesai sholat shubuh, ingin ku menuliskan cerita tentang apapun. Laptop sudah kubuka. Namun mataku tidak bersahabat. Bola mata ini begitu tergoda untuk menikmati lembut tempat tidur itu. Ku hanya berniat rebahan sebentar saja. Namun alhasil, aku malah baru terbangun pukul 07.10. ku ralat, aku dibangunkan. Sungguh tragis nasib jiwaku ini. batinku menjerit atas waktu yang telah kusia-siakan. Aku pun telah menganiaya ragaku sendiri. Tapi ya sudahlah, aku mencoba melupan hal itu. Ku fikir, nanti saja ku perbaiki kebiasaan tidur pagi yang telah terjadi selama tiga hari ini.

Tanpa banyak fikir, ku siapkan baju yang akan ku pakai untuk perkuliahan hari ini. Kata teman sih, hari ini kita kita kuliah performa, jadi boleh tidak memakai batik agar berbagai macam pakaian dapat dinilai kelayakannya. Aduh, kelayakan? Istilah macam apalah yang kutulis ini. Tapi terserahlah. Toh ini aku yang nulis. Jadi terserah tangankulah menari sekehendaknya. *peace 😀

Setelah menyetrika baju, tanpa ba-bi-bu lagi ku sambar handuk hijau tua yang tergantung di paku dinding. Kuguyur tubuh ku dengan air. Semua basah. Termasuk rambutku. Kesegaran menyelimuti tubuhku. Alhamdulillah, dinginnya air mengalirkan semua ketidakenakan kepalaku akibat tidur pagi tadi. Aku tidak perlu berlama-lama dalam ruangan sempit itu. Lima belas menit cukuplah.

Setiba dikamar yang kira-kira berukuran  4X6 meter itu, aku langsung mengenakan pakaianku. Kulihat jam, pukul 07.50. Aku segera mengikat rambut. Aku tidak mau terlambat apel pagi ini. Tapi ku cukup heran ketika ku menangkap sosok teman satu pavilium yang kebanyakan juga masih belum siap. Ternyata setelah kutanya, rupanya hari ini tidah ada apel pagi. Dan perkuliahan baru akan dimulai jam setengah Sembilan. Ah, masih lama menurutku. Ada ketenangan dalam hatiku karena ku tidak perlu buru-buru.

Ketenangan itu menyadarkan ku akan sesuatu. Hari ini di pavilium lima, hanya aku saja yang tidak memakai batik. Oh tuhan, aku baru sadar setelah aku sudah siap dengan pakaianku. Tidak mungkin ku menggantinya. Ya sudah lah. Aku nikmati saja.

Dikelas, semua cewek rupanya memakai batik. Karena perbedaanku sendiri, aku tidak tau apakah semua mata melihat pada apa yang ku kekenakan saat ini. Anak Jakarta mungkin akan berbicara seperti ini “ah, kepedean banget lu”. Namun cepat hatiku menjawab, “masalah buat lo?”. Jalan satu-satunya aku hanya mencoba untuk percaya diri. Lagi-lagi ku berguman dalam hati, “ Ya sudahlah.”

Sebelum perkuliahan dimulai, kami melakukan ice breaking terlebih dahulu. Sungguh menarik ice breaking hari ini. Semua dari kami membentuk lingkaran. Kemudian akan ada pena yang beredar. Jika instuktur bilang “berhenti”, maka siapa saja yang sedang memegang pena tersebut harus menirukan gesture tubuh atau cara bicara yang khas dari seorang teman SGI yang lain. Cukup mengocok perut pagi ini.

Ice breaking selesai, perkuliahan pun akan dimulai. Pada hari ini, perkuliahan performa akan di isi oleh Zei Hanan. Entah siapa dia, aku tidak tau. Aduh, memang lah aku ini. Banyak dunia luar yang belum terjamah.

Sebelum sosok pengajar itu masuk kelas, diputarlah video tentang profilnya. Masih terasa biasa. Tidak lama kemudian, masuklah seorang lelaki paruh baya mengenakan kacamata dengan paduan warna hitam dan merah maron. Cukup menawan. Pria ini memiliki tubuh yang kekar, masih muda. Tapi aku tidak menyangka dia kelahiran 1974. Dialah sang pengajar hari ini. Wow.

Lelaki berpenampilan menarik ini memberikan materi kuliah dengan cara yang menarik pula. Ditambah lagi suaranya enak didengar. Wajahnya juga enak dipandang. Beruntunglah wanita yang mendapatkan lelaki sukses ini. *entah apalah yang kubahas ini :p

DSC_0003

Intinya saja dari perkuliahan tadi, warna baju yang  kita pakai tidak boleh lebih dari tiga warna. Jika rok nya sudah bunga-bunga, maka baju dan jilbabnya harus polos.  Bagi laki-laki, warna kaos kaki harus disesuaikan dengan celana yang dipakai. Jika tidak ada, maka warna kaos kaki tersebut harus sama dengan warna sepatu. Untuk acara formal, sepatu yang dipakai sebaiknya yang berwana hitam bertali. Jika tidak ada maka boleh berwarna coklat tua. Itu yang disampaikan oleh pemateri yang berbaju abu-abu itu.

Pria yang pernah kuliah di jurusan bahasa inggris itu juga mengajarkan kami tentang cara duduk dan berjalan yang baik. Kami juga dilatih cara menyeimbangkan otak. Ya begitulah.

Untuk tulisan hari ini, aku cukupkan saja sampai disini. Kasur telah memanggilku. Aku harus segera memenuhi fitrahku sebagai manusia. Aku harus segera beristirahat karena telah memakai raga ini seharian. Aku takut dia merajuk dan jatuh sakit. Aku juga yang susah nantinya. Oke dah, itu aja. Besok sajalah kuceritakan yang lebih lengkapnya.

DSC_0011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s